Memainkan Peran Perkuat Hilirisasi Nasional

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Memainkan Peran Perkuat Hilirisasi Nasional PLTA Balangbano milik PT Vale Indonesia dan Pabrik pengolahan biji nikel PT Vale.(MI/Lina Herlina)

PEMERINTAH terus menempatkan hilirisasi sebagai bagian krusial dalam strategi meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam Indonesia. Melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), Presiden Prabowo Subianto mau mendorong optimasi kekayaan negara sekaligus memperbesar kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap pembangunan industri nasional.

Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8), Prabowo menjelaskan, Danantara mengemban dua agenda besar. Selain melakukan pembenahan terhadap struktur BUMN, lembaga tersebut juga diarahkan untuk mengubah untung perusahaan negara menjadi sumber pendanaan bagi investasi nan produktif.

Menurut Kepala Negara, pembenahan dibutuhkan lantaran tetap terdapat perusahaan negara nan mempunyai organisasi terlalu besar, tingkat efisiensi nan rendah, dan produktivitas nan belum optimal. Pada saat nan sama, untung BUMN diharapkan dapat diputar kembali untuk membangun industri dengan nilai tambah lebih tinggi di dalam negeri.

Agenda tersebut mulai direalisasikan melalui sejumlah proyek hilirisasi. Selama 2026, Danantara telah mengawali 26 proyek nan terbagi dalam dua gelombang. Sebanyak 13 proyek melakukan groundbreaking pada 6 Februari 2026, kemudian 13 proyek lainnya menyusul pada 29 April 2026.

Arah kebijakan pemerintah juga mulai diperluas. Tidak hanya memperkuat pengolahan bahan mentah alias penghiliran, Prabowo mendorong penguasaan sektor hulu melalui investasi dan kemungkinan akuisisi perusahaan-perusahaan unggulan di dunia.

Investasi tersebut ditujukan untuk mempercepat transfer beragam keahlian nan belum sepenuhnya dikuasai Indonesia. Dari perusahaan dunia nan diinvestasikan, pemerintah berambisi dapat memperoleh teknologi, kekayaan intelektual, keahlian manajerial, pengalaman industri, jaringan distribusi, sekaligus akses ke pasar internasional.

"Kita juga bakal membeli perusahaan-perusahaan terbaik di bumi untuk kita bisa dapat teknologinya, kita bisa dapat IP-IP-nya, kita bisa dapat manajemen nan terbaik, kita bisa dapat pasarnya, kita bisa dapat pengalaman mereka, sehingga kelak ekonomi kita bakal kuat," ujar Prabowo.

Dengan strategi itu, penguatan industri nasional tidak hanya bertumpu pada pengolahan kekayaan alam di dalam negeri. Pemerintah juga berupaya memperoleh teknologi dan kapabilitas industri dari perusahaan global. Dalam skema tersebut, kekuatan finansial BUMN dan Danantara diharapkan dapat menjadi salah satu penopang pembiayaan.

Mineral Dominan

Sektor mineral tetap menjadi penyumbang terbesar dalam investasi hilirisasi nasional. Pada triwulan I 2026, investasi hilirisasi mineral mencapai Rp98,3 triliun alias sekitar 67% dari total investasi hilirisasi nan mencapai Rp147,5 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut investasi hilirisasi pada periode tersebut menyumbang 29,6% terhadap keseluruhan realisasi investasi nasional. Adapun total investasi nasional tercatat Rp498,8 triliun.

"Hal nan perlu kami soroti adalah sektor hilirisasi sumber daya alam nan kontribusinya meningkat menjadi 30 persen dari total realisasi investasi pada triwulan I 2026, ialah sebesar Rp147,5 triliun," kata Rosan dalam rapat kerja berbareng Komisi XII DPR RI.

Realisasi investasi mineral tersebut terutama berasal dari komoditas strategis seperti nikel, tembaga, besi dan baja, bauksit, serta timah. Nikel menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp41,5 triliun alias sekitar 42% dari total investasi mineral.

Berikutnya, investasi tembaga mencapai Rp20,7 triliun, besi baja Rp17 triliun, bauksit Rp13,7 triliun, dan timah Rp2,5 triliun. Sementara nilai lainnya berasal dari komoditas seperti emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, pasir silika, serta logam tanah jarang.

Arus investasi tersebut sekaligus memperkuat posisi perusahaan tambang negara dalam rantai industri nasional. Di Grup MIND ID, misalnya, ANTAM berkedudukan dalam komoditas nikel dan bauksit, PT Freeport Indonesia pada tembaga, sedangkan PT Timah bergerak di sektor timah.

Dampak hilirisasi juga terlihat dari semakin tersebarnya aktivitas investasi ke beragam wilayah di luar Pulau Jawa. Sekitar 75% investasi hilirisasi berada di luar Jawa dan sebagian besar mengarah ke daerah-daerah penghasil mineral.

Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi dua wilayah nan berkembang pesat sebagai pusat pengolahan nikel sekaligus pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Pada triwulan I 2026, investasi di Sulawesi Tengah mencapai Rp32,1 triliun alias 6,4% dari total investasi nasional. Sementara Maluku Utara membukukan Rp25,2 triliun alias sekitar 5%.

Pemerintah juga mulai memperluas hilirisasi ke sektor di luar mineral. Beberapa komoditas nan menjadi sasaran pengembangan antara lain semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut.

"Kami juga terus mendorong hilirisasi komoditas strategis lainnya nan menghasilkan produk berbobot tambah tinggi, seperti semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut," ujarnya.

Untuk 2027, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp2.322 triliun. Target tersebut meningkat 13,8% dari sasaran investasi 2026 nan berada di nomor Rp2.041,3 triliun. Dalam pencapaian sasaran itu, sektor hilirisasi mineral tetap dipandang sebagai salah satu penopang penting.

Mandat MIND ID

Kebijakan hilirisasi tersebut melangkah beriringan dengan penguatan peran Holding BUMN Industri Pertambangan, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), dalam mengelola sumber daya mineral nasional.

Tugas MIND ID tidak sebatas menjalankan aktivitas pertambangan. Holding ini juga didorong meningkatkan produksi, mempercepat hilirisasi, memperbaiki tata kelola, serta membangun ekosistem industri nan saling terhubung. Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperbesar faedah ekonomi dari kekayaan mineral.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan potensi ekonomi industri pertambangan Indonesia tetap sangat besar. Pengelolaan mineral melalui perusahaan milik negara, menurutnya, dapat menjadi sarana untuk memperbesar pembuatan nilai ekonomi di dalam negeri.

"Optimalisasi penerimaan negara bakal semakin optimal melalui pengelolaan sumber daya alam nan dikelola langsung melalui entitas milik Negara. Dengan support kebijakan dari seluruh pemangku kepentingan, MIND ID berkomitmen terus memperkuat kontribusi bagi negara melalui pengelolaan sumber daya mineral nan semakin terintegrasi, penguatan hilirisasi, dan pengembangan industri berbobot tambah," jelasnya dalam RDP berbareng Komisi XII DPR RI, Jakarta, Selasa (15/9).

Kontribusi ekonomi MIND ID tercermin dalam Laporan Keberlanjutan 2025. Grup tersebut menghasilkan Generated Economic Value sebesar Rp185,16 triliun dan Distributed Economic Value Rp180,30 triliun. Adapun kontribusi langsung kepada negara melalui dividen, pajak, dan beragam tanggungjawab lainnya mencapai Rp32,82 triliun.

Untuk memperbesar nilai tambah nan tercipta di dalam negeri, MIND ID menjalankan sejumlah proyek strategis. Pengembangan tersebut mencakup pembangunan rantai industri bauksit, alumina hingga aluminium secara terintegrasi, pemurnian dan pencetakan emas logam mulia, serta pembangunan rantai pasok ekosistem baterai kendaraan listrik.

Di luar agenda hilirisasi, MIND ID juga menjalankan kegunaan strategis dalam menjaga pasokan energi. Melalui PT Bukit Asam Tbk, grup secara konsisten memenuhi dan apalagi melampaui tanggungjawab Domestic Market Obligation (DMO) batu bara bagi pembangkit listrik.

Maroef menyatakan kesiapan MIND ID didukung oleh sumber daya manusia, teknologi, pengalaman operasional, dan jaringan industri nan dimiliki. Kapasitas tersebut bakal digunakan untuk menjalankan mandat nan lebih besar dalam pengelolaan mineral nasional, sekaligus memperluas faedah ekonomi bagi masyarakat.

Penguatan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan penguasaan teknologi, serta memperbesar penerimaan negara dari pengelolaan sumber daya alam.

"Kami siap menjalankan mandat nan lebih besar dalam pengelolaan sumber daya alam nasional. Dengan sinergi antara pemerintah, DPR, dan MIND ID, kami meyakini kekayaan mineral Indonesia dapat menjadi fondasi nan semakin kuat bagi memperkuat kedaulatan ekonomi dan kemakmuran rakyat," tuturnya.

Dorong Nilai Tambah

Di sisi lain, perkembangan hilirisasi mineral sekarang memasuki fase nan dinilai lebih penting. Setelah beragam investasi masuk ke akomodasi pengolahan dan proyek baru mulai berjalan, tantangan selanjutnya adalah memastikan aktivitas tersebut bisa bergerak lebih jauh dari sekadar mengolah bahan mentah.

