Jakarta, CNBC Indonesia - Media asing asal Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), tiba-tiba menyoroti dinamika hubungan antara pemerintah Indonesia dan golongan konglomerat nan kerap dijuluki "Sembilan Naga" alias "9 Naga". Menurut sejumlah analis nan dikutip media tersebut, lanskap hubungan antara negara dan pelaku upaya besar tengah memasuki babak baru seiring meningkatnya peran pemerintah dalam pengelolaan ekonomi.
Dalam laporannya "Are Indonesia's Prabowo and ultra rich '9 Dragons' on a collision course?", SCMP menjelaskan bahwa istilah "9 Naga" bukanlah golongan resmi, melainkan julukan nan telah lama digunakan untuk menggambarkan sejumlah family konglomerat terbesar di Indonesia. Mereka mempunyai upaya nan tersebar di beragam sektor, mulai dari perbankan, properti, kelapa sawit, pertambangan, hingga peralatan konsumsi.
SCMP menilai arah kebijakan ekonomi Indonesia belakangan ini menunjukkan peran negara nan lebih besar, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam dan penerimaan devisa hasil ekspor. Beberapa kebijakan nan menjadi sorotan antara lain penerapan sistem Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk mengelola ekspor sejumlah komoditas strategis.
Chief Investment Officer Four Capital Ricky Ho, nan dikutip SCMP, mengatakan praktik seperti under-invoicing dan transfer pricing memang menjadi perhatian pemerintah, khususnya pada sektor eksportir besar. Menurutnya, langkah pemerintah bermaksud memperkuat pengawasan terhadap arus devisa dan aktivitas ekspor.
Sementara itu, Executive Director Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai kebijakan tersebut dapat dibaca sebagai sinyal agar golongan upaya besar semakin selaras dengan arah kebijakan pemerintah. Namun, dia juga mengingatkan perlunya menjaga kepercayaan pelaku pasar agar tidak memicu kekhawatiran terhadap suasana investasi maupun arus modal keluar.
Di sisi lain, Profesor Universitas Melbourne Vedi Hadiz menilai hubungan antara negara dan konglomerat di Indonesia pada dasarnya tetap berkarakter saling membutuhkan. Menurutnya, golongan upaya besar tetap memperoleh sebagian besar pendapatannya dari aktivitas ekonomi di dalam negeri, sementara pemerintah juga memerlukan support sektor swasta untuk membiayai beragam program strategis. Ia menyebut hubungan tersebut sebagai corak "simbiosis" nan kemungkinan bakal terus berlanjut.
SCMP juga menyoroti instrumen Patriot Bonds, obligasi nan ditawarkan kepada sejumlah penanammodal lembaga dan golongan upaya besar. Program ini dipandang sebagian analis sebagai salah satu upaya memperluas partisipasi sektor swasta dalam pembiayaan proyek-proyek nasional, meski pelaksanaannya juga memunculkan beragam obrolan di kalangan pengamat ekonomi.
Secara keseluruhan, media tersebut menyimpulkan bahwa perubahan kebijakan ekonomi Indonesia mencerminkan upaya memperkuat peran negara dalam mengelola perekonomian. Namun, menurut para analis nan diwawancarai, hubungan antara pemerintah dan konglomerat besar diperkirakan tetap bakal terjaga lantaran keduanya mempunyai kepentingan nan saling berangkaian dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·