Mahasiswa ITB Jadi Penulis Publikasi Internasional Bersama Grup Riset Peraih Nobel Kimia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Mahasiswa ITB Jadi Penulis Publikasi Internasional Bersama Grup Riset Peraih Nobel Kimia Deryl Hendson Limawan peraih Hadiah Nobel Kimia 2016, Prof. Ben L. Feringa.(Dok ITB)

MAHASISWA Institut Teknologi Bandung (ITB) menorehkan prestasi di kancah riset internasional. Deryl Hendson Limawan, mahasiswa Program Studi (prodi) Kimia ITB angkatan 2020 nan menempuh program fast track magister, sukses menjadi penulis utama (first author) dalam publikasi ilmiah nan terbit di Chemistry  A European Journal. Riset tersebut merupakan hasil kerjasama internasional berbareng golongan riset peraih Hadiah Nobel Kimia 2016, Prof. Ben L. Feringa, dari University of Groningen, Belanda.

Keberhasilan menembus jurnal bereputasi internasional ini merupakan hasil dari proses penelitian nan panjang, kerjasama lintas generasi mahasiswa, serta jejaring akademik nan terbangun selama bertahun-tahun.

Riset Estafet Lintas Angkatan

Menurut Deryl, sata dan temuan nan dipublikasikan dalam jurnal tersebut merupakan hasil penelitian nan dikembangkan secara berkepanjangan oleh beberapa mahasiswa Kimia ITB lintas angkatan. Riset ini diawali oleh Anthony Bongso (Kimia 2018), kemudian dilanjutkan oleh Bayu Dwiputra (Kimia 2019) dan disempurnakan oleh dirinya. Seluruh penelitian dilakukan di bawah pengarahan Dr. Robby Roswanda.

Kolaborasi internasional ini juga didukung oleh rekam jejak akademik Dr. Robby Roswanda nan pernah menjadi mahasiswa pengarahan Prof. Ben Feringa pada 2009. Hubungan akademik tersebut semakin diperkuat saat Prof. Feringa berjamu ke ITB pada 2020 untuk memberikan kuliah umum, nan kemudian membuka kesempatan kerja sama riset lebih lanjut.

Menggali Potensi Bahan Alam Nusantara 

Deryl menyebut, riset ini berasal dari pendapat almarhum Prof. Yana Maolana Syah nan memandang potensi besar pusat kiral pada struktur senyawa bahan alam Indonesia. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui isolasi senyawa turunan murni dari ekstrak tanaman Tephrosia vogelii. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahan alam Indonesia mempunyai potensi nan jauh lebih luas daripada sekadar dimanfaatkan untuk bioaktivitas, seperti pengobatan alias antikanker.

“Struktur kerangka bahan alam nan unik dapat dimanfaatkan sebagai building block untuk menyintesis molekul nan lebih kompleks. Ini membuka kesempatan baru dalam pengembangan material fungsional di masa depan,” jelasnya Rabu (3/6).

Melalui penelitian tersebut kata Deryl, tim sukses menyintesis molekul turunan nan berkarakter fotoaktif. Molekul ini bisa mengalami perubahan corak ketika terkena sinar dan mempertahankan konfigurasi tertentu setelah proses tersebut terjadi. Meskipun saat ini molekul nan dihasilkan baru bisa melakukan satu kali perubahan geometris dan belum berfaedah sepenuhnya sebagai molecular switch nan dapat bekerja bolak-balik, hasil ini menjadi langkah awal nan menjanjikan.

"Ke depan, pendekatan sintesis nan dikembangkan dalam penelitian ini berpotensi mendukung pengembangan material pandai untuk beragam aplikasi, termasuk komponen optoelektronik dan sensor medis," terangnya.

Kesempatan melakukan riset di University of Groningen juga memberikan pengalaman berbobot bagi Deryl mengenai budaya akademik dan riset di Eropa. Ia memandang bahwa ekosistem riset nan kuat dibangun melalui siklus nan berkepanjangan antara pendanaan, kualitas penelitian dan publikasi ilmiah.

“Riset nan berbobot menghasilkan publikasi nan berdampak, dan publikasi nan baik bakal membuka kesempatan pendanaan nan lebih besar. Karena itu, proses kurasi info dan penulisan publikasi dilakukan dengan sangat ketat,” tuturnya.

Deryl memaparkan bahwa proses penyempurnaan naskah publikasi tersebut memerlukan waktu revisi lebih dari enam bulan. Selama periode tersebut, tim melakukan beragam penambahan eksperimen, analisis, dan kalkulasi untuk memastikan kualitas hasil penelitian. Ia juga menilai bahwa budaya riset di Indonesia dapat semakin berkembang andaikan peneliti tidak hanya berfokus pada jumlah publikasi, tetapi juga pada kualitas dan dampaknya. Penggabungan hasil riset dari beberapa mahasiswa dalam satu publikasi nan terkurasi dengan baik dapat menghasilkan kontribusi ilmiah nan lebih kuat dan berakibat lebih luas.

Kualitas nan Mampu Bersaing di Tingkat Global

Deryl menambahkan, kerjasama dalam lingkungan riset internasional tentu menghadirkan beragam tantangan, termasuk perbedaan latar belakang pengetahuan dan pengalaman. Namun, tantangan tersebut dapat diatasi melalui kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan diri di luar tuntutan akademik formal.

“Kuncinya adalah terus membaca literatur, aktif berdiskusi, dan tidak ragu untuk bertanya. Dengan semangat belajar nan tinggi, mahasiswa Indonesia bisa bersaing dan memberikan kontribusi dalam riset tingkat dunia,” tandasnya.

Capaian publikasi internasional ini menjadi bukti bahwa mahasiswa ITB mempunyai kapabilitas dan daya saing nan kuat dalam ekosistem riset global. Melalui kolaborasi, ketekunan, dan budaya ilmiah nan berkualitas, generasi muda Indonesia terus menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan pengetahuan pengetahuan di tingkat internasional. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia