Memahami Night Terrors pada Anak dan Cara Menyikapinya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Memahami Night Terrors pada Anak dan Cara Menyikapinya Ilustrasi(Magnific)

MELIHAT anak mendadak terbangun, menjerit, hingga panik di tengah malam tentu menjadi pengalaman menakutkan bagi orangtua. Kondisi ini kerap dikenal sebagai night terrors alias teror malam. Fenomena ini tergolong umum dan dialami hingga 7% anak berumur 1 sampai 12 tahun.

Saat mengalami night terrors, anak umumnya terbangun secara mendadak dalam kondisi sangat panik, bingung, dan susah ditenangkan, sebelum akhirnya kembali tertidur. Respons penanganan biasa terkadang tak mempan, apalagi bisa memperburuk situasi.

Apa Itu Night Terrors?

Night terrors adalah bagian berteriak, menangis, ketakutan, alias mengamuk saat tidur. Gangguan ini biasanya terjadi dua hingga tiga jam setelah anak tertidur, tepatnya pada fase tidur nyenyak (non-REM). Saat bagian berlangsung, anak terbangun sebagian dan area otak nan mengontrol respons fight-or-flight bekerja secara berlebihan.

Gejalanya meliputi duduk mendadak, melompat dari tempat tidur, berteriak, hingga meracau. Jantung anak juga bisa berdebar lebih sigap dan tubuhnya dibasahi keringat. Durasi bagian ini umumnya berjalan beberapa menit, namun dapat mencapai 30 menit.

"Ketika putri saya berumur sekitar 3 tahun, dia mulai mengalami night terrors. Dia terbangun sembari berteriak, menjerit, berkeringat, dan menangis, tanpa ada langkah nan jelas untuk menenangkannya. Butuh beberapa kali kejadian bagi saya, seorang master ahli tidur, untuk menyadari apa nan sebenarnya terjadi lantaran kejadian itu sangat mengganggu," ujar Dr. Matt Davis, MD, ahli tidur, mahir saraf, sekaligus Associate Medical Director di Sleep Dynamics, Neptune, New Jersey.

Kabar baiknya, Dr. Davis menegaskan bahwa night terrors umumnya tidak rawan dan jarang menandakan adanya masalah medis mendasar.

Beda Mimpi Buruk dan Night Terrors

Banyak orangtua menganggap night terrors sama dengan mimpi jelek biasa. Menurut Dr. Davis, mimpi jelek adalah mimpi nan mengganggu. Sementara itu, night terrors merupakan jenis gangguan tidur (parasomnia) di mana sebagian otak anak terbangun, tetapi bagian lainnya tetap tertidur. Anak-anak biasanya dapat mengingat mimpi buruk, tetapi tidak bakal mengingat bagian night terrors.

Faktor Penyebab

Kondisi ini erat kaitannya dengan riwayat family dan gangguan tidur lainnya. Faktor pemicunya meliputi:

  • Genetika: Anak dengan orangtua biologis nan mempunyai riwayat melangkah saat tidur (sleepwalking) lebih berisiko. Pria alias wanita nan mengalami teror malam saat mini juga berisiko menjadi sleepwalker saat dewasa.
  • Kondisi Medis: Gangguan seperti obstructive sleep apnea (OSA) alias masam lambung (reflux) dapat membikin anak terbangun dan memicu teror malam.
  • Jadwal Tidur Tak Teratur: Kelelahan berlebih, tidur di tempat baru, alias sedang sakit.

Cara Menangani dan Mengatasi

Meskipun terasa susah bagi orangtua, para mahir menyarankan untuk tidak mengintervensi saat bagian terjadi.

"Jangan mencoba membangunkan anak Anda. Hal itu justru dapat mengganggu dan memperpanjang bagian tersebut," kata Dr. Zachary Schwab, MD, psikiater anak dan remaja di California Utara. Ia menambahkan, orang tua juga tidak perlu mencoba menjelaskan alias menalar kondisi tersebut kepada anak.

Fokus utama orangtua adalah menjaga keselamatan bentuk anak, seperti:

  • Memastikan anak tetap berada di tempat tidur.
  • Menjauhkan barang tajam di sekitar tempat tidur.
  • Menutup pintu kamar.
  • Memblokir akses ke tangga alias rintangan nan berbahaya.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga konsistensi agenda tidur harian. Jika agenda teratur belum berhasil, metode anticipatory waking dapat dicoba dengan langkah membangunkan anak secara perlahan 15-30 menit sebelum waktu biasanya teror malam terjadi.

Dr. Davis menyarankan orangtua untuk berkonsultasi dengan master jika gangguan tidur ini sudah sangat mengganggu kualitas hidup keluarga. Penggunaan obat-obatan sangat jarang dan sebaiknya dihindari hingga anak menginjak usia remaja, karena kebanyakan anak bakal sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. (Parents/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia