Jakarta -
Belakangan muncul diskursus soal wacana penggabungan dua partai politik besar di Indonesia. Menanggapi perihal ini, Saan Mustopa, Wakil Ketua Umum Partai NasDem menyebut jika wacana seperti ini umum terjadi di Indonesia. NasDem, sebagai salah satu partai nan disebut bakal melakukan fusi tersebut belakangan membantah wacana ini.
Merangkum detikcom, wacana ini diduga mencuat berdekatan dengan agenda pertemuan antara pembesar kedua partai tersebut ialah Surya Paloh dan Prabowo Subianto. Meski Saan mengamini adanya pertemuan antara kedua tokoh tersebut, Saan tidak mengetahui secara pasti apa pokok-pokok perihal nan didiskusikan.
"Saya tidak tahu persis ya mengenai dengan soal pertemuan, apalagi mengenai dengan soal substansi dari pertemuan tersebut apa saja nan dibicarakan. Kalau soal pertemuan antara ketua umum ya Pak Surya dengan Presiden Pak Prabowo mungkin saja itu ada lantaran memang NasDem bagian dari partai koalisi. Partai ini kan bagian dari koalisi pemerintahan," kata Saan Mustopa dikutip dari detikNews, Senin (13/4).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal wacana penggabungan, Saan Mustopa menjelaskan lebih lanjut jika perihal tersebut kudu dibekali dengan sejumlah pertimbangan. Saan mengatakan jika setidaknya ada 3 perihal nan perlu dibahas ialah ideologi, eksistensi, serta identitas masing-masing partai.
"Karena membangun alias mendirikan partai itu para pendiri partai masing-masing tentu punya idealisme punya buahpikiran punya pendapat ideologi dalam konteks nan berbeda-beda, nah ketika misalnya rencana alias ada wacana mengenai dengan fusi, aspek itu juga kan perlu kudu kita pertimbangkan, ideologi, identitas, eksistensi masing-masing partai," kata Saan.
Lalu spekulasi apa nan bisa ditarik dari wacana ini? Apa saja argumen umum nan digunakan untuk memutuskan berasosiasi alias melebur dengan partai lain? Simak diskusinya berbareng Pakar Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno.
Membahas peristiwa nan terjadi di daerah, detikSore bakal mengulas lebih dalam soal praktik siber terlarangan nan dilakukan sejumlah WNA di Jawa Barat. Mengutip detikJabar, Petugas Imigrasi Kelas 1 Non TPI Sukabumi. menggerebek penginapan Grand Desa Resort area Cimaja, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi nan digunakan sebagai tempat aktivitas terlarangan tersebut.
Praktik pidana apa nan dilakukan oleh golongan WNA ini? Simak laporan langsung Jurnalis detikJabar selengkapnya.
Pernahkah detikers terpikir curhatan nan diutarakan bisa berubah menjadi puisi? Hal inilah nan dilakukan oleh Puisi On The Spot, jasa pembuatan puisi secara langsung berasas kisah, perasaan, alias curhatan visitor nan menggunakan mesin tik manual untuk memberikan nuansa autentik.
Konsep unik dibuat untuk menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap puisi dengan langkah nan lebih dekat dan personal. Menariknya, visitor tidak diberi patokan nilai dan bayar seikhlasnya.
Dalam proses membikin puisi, Founder Puisi On The Spot, Hamzah Muhammad menekankan pentingnya empati dibanding ego penulis, lantaran bagi sebagian orang, puisi bukan soal estetika semata, melainkan langkah sederhana untuk menenangkan hati dan merasa dimengerti.
Lalu, gimana proses imajinatif Hamzah dalam membikin puisi? Apakah di era sekarang puisi tetap punya ruang untuk didengar? Temukan jawaban selengkapnya hanya di segmen Sunsetalk.
Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari nan disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat nan tersedia.
"Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!"
(vys/gub)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·