Media Sosial, Infiltrasi Budaya Global, dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Media Sosial, Infiltrasi Budaya Global, dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan

Media Sosial, Infiltrasi Budaya Global, dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan (Foto: Freepik)

Opini ditulis oleh: Dr. Wahidah R. Bulan, M.Si - Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

Dampak negatif menggunakan media sosial (medsos) secara berlebihan pada remaja (Gen Z) dibahas di banyak kesempatan dan forum. Umumnya menyoroti dari aspek kesehatan mental seperti munculnya low self esteem, kecemasan, dan stres; alias seperti dilansir JAMA Psychiatry (2019); tentang menguatnya kebiasaan membandingkan diri (social comparison), Fear of Missing Out (FOMO), cyberbullying, maupun tekanan ketenaran akibat mengonsumsi medsos lebih dari tiga jam per hari.

Meski problem pada aspek kesehatan mental perlu jadi perhatian, bagi Indonesia kondisi situasionalnya jauh lebih darurat dan serius. Membiarkan anak dan remaja berinteraksi terlalu lama dengan medsos dapat menyebabkan mereka kehilangan jati dirinya sebagai anak dan remaja Indonesia. Mereka tidak kabur dari Indonesia, mereka tetap tinggal di Indonesia, tetapi lifestyle dan performance mereka tidak lagi menunjukkan jika mereka (masih) remaja Indonesia.

Bagaimana perihal itu dapat terjadi? Ulasan dua kasus berikut memberikan gambaran perincian perihal tersebut.

Demam K-Pop dan Orientasi Agar Terlihat Modern

Meski demam K-Pop terjadi di seluruh dunia, antusiasme fans K-Pop Indonesia tidaklah biasa. Pasar K-Pop di Indonesia diidentifikasi sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara (Bodden, 2005). Indonesia menjadi konsumen terbesar K-Pop di dunia. Pada tahun 2024 penjualan produk K-Pop di Indonesia menyentuh nomor 18,47% (tertinggi di dunia) (Bintang Ridzky Alfathi, 20 Juni 2025). Pada tahun 2023 Indonesia didapuk sebagai tuan rumah untuk 44 konser dan fan meeting K-Pop.

Bayangkan berapa banyak jumlah rupiah nan beranjak dari kocek remaja Indonesia ke industri musik Korea. Uang itu dikeluarkan para pemuda Indonesia nan belum bekerja (pelajar dan mahasiswa), apalagi tidak sedikit nan menggunakan duit pinjaman online sebagai sumber pendanaan (14 September 2023, INDEF Soroti Bahaya Anak Muda Pakai Pinjol Demi Beli Album K-Pop).

Kegandrungan pemuda Indonesia kepada K-Pop pun rupanya tidak melulu lantaran musik. Tetapi lantaran penampilan bentuk para aktor, pemandangan nan indah, style hidup glamor, dan keberhasilan para aktornya beradaptasi dengan kondisi kehidupan modern (Heryanto 2010, 220). Selain itu banyak remaja Indonesia nan menggandrungi K-Pop demi agar terlihat modern (Jung, 2021).

Pertimbangan mereka menggandrungi K-Pop sangat pragmatis. Semata mengandalkan kerasionalan individualistik (Rational Choice Theory: Coleman, 1989) nan bertentangan dengan jati diri masyarakat Indonesia nan komunalistik dan mengedepankan spirit collectivism. Karena itu kita kudu memandang demam K-Pop bukan hanya kegandrungan kepada tren musik, bakal tetapi par excellence tentang robohnya nilai-nilai keindonesiaan.

Fenomena Childfree dan Robohnya Nilai-nilai Keindonesiaan

Bagaimana nilai-nilai keindonesiaan terdegradasi akibat penyelundupan budaya dunia dapat kita lihat pada kejadian meningkatnya support Gen Z Indonesia pada childfree nan secara teoretis dapat dijelaskan melalui Teori Konstruksi Sosial (Berger dan Luckmann, 1990; sebagaimana ditulis Ritzer, 2021).

Realitas sosial dibangun melalui proses dialektis nan berjalan dalam tiga tahap, ialah eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.

Pada tahap eksternalisasi generasi muda Indonesia menemukan realitas baru (nilai dan praktik budaya global) seperti K-Pop, LGBT, mengerti agnostik, termasuk childfree di medsos. Diinisiasi sejumlah orang dan golongan dengan sangat atraktif dan menggunakan model penyampaian nan sesuai dengan interest dan kecenderungan Gen Z sehingga pesan merebut perhatian dengan mudah (McCombs & Shaw, 1972).

Bukan hanya itu, Gen Z disuplai jenis info mendalam lagi intens tentang childfree oleh para penganjurnya, nan menjadi semakin hidup dengan kehadiran peran influencer nan diposisikan sebagai role model. Gita Savitri, Cinta Laura, juga Ariel Tatum disebut oleh banyak Gen Z sebagai aspek nan menentukan kenapa mereka mantap mendukung childfree.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com