Periset Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan industri hilirisasi pertambangan Indonesia sekarang berada pada tahap nan lebih kompleks. Menurut dia, keberhasilan tidak lagi cukup diukur dari banyaknya smelter nan dibangun, tetapi juga dari keahlian akomodasi tersebut menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan terhubung dengan industri domestik.

"Nikel tetap menjadi tulang punggung, tetapi komposisinya mulai bergeser ke tembaga, bauksit, besi baja, dan mineral lainnya," kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (17/9).

Ia menilai realisasi investasi hilirisasi mineral sebesar Rp98,3 triliun pada triwulan I 2026 menunjukkan bahwa struktur investasi mulai bergerak lebih beragam.

Dari sisi ekonomi, hilirisasi telah mengubah sebagian pola produksi dan ekspor. Bahan tambang nan sebelumnya dikirim dalam corak mentah mulai diproses menjadi feronikel, mixed hydroxide precipitate (MHP), katoda tembaga, alumina, aluminium, hingga bahan baku baterai.

Kegiatan tersebut kemudian menciptakan kebutuhan terhadap beragam sektor pendukung, seperti listrik, pelabuhan, transportasi, konstruksi, dan tenaga kerja terampil. Pada saat nan sama, penerimaan negara dapat meningkat melalui pajak, PNBP, dan dividen.

Yusuf mencatat investasi hilirisasi pada 2025 mencapai sekitar Rp584 triliun. Pada tahun nan sama, MIND ID mencatat pendapatan sekitar Rp159 triliun serta memberikan kontribusi melalui pajak, PNBP, dan dividen nan nyaris mencapai Rp93 triliun.

Rantai Industri

Meski perkembangan tersebut menunjukkan kemajuan, Yusuf memandang pendalaman rantai industri tetap menjadi pekerjaan besar. Pada komoditas nikel, misalnya, sejumlah akomodasi pengolahan tetap menghasilkan produk antara seperti nickel pig iron (NPI) dan baja tahan karat. Sementara itu, pengembangan menuju prekursor, katoda, dan sel baterai tetap perlu diperkuat.

Kondisi tersebut membikin sebagian nilai tambah belum sepenuhnya berada pada tahap akhir pengolahan. Yusuf mencontohkan pengembangan teknologi high pressure acid leach (HPAL) di Pomalaa nan memungkinkan bijih nikel kadar rendah diolah menjadi bahan baku industri baterai.

Namun, menurutnya, akibat ekonominya bakal jauh lebih besar andaikan bahan tersebut dapat masuk ke industri lanjutan nan berada di Indonesia.

Keterkaitan antarindustri sudah mulai terlihat pada komoditas lainnya. Smelter tembaga Freeport di Gresik menghasilkan katoda nan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kawat dan pipa. Asam sulfat sebagai produk samping juga dapat diserap oleh industri pupuk.

Pada komoditas bauksit, pengolahan mulai dikembangkan dari bijih menjadi alumina dan kemudian aluminium. Yusuf menilai model terintegrasi tersebut perlu diperluas agar semakin banyak hasil tambang dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri.

"Semakin banyak produk tambang nan terhubung dengan industri domestik, semakin besar pula pengaruh bergandanya terhadap perekonomian," ujarnya.

Karena itu, perusahaan tambang dan holding seperti MIND ID mempunyai posisi krusial dalam memperdalam hilirisasi. Perusahaan tidak hanya perlu meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan beragam proyek dapat saling terhubung sehingga keluaran dari satu akomodasi menjadi input bagi industri berikutnya.

Dengan langkah tersebut, proses hilirisasi dapat berkembang menjadi ekosistem industri nan menyambungkan aktivitas dari hulu hingga hilir.

Kritik Capaian

Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi memberikan penilaian nan lebih kritis. Ia mengatakan perkembangan hilirisasi sejak mulai didorong pada era pemerintahan Joko Widodo hingga sekarang tetap belum menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemanfaatan sumber daya alam dan peningkatan nilai tambah.

Fahmy menyoroti industri nikel sebagai salah satu contohnya. Menurutnya, perkembangan nan ada lebih banyak mencerminkan proses smelterisasi, ketika nikel diolah menjadi produk turunan awal sebelum dikirim ke Tiongkok untuk mendapatkan pengolahan lebih lanjut.

Menurut Fahmy, kondisi tersebut membikin porsi nilai tambah nan dihasilkan dari rantai industri tersebut lebih banyak dinikmati oleh negara nan melakukan proses lanjutan. Ia juga menilai hilirisasi batu bara tetap belum banyak berkembang.

Padahal, menurut Fahmy, hilirisasi sangat krusial untuk mengubah pola pemanfaatan sumber daya alam Indonesia nan selama ini condong mengambil komoditas kemudian menjualnya.

Ia menilai hilirisasi bakal memberikan faedah maksimal andaikan dua perihal dapat melangkah bersamaan, ialah peningkatan nilai tambah dan terbentuknya ekosistem industrialisasi dari hulu sampai hilir.

Sebagai contoh, pengolahan nikel idealnya tidak berakhir pada bijih alias produk awal, tetapi bersambung menjadi baja tahan karat, bahan baku baterai, hingga mendukung produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Jika rantai tersebut terbentuk, faedah ekonominya dinilai bakal semakin luas. Selain menghasilkan nilai tambah, industrialisasi dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan membantu menekan kemiskinan.

Peran MIND ID

Posisi MIND ID kembali menjadi sorotan dalam upaya memperpanjang rantai industri tersebut. Yusuf menilai holding pertambangan ini mempunyai peran krusial dalam mengintegrasikan beragam proyek sehingga hasil pengolahan mineral dapat diserap oleh industri berikutnya di dalam negeri.

Sementara itu, Fahmy menilai kontribusi MIND ID dalam mendorong agenda hilirisasi tetap perlu diperbesar.

"Paradigmanya tetap mencari mudah, gali-jual, tanpa ada nilai tambah sama sekali. Paradigma itu tetap melekat pada nyaris semua pengusaha tambang," kata dia. 

Menurut Fahmy, MIND ID semestinya dapat mengambil peran sebagai contoh bagi pelaku industri pertambangan lainnya dengan membangun rantai pengolahan nan betul-betul terhubung dari hulu hingga hilir.

Jika model tersebut sukses diterapkan oleh perusahaan negara, dia menilai perusahaan tambang swasta dapat terdorong untuk mengembangkan pola serupa.

Fahmy juga mengakui bahwa pengembangan hilirisasi memerlukan teknologi nan belum sepenuhnya dikuasai Indonesia. Namun, keterbatasan tersebut dinilai dapat diatasi melalui pengembangan teknologi secara konsisten dalam jangka panjang.

"Jadi masalahnya itu ada di keengganan untuk melakukan hilirisasi. Dan hilirisasi itu memang memerlukan teknologi, nan memang belum kita miliki. Tapi jika itu dikembangkan dalam waktu 5-10 tahun pasti kita bisa melahirkan teknologi nan dibutuhkan untuk hilirisasi tadi," tutur Fahmy.

Prospek ke Depan

Indonesia tetap mempunyai kesempatan besar untuk memperluas industri hilir berbasis mineral. Yusuf memandang kesiapan nikel, tembaga, dan bauksit sebagai modal krusial untuk mengembangkan elektrifikasi, industri aluminium, serta rantai pasok daya baru.

Namun, dia mengingatkan bahwa keberhasilan hilirisasi ke depan bakal ditentukan oleh sejumlah faktor, termasuk keahlian menghasilkan produk berkualitas, menjaga biaya daya tetap kompetitif, serta memastikan pengelolaan lingkungan dan limbah memenuhi standar industri.

Menurut Yusuf, kebijakan membatasi pembangunan smelter nikel baru dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan akomodasi nan telah tersedia. Investasi selanjutnya dapat diarahkan pada tahapan pengolahan nan menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.

"Beberapa tahun ke depan bakal menjadi fase krusial untuk memandang hasil dari strategi ini. Ukurannya bukan lagi berapa banyak smelter nan dibangun, tetapi seberapa jauh produk mineral Indonesia masuk ke industri manufaktur dalam negeri," ujar Yusuf.

Fahmy juga memandang prospek hilirisasi tetap terbuka, dengan catatan kebijakan dijalankan melalui peta jalan nan jelas dan konsisten. Menurutnya, Indonesia mempunyai untung lantaran ditopang kesiapan bahan baku mineral nan dapat menjadi dasar pengembangan industri domestik.

Jika pengembangan dilakukan secara berkelanjutan, industrialisasi berbasis sumber daya alam dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Bukan hanya melalui peningkatan nilai tambah, tetapi juga lewat pembuatan lapangan pekerjaan dan pengurangan kemiskinan.

Keberhasilan hilirisasi bakal ditentukan oleh sejauh mana mineral Indonesia dapat masuk lebih dalam ke rantai manufaktur domestik. Integrasi industri baterai, tembaga, aluminium, dan komoditas strategis lainnya menjadi bagian krusial agar kekayaan alam tidak berakhir sebagai bahan olahan, tetapi bisa menjadi fondasi bagi penguatan industri nasional. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia