Jakarta -
Pemerintah mulai tancap gas merealisasikan proyek Giant Sea Wall (GSW) alias tanggul laut raksasa di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. Proyek nan digadang-gadang jadi tembok menghadapi banjir rob hingga penurunan muka tanah ini bakal membentang 575 kilometer (km), melintasi lima provinsi dari Banten hingga Jawa Timur.
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf, mengatakan proyek raksasa ini tidak bakal dibangun sekaligus, melainkan dibagi ke dalam 15 segmen agar pengerjaannya bisa dikebut secara paralel.
"Pembangunannya sendiri lebih kurang sekitar 575 km di Pantura Jawa. Tidak mini alias tidak pendek panjang ini. Kita bagi ke dalam 15 segmen di mana bisa menggunakan aktivitas pembangunan secara paralel," kata Didit usai Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura di Kantor Kementerian Perikanan dan Kelautan, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, proyek tetap berada di tahap perencanaan. Pemerintah mau memastikan proses perencanaan dan persiapan melangkah beriringan sebelum masuk ke tahap bangunan fisik, meski waktu groundbreaking belum bisa dipastikan.
"Oleh lantaran itu kami juga melaksanakan aktivitas perencanaan. Groundbreaking program dan groundbreaking prasarana agar melangkah bersama-sama," jelasnya.
Meski tetap tahap awal, progres di sejumlah titik sudah cukup maju. Didit mengungkapkan, perencanaan untuk wilayah Kendal, Semarang, dan Demak sudah nyaris rampung dan mendekati 80%. Tiga wilayah ini pun disiapkan sebagai prioritas awal pembangunan.
"Jadi dimasukkan sekarang kan sudah kita hitung besarannya untuk Kendal, Semarang, Demak sudah nyaris 80% itu perencanaan detailnya. Nah nan Pekalongan kita sedang melaksanakan mitigasi," ujarnya.
Untuk wilayah lain seperti Pekalongan, kajian tetap terus diperdalam, terutama menyangkut kondisi perairan dan karakter pantai agar pembangunan nantinya tepat sasaran.
"Tentunya perlu ada investigasi lagi untuk perairannya, pantainya dan sebagainya. Tetap kita lakukan. Sehingga penyelenggaraan aktivitas ini bisa dilaksanakan simultan sebetulnya. Makanya kami bangun dengan menggunakan langkah 15 segmen," sambung Didit.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan proyek ini bukan sekadar prasarana biasa, melainkan kebutuhan mendesak. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyebut ancaman di area Pantura sudah terlalu nyata untuk ditunda penanganannya.
"Ada 5 Provinsi, 20 Kabupaten dan 5 Kota di Pantura Jawa nan tentu berakibat langsung akibat tantangan dan ancaman alam nan kita hadapi bersama," ujarnya.
Menurut AHY, tanpa intervensi besar seperti giant sea wall, akibat nan ditimbulkan tidak hanya soal lingkungan, tapi juga bisa menggerus aktivitas ekonomi hingga membahayakan keselamatan warga.
"Ada 17 juta dari 52 juta masyarakat di sekitar Pantura, dan juga untuk melindungi ekonomi nan berkontribusi terhadap PDB secara nasional itu kurang lebih 27,53%. Jadi ini adalah sesuatu nan sangat strategis," tegas AHY.
Karena itu, proyek ini dimasukkan ke dalam prioritas utama pembangunan nasional, sejalan dengan visi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Itu kenapa salah satu bagian dari Asta Cita dan visi dari Bapak Presiden Prabowo Subianto apalagi diletakkan di prioritas nan utama pada program kerja prioritas nasional, PKPN," kata AHY.
Namun di kembali urgensinya, tantangan terbesar proyek ini ada pada pendanaan. Dengan perkiraan kebutuhan mencapai US$ 80-100 miliar alias sekitar Rp 1.389,92-1.737,4 triliun, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan APBN.
"Ini adalah proyek nan besar dikatakan mega proyek 15 - 20 tahun melibatkan sumber pendanaan nan beragam juga tentu tidak hanya dari APBN, tidak hanya dari fiskal kita tapi juga kombinasi dengan investasi, kerjasama alias public private partnership dalam dan luar negeri nan tentunya dalam semangat nan saling menguntungkan," pungkasnya.
(igo/fdl)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·