Makna Ayat Al-Quran di Pembukaan Muktamar ke-35 NU: Seruan Merawat Persatuan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Mars Syubbanul Wathon karya KH Abdul Wahab Chasbullah mengalun membuka rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Ponpes Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8).

Setelah lantunan lagu nan sarat semangat kebangsaan itu, suasana beranjak menjadi lebih hening ketika ayat-ayat Al-Quran dibacakan.

Dua ayat dari Surah Ali Imran, ialah ayat 102-103, dipilih sebagai pembuka nan seakan membawa pesan agar sebelum membicarakan arah organisasi, kepemimpinan, dan beragam persoalan umat, ada sesuatu nan lebih mendasar untuk diingat ialah ketakwaan dan persatuan.

Allah berfirman dalam Ali Imran ayat 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang nan beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah Anda meninggal selain dalam keadaan Muslim.”

Ayat berikutnya kemudian memberikan jalan gimana ketakwaan itu dijaga dalam kehidupan bersama:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpegang teguhlah Anda semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah Anda bercerai-berai.”

Pesan ayat 103 tidak berakhir pada larangan untuk berpecah. Al-Quran justru membujuk manusia mengingat kembali nikmat persatuan. Allah menggambarkan gimana orang-orang nan sebelumnya saling berbeda kemudian dipersatukan hatinya hingga menjadi saudara.

Kisah di Balik Ayat

Ilustrasi Al-quran. Foto: G.Tbov/Shutterstock

Surah Ali Imran merupakan surah Madaniyah. Dalam sejumlah riwayat asbabun nuzul, ayat 102-103 dikaitkan dengan perselisihan antara dua golongan besar kaum Anshar, ialah Aus dan Khazraj. Keduanya mempunyai sejarah permusuhan apalagi peperangan sebelum kehadiran Islam.

Dalam salah satu riwayat nan dinukil dalam kitab-kitab tafsir, perselisihan lama itu kembali tersulut ketika terjadi saling ejek dan membanggakan golongan masing-masing. Perselisihan tersebut apalagi nyaris berkembang menjadi bentrokan. Ketika berita itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW, turunlah ayat nan mengingatkan mereka tentang takwa, persatuan, dan nikmat persaudaraan nan telah diberikan Allah.

Konteks tersebut menjelaskan bahwa persatuan bukan sekadar keadaan tanpa konflik, melainkan sesuatu nan kudu dijaga ketika perbedaan mulai menarik manusia kembali kepada fanatisme kelompok.

Tarqib dalam "Wa‘tasimu Billahi Jami‘an"

Ada satu bagian nan menarik dari ayat 103, ialah susunan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا

Kata "jami'an" (جميعًا) berfaedah sebagai penegas bahwa perintah berpegang kepada hablullah bukanlah pekerjaan perseorangan nan dilakukan masing-masing orang secara terpisah. Ada penekanan pada kebersamaan: "berpeganglah kalian semua."

Di sinilah kekuatan retoris ayat tersebut. Perintah i‘tisam (berpegang teguh) diperkuat dengan "jami'an", lampau segera disusul larangan "wa la tafarraqu", jangan bercerai-berai. Struktur kalimatnya seperti mengikat dua sisi: perintah berasosiasi dan larangan berpecah ditempatkan berdampingan.

Dalam tafsir al-Tabari, "hablullah" dijelaskan antara lain sebagai kepercayaan Allah, perjanjian-Nya, dan sesuatu nan mengantarkan manusia kepada keselamatan. Al-Tabari juga menukil pendapat nan memaknainya sebagai Al-Quran. Sementara itu, sejumlah riwayat dari sahabat dan tabi'in menyebut hablullah sebagai Al-Quran, kepercayaan Allah, alias jamaah.

Dengan demikian, persatuan nan dimaksud ayat bukan sekadar berkumpul secara fisik. Ia mempunyai poros agar umat berasosiasi di atas agama, kebenaran, dan petunjuk Allah.

Tafsir Ibnu Katsir juga menekankan bahwa ayat tersebut memerintahkan umat untuk menetapi jemaah dan meninggalkan perpecahan. Persatuan menjadi jalan untuk menjaga kemaslahatan kepercayaan dan kehidupan bersama.

Sementara dalam penjelasan al-Tabari, perintah tersebut berangkaian dengan berpegang kepada kepercayaan Allah dan perjanjian-Nya serta berkumpul di atas kebenaran dan ketundukan kepada perintah Allah.

Maka ketika dua ayat ini dibacakan di awal Muktamar, pesannya terasa melampaui sekadar pembukaan seremoni.

Di tengah forum nan mempertemukan ribuan penduduk NU dengan latar belakang, pandangan, dan pilihan nan mungkin beragam, Al-Quran terlebih dulu mengingatkan tentang fondasi nan kudu dijaga, ialah takwa kepada Allah, berpegang pada tali-Nya, dan tidak tercerai-berai.

Seolah sebelum menentukan siapa nan memimpin dan ke mana organisasi bakal melangkah, ada pertanyaan nan lebih mendasar, bisakah perbedaan tetap berada dalam satu tali persaudaraan?

Sebab ayat itu sendiri mengingatkan bahwa persatuan adalah nikmat. Dan ketika nikmat itu telah diberikan, tugas berikutnya bukan menciptakannya kembali, melainkan merawatnya agar tidak berubah menjadi perpecahan

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan