Manajemen Grup Ritel Bongkar Rahasia Dapur-Pede Masuk Bisnis Toko Buku

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Bisnis ritel menghadapi tantangan nan tidak ringan di tengah perubahan pola shopping masyarakat. Persaingan nilai nan ketat membikin pelaku upaya kudu mencari langkah lain untuk menjaga pengguna tanpa mengorbankan keuntungan.

Direktur Supermarket Happy Harvest Meshvara Kanjaya mengakui margin dalam upaya supermarket memang tipis. Kondisi tersebut membikin perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan strategi potongan nilai untuk menarik konsumen, melainkan kudu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan profitabilitas.

"Margin supermarket itu tipis sekali. Jadi gimana kita membalancing jika istilah saya tuh gimana kita seperti main juggle, agar sales-nya nggak naik aja tapi marginnya hancur. Bagaimana kita menjaga balance itu kami mempunyai semboyan nan setiap pagi itu kudu kita dengungkan," kata Mey, sapaan akrabnya dalam konvensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026).

Untuk menjaga margin, Happy Harvest mengembangkan beragam program nan membikin pengguna datang bukan semata lantaran nilai murah. Program loyalty, Stamp Rally, aktivitas organisasi hingga pengalaman berbelanja menjadi bagian dari strategi tersebut.

Perusahaan juga memperkuat diferensiasi melalui produk lokal. Happy Harvest, misalnya, menyediakan puluhan jenis kopi Indonesia serta beragam teh lokal. Di gerai terbarunya, perusahaan apalagi mulai bereksperimen menjual udang hidup sebagai bagian dari konsep freshness nan mau ditawarkan kepada pelanggan.

"Kalau kita hanya berdagang dengan nilai diskon, diskon, diskon, how low can you go? Tapi kita kudu berpikir imajinatif membikin customer shopping beyond diskon, oh saya suka ke sini beyond just the products," ujar Mey.

Strategi tersebut juga menyasar golongan konsumen nan lebih spesifik. Happy Harvest menjalankan program seperti organisasi catur untuk anak-anak, program penduduk senior, hingga aktivitas nan mengangkat kuliner Indonesia. Pendekatan ini diharapkan membikin hubungan antara konsumen dan toko tidak berakhir pada transaksi.

Di sisi lain, perusahaan sebagai induk upaya juga memandang diversifikasi upaya sebagai langkah menghadapi tekanan industri ritel. Grup ini menaungi Star Department Store, Happy Harvest Supermarket dan Lintas Bookstore sehingga sumber pendapatannya tidak hanya berasal dari upaya department store.

"Kami memandang growth ini bukan sekadar sesuatu itu tetapi secara keseluruhan menurun tetapi selalu ada potensi. Nah kami dari tahun lampau tetap bisa growth single digit nan kita rasa banyak retailer struggling. Kami berterima kasih kami tetap bisa memperkuat lantaran kita menyasar segmentasi nan kita rasa cukup bisa memperkuat dengan kondisi saat ini," kata Finance Director Joysparks Group Deddy Wongso.

Selain itu, perusahaan tetap berani melakukan ekspansi meski margin ritel tertekan. Choice Sparks menyiapkan anggaran Rp150 miliar-Rp200 miliar per tahun selama dua tahun ke depan dan menargetkan jumlah gerai nan saat ini mencapai 10 unit dapat berlipat dobel dalam dua hingga tiga tahun.

"Retailer nggak bisa diam, memang kudu berubah. Ini nan dipahami oleh kami dan terus-menerus kudu berinovasi untuk bisa bertahan," kata Deddy.

Agresif Ekspansi Gerai Toko Buku

Keyakinan itu pula nan mendasari Joysparks Group juga garang mengembangkan sayap upaya lewat jaringan toko buku. 

Grup ritel tersebut bakal membuka Lintas Bookstore, lini upaya baru nan masuk ke pasar toko buku. Gerai perdana Lintas Bookstore ditargetkan beraksi sebelum akhir 2026 dan bakal berlokasi di area Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bookstore Director Lintas Bookstore Andi Yuktipada mengatakan keputusan masuk ke upaya toko kitab tidak semata-mata didasarkan pada kalkulasi pasar. Manajemen mempunyai kesukaan terhadap budaya membaca, sekaligus memandang adanya kesempatan upaya di tengah perubahan corak toko buku.

"Pertanyaan kenapa grup kita masuk ke toko buku? Itu kayaknya ketemu 10 orang 11 orang nanya. Betul, semua pasti bilang orang Indonesia nggak ada nan baca buku, ngapain buka bookstore gitu ya? Sebenarnya jawabannya ada dua. Pertama agak sentimentalisme bahwa kita di manajemen dan owner memang pembaca kitab dari lama sekali kami sangat suka baca buku," kata Andi dalam konvensi pers di Serpong, Selasa (18/8/2026).

Melemahnya industri toko kitab tidak otomatis berfaedah masyarakat sudah kehilangan minat terhadap buku. Perubahan justru terjadi pada langkah toko kitab membangun pengalaman dan menggabungkan produk kitab dengan kebutuhan style hidup konsumennya. Apalagi skor membaca PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia juga tergolong lemah.

"Jangan-jangan argumen itu adalah argumen kita sebenarnya kudu bikin bookstore, lantaran jika kita pragmatis terus lihat bahwa ya orang Indonesia nggak baca, terus negatif investment di industri toko kitab alias supply chain-nya ya publikasi penulisan semua gitu ya. Skor PISA kita kapan mau naik? apa harapannya buat bangsa kita. Jadi argumen pertama saya makanya saya bilang argumen pertama adalah sentimentalisme selain kita suka ya kita juga pengen sorong justru lantaran skor PISA kita rendah kita pengen Indonesia kembali membaca," ujar Andi.

Perusahaan bakal membawa konsep international lifestyle bookstore, dengan kitab menjadi bagian dari ekosistem style hidup. Produk nan ditawarkan juga bakal dikurasi berasas karakter pengunjung, termasuk stationery nan lebih collectible dan stylish.

Dari sisi produk buku, Lintas Bookstore bakal membawa koleksi dalam tiga bahasa, ialah Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Andi menyebut lini bahasa Mandarin menjadi salah satu diferensiasi nan mau dibawa, sementara produk lifestyle bakal menjadi bagian krusial dari posisi toko buku.

Gerai pertama Lintas Bookstore dijadwalkan datang di Kelapa Gading pada kuartal IV 2026. Masuknya Choice Sparks ke upaya kitab menjadi bagian dari strategi perusahaan memperluas portofolio, setelah sebelumnya mengembangkan Star Department Store dan Happy Harvest Supermarket.

"Store pertama ini kita bakal buka sebelum tahun ini berakhir. Jadi tetap ada berapa bulan nih ya, sebelum tahun ini berhujung eh mungkin bocoran dikit, udah boleh, toko pertamanya bakal ada di Kelapa Gading," kata Andi.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News