Manusia Mungkin Bukan Tercipta di Bumi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Hutan kering dan gersang nan sudah ditebang pohonnya. Sumber: ChatGPT

Pernahkah kita bertanya, kenapa manusia menjadi satu-satunya jenis nan bisa menghancurkan habitatnya sendiri secara sadar?

Seekor harimau tidak menebangi seluruh rimba tempat dia hidup. Burung tidak merusak seluruh ekosistem nan menopang keberadaannya. Bahkan semut, nan hidup dalam koloni sangat besar, tetap beraksi dalam keseimbangan alam. Namun manusia berbeda. Kita membangun peradaban dengan mengorbankan hutan, mencemari sungai, mengubah iklim, dan mengonsumsi sumber daya jauh melampaui kebutuhan dasar.

Dari perspektif pandang filosofis, muncul pertanyaan nan terdengar absurd sekaligus menarik: apakah manusia betul-betul diciptakan untuk hidup selaras di Bumi? Atau justru kita bertindak seperti jenis asing nan belum memahami rumahnya sendiri?

Tentu secara ilmiah manusia berevolusi di Bumi. Namun sebagai metafora, pertanyaan tersebut membujuk kita merefleksikan satu perihal penting: kenapa pola pikir manusia sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip keseimbangan alam?

Psikologi evolusioner menjelaskan bahwa manusia mengembangkan kecenderungan untuk mengumpulkan sumber daya sebanyak mungkin demi memperkuat hidup. Pada masa nenek moyang pemburu-pengumpul, kecenderungan ini membantu manusia menghadapi ketidakpastian pangan dan ancaman lingkungan.

Namun bumi modern mengubah konteks tersebut.

Naluri nan dulu membantu memperkuat hidup sekarang berubah menjadi akumulasi tanpa batas. Kita tidak lagi mengambil secukupnya, tetapi sebanyak-banyaknya. Hutan ditebang bukan lantaran kebutuhan, melainkan demi untung nan terus bertambah. Laut dieksploitasi melampaui daya pulihnya. Tanah diperas hingga kehilangan kesuburannya.

Psikologi sosial menyebut kejadian ini sebagai self-interest bias, ialah kecenderungan perseorangan alias golongan untuk lebih memprioritaskan untung pribadi dibandingkan akibat nan dirasakan bersama.

Akibatnya, kerusakan lingkungan sering dianggap sebagai masalah orang lain, generasi lain, alias wilayah lain. Padahal pada akhirnya seluruh manusia hidup dalam sistem nan sama.

Terjebak dalam Kepentingan Diri Sendiri

Salah satu paradoks terbesar manusia adalah keahlian berpikir nan sangat maju justru sering digunakan untuk membenarkan kepentingan diri sendiri.

Dalam ilmu jiwa terdapat konsep cognitive dissonance nan dikembangkan oleh Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa ketika tindakan seseorang bertentangan dengan nilai nan diyakininya, dia bakal mencari pembenaran agar tetap merasa nyaman.

Contohnya, banyak orang memahami bahwa pencemaran lingkungan berbahaya. Namun mereka tetap membuang sampah sembarangan, menggunakan sumber daya secara berlebihan, alias mendukung praktik nan merusak alam. Untuk mengurangi ketidaknyamanan psikologis, mereka kemudian berkata:

"Kalau saya saja tidak bakal berpengaruh."

"Semua orang juga melakukan perihal nan sama."

"Itu tugas pemerintah."

Pembenaran semacam ini membikin perubahan menjadi semakin susah terjadi.

Pohon nan ditebang. Sumber: pengarsipan pribadi

Mentalitas nan Tidak Selaras dengan Alam

Psikologi lingkungan (environmental psychology) mempelajari hubungan antara manusia dan lingkungannya. Salah satu temuan krusial dalam bagian ini adalah bahwa manusia modern semakin mengalami keterputusan dengan alam (nature disconnection).

Kita tinggal di kota nan dipenuhi beton, menghabiskan waktu di depan layar, dan semakin jarang berinteraksi dengan ekosistem alami. Akibatnya, alam tidak lagi dipandang sebagai bagian dari diri kita, melainkan sekadar objek nan dapat dimanfaatkan.

Padahal dalam banyak kebudayaan tradisional, manusia dipandang sebagai bagian dari jaringan kehidupan nan lebih besar. Hutan bukan sekadar sumber kayu. Sungai bukan sekadar saluran air. Hewan bukan sekadar komoditas.

Ketika hubungan emosional dengan alam hilang, pemanfaatan menjadi lebih mudah dilakukan.

Kembali Menjadi Bagian dari Alam

Jika masalah utama kita adalah keterputusan dengan alam, maka solusinya bukan hanya teknologi, tetapi juga perubahan langkah berpikir.

Beberapa langkah nyata nan dapat dilakukan antara lain:

1. Menanam Pohon Asli Daerah

Banyak program penghijauan kandas lantaran menanam jenis nan tidak sesuai dengan karakter ekosistem setempat.

Menanam pohon original wilayah membantu menjaga keseimbangan ekologis, menyediakan kediaman bagi satwa lokal, serta mempertahankan identitas lingkungan nan telah berkembang selama ratusan apalagi ribuan tahun.

2. Merawat dan Melindungi Satwa Asli

Keanekaragaman hayati adalah fondasi ekosistem nan sehat. Setiap jenis mempunyai peran dalam menjaga keseimbangan alam.

Ketika satu jenis hilang, pengaruh domino dapat terjadi pada keseluruhan sistem kehidupan.

3. Meminimalkan Polusi

Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola limbah dengan baik, serta menghemat daya merupakan tindakan sederhana nan mempunyai akibat kolektif besar.

Teori ilmu jiwa perilaku menunjukkan bahwa perubahan mini nan dilakukan secara konsisten bakal membentuk kebiasaan baru nan lebih berkelanjutan.

4. Memanfaatkan Teknologi untuk Masa Depan nan Lebih Hijau

Teknologi bukan musuh alam.

Masalah muncul ketika teknologi hanya digunakan untuk meningkatkan eksploitasi.

Sebaliknya, teknologi dapat membantu menghasilkan daya terbarukan, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mengurangi emisi karbon, serta memantau kondisi lingkungan secara lebih akurat.

Pertanyaannya bukan apakah kita menggunakan teknologi alias tidak, melainkan untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan.

Jika Bukan Kita, Siapa Lagi?

Psikologi sosial mengenal konsep bystander effect, ialah kecenderungan seseorang untuk tidak bertindak ketika menganggap orang lain bakal melakukannya.

Fenomena ini sering terjadi dalam rumor lingkungan.

Kita berambisi pemerintah bergerak. Pemerintah berambisi bumi upaya berubah. Dunia upaya berambisi konsumen menuntut perubahan. Sementara konsumen berambisi pihak lain nan memulai.

Akhirnya tidak ada nan betul-betul bergerak.

Padahal setiap perubahan besar selalu dimulai dari perseorangan nan memutuskan untuk bertanggung jawab.

Jangan Menunggu Sampai Rumah Ini Runtuh

Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran air, dan krisis sumber daya bukan lagi ancaman masa depan. Semua itu sedang berjalan saat ini.

Psikologi mengenal istilah normalcy bias, ialah kecenderungan manusia untuk menganggap kondisi jelek tidak bakal betul-betul terjadi pada dirinya.

Bias ini membikin banyak orang menunda tindakan lantaran merasa semuanya tetap baik-baik saja.

Namun sejarah menunjukkan bahwa peradaban dapat runtuh ketika mengabaikan batas-batas ekologis nan menopang kehidupannya.

Bumi mungkin bakal tetap ada tanpa manusia. Tetapi manusia belum tentu dapat memperkuat tanpa ekosistem nan sehat.

Perbaiki Pola Pikir dan Mentalitas Kita

Masalah lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, ekonomi, alias kebijakan. Ini adalah persoalan psikologis.

Krisis lingkungan berakar pada langkah manusia memandang dirinya sendiri.

Selama kita menganggap diri sebagai penguasa alam, pemanfaatan bakal terus berlanjut. Namun ketika kita mulai memandang diri sebagai bagian dari alam, perilaku kita bakal berubah.

Abraham Maslow pernah menjelaskan bahwa manusia nan matang secara psikologis mempunyai keahlian melampaui kepentingan pribadinya dan berorientasi pada sesuatu nan lebih besar dari dirinya sendiri ialah aktualisasi diri. Dalam konteks hari ini, "sesuatu nan lebih besar" itu adalah keberlanjutan kehidupan di planet nan kita tempati bersama.

Mungkin manusia memang tercipta di Bumi. Namun perilaku kita sering kali menunjukkan seolah-olah kita adalah pendatang nan tidak memahami rumahnya sendiri.

Sudah saatnya kita berakhir hidup seperti jenis asing.

Karena pada akhirnya, kita hanya mempunyai satu rumah.

Dan jika bukan kita nan menjaganya, siapa lagi? Jika kita terus menunggu, mungkin suatu hari kelak tidak bakal ada lagi rumah nan tersisa untuk dijaga.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan