Ilustrasi(Antara)
PAKAR kebakaran rimba dan lahan Fakultas Kehutanan UGM Fiqri Ardiansyah, mengatakan banyaknya hotspot di area konsesi perlu menjadi perhatian. Sebab, area tersebut merupakan wilayah nan menjadi tanggung jawab pemegang izin.
“Apabila kebakaran terjadi di area konsesi, perihal tersebut dapat menunjukkan adanya ketidaktaatan alias persoalan dalam pengelolaan lahan nan perlu ditelusuri lebih lanjut. Penyebab kebakaran tetap perlu diidentifikasi secara spesifik untuk mengetahui gimana kebakaran tersebut bisa terjadi dan apakah terdapat kelalaian dalam pengelolaan area konsesi,” katanya di Yogyakarta, Kamis (3/9).
Faktor Terbukanya Akses ke Kawasan Lahan
Kebakaran nan terjadi secara berulang, ujarnya, sebenarnya juga dipengaruhi adanya kemudahan akses manusia masuk ke suatu kawasan. Ia menyebut area nan dapat dengan mudah dijangkau manusia mempunyai potensi lebih besar mengalami kebakaran lantaran adanya kemungkinan munculnya sumber api dari aktivitas manusia.
“Kalau sejauh nan pernah saya pelajari, salah satu aspek nan kemudian berpengaruh terhadap kebakaran berulang salah satunya adalah akses. Artinya, ada satu area nan punya akses dan bisa terakses oleh manusia. Kemudian kebakaran itu terjadi paling banyak di situ,” jelasnya.
Ia menambahkan kondisi tersebut semakin berisiko ketika memasuki musim kemarau, terlebih saat terjadi kejadian El Nino. Menurut Fiqri, El Nino bukan merupakan penyebab langsung kebakaran, tetapi berkedudukan dalam meningkatkan kerentanan bahan bakar terhadap api.
Penurunan curah hujan juga membikin vegetasi menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Kondisi tersebut juga terjadi pada ekosistem gambut nan telah mengalami degradasi dan kehilangan keahlian menyimpan air.
“Iya, peranannya pada bahan bakarnya. Ketika temperatur menjadi lebih tinggi dan curah hujan menurun, kondisi bahan bakar menjadi lebih kering dan rentan terbakar,” ujarnya.
Dikatakan ekosistem gambut mempunyai karakter nan berbeda dengan lahan mineral. Api pada gambut tidak hanya menyebar secara mendatar di permukaan, tetapi juga dapat menyebar secara vertikal hingga ke bawah permukaan. Kondisi tersebut membikin keahlian gambut untuk melakukan pemulihan secara alami sangat berjuntai pada tingkat keparahan dan riwayat kebakaran.
“Kalau kebakaran itu tingkat keparahannya tinggi, seed bank alias sumber bibit nan tersimpan di dalam tanah juga bisa ikut hilang. Selain itu, kebakaran dapat mengubah sifat fisik, kimia, dan biologi tanah gambut sehingga memengaruhi jenis tumbuhan nan bisa tumbuh kembali. Keberadaan pohon-pohon induk di sekitar area juga menjadi salah satu aspek krusial dalam proses regenerasi, lantaran sumber bibit bisa berasal dari jatuhan benih, dibawa oleh satwa, maupun melalui aliran air,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan gambut nan bisa menjaga keseimbangan ekologis dan ekonomi. Pengelolaan ideal perlu mempertahankan kondisi gambut agar tetap basah dengan memilih jenis tanaman nan adaptif terhadap kondisi tergenang. Tata air juga perlu dijaga dengan tidak mengekstraksi air secara berlebihan maupun membikin kanal nan dapat menyebabkan gambut mengering.
“Kalau secara idealnya pengelolaan gambut, kita kudu tetap menjaga kondisi gambut itu seperti kondisi aslinya. Artinya, dia kudu tetap selalu basah. Bagaimana kemudian seimbang antara ekologis dan ekonomi, salah satunya dengan memilih jenis-jenis nan adaptif terhadap genangan,” ungkapnya.
Fiqri menilai pola hotspot dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan prioritas pencegahan dan pengelolaan kawasan. Penelitian mengenai pola kebakaran krusial untuk mengetahui letak nan rawan sehingga intervensi dapat dilakukan secara lebih tepat. Pada lahan gambut nan telah mengalami kekeringan, misalnya, upaya seperti rewetting dan blocking dapat dilakukan untuk menjaga kondisi gambut tetap basah.
Pemetaan Aktivitas Manusia
Selain kondisi lingkungan, aspek sosial juga perlu dimasukkan dalam pemetaan kerawanan kebakaran. Pemantauan secara real time tidak cukup hanya memetakan letak terjadinya kebakaran, tetapi juga perlu memperhatikan aspek antropogenik, seperti aktivitas manusia dan potensi bentrok di sekitar kawasan.
“Jadi, gimana lebih ke hubungan bahan bakar kemudian interaksinya dengan sosial. Karena itu kan ada interaksi, dan itu juga kaitannya dengan bentrok nan terjadi di situ dan penerapan kebijakan,” jelasnya.
Fokus pada Ketahanan Ekosistem
Ke depan, menurut Fiqri, upaya penanganan karhutla perlu bergeser dari pendekatan nan hanya berfokus pada pemadaman menuju pencegahan dan peningkatan ketahanan ekosistem. Peningkatan kapabilitas masyarakat di sekitar area menjadi salah satu aspek penting, termasuk pemahaman terhadap early warning system, pengendalian penggunaan api, serta peningkatan patroli dan pemantauan kawasan.
“Dengan memahami karakter tiap wilayah, kita dapat menyusun strategi pengelolaan berasas tingkat kerawanannya. Pendekatan tersebut perlu mengintegrasikan kondisi bahan bakar, aktivitas sosial, potensi konflik, serta penerapan kebijakan sehingga pencegahan karhutla dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya. (AU/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·