Ilustrasi(magnifik)
MINUM air putih sering dianggap sebagai salah satu kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan ginjal. Namun, kebutuhan cairan setiap orang rupanya tidak selalu sama. Anggapan bahwa semua orang wajib minum delapan gelas air putih setiap hari tidak sepenuhnya tepat lantaran kebutuhan cairan dapat dipengaruhi usia, ukuran tubuh, aktivitas, cuaca, hingga kondisi kesehatan.
National Kidney Foundation (NKF) menjelaskan bahwa tidak ada patokan tunggal mengenai jumlah air nan kudu diminum setiap orang. Kebutuhan cairan dapat meningkat ketika seseorang berolahraga, bekerja dalam kondisi panas, banyak berkeringat, mengalami muntah alias diare, maupun berada dalam kondisi tertentu nan menyebabkan kehilangan cairan lebih banyak.
Sementara itu, National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebut bahwa orang dewasa nan sehat dapat mencoba minum sekitar enam hingga delapan gelas cairan berukuran 8 ons per hari. Namun, jumlah tersebut bukan nomor absolut untuk semua orang. Kebutuhan dapat berubah sesuai kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.
Air mempunyai peran krusial dalam membantu ginjal menjalankan fungsinya. Ginjal menyaring darah dan membuang limbah serta kelebihan cairan melalui urine. Ketika tubuh mengalami kekurangan cairan, aliran darah ke ginjal dapat terganggu. Dehidrasi berat apalagi dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
Kecukupan cairan juga berangkaian dengan akibat batu ginjal. Air membantu membikin urine lebih encer sehingga kristal pembentuk batu tidak mudah berkumpul. Selain itu, peningkatan produksi urine dapat membantu mengeluarkan kuman dari saluran kemih.
Salah satu langkah sederhana untuk memperhatikan kondisi hidrasi adalah memandang warna urine. Urine berwarna kuning muda alias relatif cerah umumnya menunjukkan tubuh mendapatkan cukup cairan, sedangkan urine nan lebih gelap dapat menjadi salah satu tanda bahwa tubuh memerlukan lebih banyak cairan.
Meski demikian, warna urine juga dapat dipengaruhi makanan, obat-obatan, dan kondisi tertentu sehingga tidak bisa menjadi satu-satunya parameter kesehatan.
Namun, minum air terlalu banyak dalam waktu singkat juga bukan kebiasaan nan baik. National Kidney Foundation memperingatkan bahwa konsumsi cairan secara berlebihan dapat menyebabkan kadar natrium dalam darah turun terlalu rendah alias hiponatremia. Kondisi tersebut dapat berbahaya, terutama jika seseorang memaksakan minum dalam jumlah sangat besar.
Kebutuhan cairan juga berbeda pada orang dengan penyakit tertentu. Pasien penyakit ginjal kronis stadium lanjut alias kandas ginjal, terutama nan menjalani dialisis, justru dapat diminta membatasi asupan cairan lantaran ginjal tidak bisa membuang kelebihan cairan dengan baik. Pembatasan tersebut kudu mengikuti pengarahan tenaga kesehatan nan menangani pasien.
Karena itu, menjaga kesehatan ginjal bukan berfaedah sekadar mengejar jumlah gelas tertentu setiap hari. nan lebih krusial adalah memenuhi kebutuhan cairan tubuh secara seimbang, memilih air putih sebagai sumber utama, serta menyesuaikan asupan dengan aktivitas, lingkungan, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Sumber: NIDKK
English (US) ·
Indonesian (ID) ·