Ma’ruf Amin: Pemimpin NU Harus Mampu Al-Ishlah Wal Ishlah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Wapres ke-13 RI, Ma'ruf Amin, dan suasana rumah duka Mantan Menteri Agama, Suryadharma Ali. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin menilai kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) ke depan kudu bisa menjalankan prinsip al-ishlah wal ishlah, ialah menghadirkan perbaikan dan mendamaikan beragam persoalan di tengah umat.

Hal itu disampaikan Ma’ruf dalam aktivitas Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (8/8).

Menurut Ma’ruf, pemimpin NU mempunyai tanggung jawab menjaga umat agar tetap berada pada pemahaman keagamaan nan moderat. Ia mengingatkan adanya dua kecenderungan ekstrem dalam pemikiran keagamaan, ialah terlalu tekstual hingga jumud dan kehilangan akar tradisi hingga menjadi liberal.

"Umat itu ‘Anil-afkāril-munḥarifah, wa ‘anil-afhāmil-munḥarifah, ya. Baik itu kembali kepada tekstualis, terlalu tekstualis, jumud, ataupun dia sudah kehilangan akarnya menjadi liberal," kata Ma’ruf.

Karena itu, menurut dia, NU perlu menjaga posisi moderasi Islam. Pendekatan tersebut diarahkan agar umat tetap berada dalam koridor Islam nan rahmatan lil ‘alamin.

"Jadi dua kutub ini. Maka kita kepada cara-cara nan i’tidāl, nan tawasuthī, alias nan kita sebut sekarang namanya Islam wasathiyyah, Islam nan rahmatan lil ‘ālamīn. Ini menjaga umat agar dalam konteks, dalam koridor rahmatan lil ‘ālamīn," ujarnya.

Ma’ruf mengatakan tanggung jawab kepemimpinan NU tidak berakhir pada menjaga pemahaman keagamaan. NU juga kudu melakukan penguatan umat.

"Yang kedua, taqwiyatul-ummah itu membangun, melakukan penguatan umat (empowering). Makanya di dalam Qanun Asasi ada usaha-usaha," jelas Ma’ruf.

Ia menyebut penguatan tersebut antara lain dilakukan melalui pendidikan. Menurutnya, pendidikan NU kudu bisa mempertemukan penguasaan pengetahuan kepercayaan dengan sains dan teknologi.

Ma’ruf menjelaskan pendidikan perlu menyiapkan para ustadz nan mempunyai pemahaman kepercayaan kuat untuk menjaga umat. Pada saat nan sama, pendidikan juga kudu menghasilkan generasi nan menguasai sains dan teknologi untuk membangun kehidupan masyarakat.

"Menyiapkan orang-orang fakih (i’dādul-mutafaqqihīna fid-dīn), para ulama, untuk menjaga tadi, ḥimāyatul-ummah, agar tetap di dalam mengerti nan benar, langkah berpikir nan benar. Dan kemudian i’dādul-mu’ammirīnal-arḍa, nan bakal membangun bumi, ya, nan menguasai sains dan teknologi,' ujar dia.

Selain pendidikan, Ma’ruf menekankan pentingnya penguatan ekonomi umat. Ia mengingatkan bahwa tradisi pemberdayaan ekonomi telah dibangun para ustadz apalagi sebelum NU berdiri melalui Nahdlatut Tujjar. Menurutnya, penguatan pengusaha santri krusial agar aktivitas keumatan mempunyai pedoman ekonomi nan kuat dan bisa membiayai beragam aktivitas sosial.

Ma’ruf kemudian mengaitkan kepemimpinan NU dengan tanggung jawab kebangsaan. Menurut dia, aktivitas NU sejak sebelum kemerdekaan telah mempunyai komitmen terhadap bangsa dan tanah air. Ia mencontohkan tradisi Nahdlatul Wathan dan syair Ya Lal Wathan nan menurutnya mencerminkan kecintaan terhadap Indonesia.

Logo Nahdlatul Ulama (NU). Foto: Dok. Istimewa

Lalu, dia mengingatkan peran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam mengeluarkan Fatwa Jihad pada 22 Oktober 1945. Menurut dia, fatwa tersebut menjadi bagian krusial dari aktivitas kebangsaan NU dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

"Bahkan ketika Indonesia baru merdeka, ketika tentara belum terkonsolidasi, polisi belum terkonsolidasi, datang NICA kembali, pada tanggal 22 Oktober, maka Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari selaku Ar-Ra'isul Akbar membikin Fatwa Jihad, nan kemudian jadi Hari Santri Nasional," katanya.

Atas dasar itu, Ma’ruf membagi tanggung jawab kebangsaan NU ke dalam dua hal, ialah hifzhul-wathon alias menjaga tanah air dan imaratul-wathon alias memakmurkan negara. Menurut dia, menjaga tanah air juga berfaedah menjaga kerukunan dan mencegah beragam corak kerusakan, baik nan berasal dari dalam maupun luar.

"Maka aktivitas kebangsaan ini menurut saya ada dua nan kita kembangkan. Satu namanya ḥifẓul-wathon, menjaga tanah air. nan kedua adalah ‘imāratul-wathon, memakmurkan negara ini," tegas Ma'ruf.

Dengan prinsip al-ishlah wal ishlah, kepemimpinan NU diharapkan bisa menjadi kekuatan nan menjaga kerukunan, memperbaiki persoalan di tengah umat, sekaligus memperkuat kontribusi NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan