Ilustrasi(Dok Istimewa)
SEMANGAT menuntut pengetahuan rupanya tak mengenal usia. Hal itu dibuktikan oleh Suhaida STh, penduduk Batam nan sukses menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) Teologi di STT IKAT Jakarta dan mengikuti prosesi wisuda pada usia 72 tahun.
Di tengah dugaan bahwa pendidikan tinggi identik dengan usia muda, Suhaida justru menunjukkan proses belajar dapat dilakukan kapan saja. Baginya, kuliah bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan upaya memperdalam pemahaman untuk menunjang pelayanan nan selama ini dijalaninya.
“Saya mau pelayanan saya punya dasar pengetahuan kuat. Saya percaya Tuhan tetap kasih saya kesempatan belajar. Melayani Tuhan tidak ada pensiunnya,” ujar Suhaida, Jumat (12/6/2026).
Perjalanan menempuh bangku kuliah di usia senja bukan tanpa tantangan. Kondisi bentuk nan sudah tidak sekuat dulu menjadi salah satu halangan terbesar, terutama ketika kudu membaca beragam referensi dan bahan perkuliahan.
“Mata sudah mudah capek jika baca kitab tebal. Tapi saya coba pelan-pelan, dan pengajar banyak membantu,” katanya.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk menyelesaikan pendidikan. Kerja keras dan ketekunan nan dijalani selama masa studi akhirnya terbayar ketika dirinya dinyatakan lulus dan mengenakan toga wisuda.
“Saya berterima kasih sekali sampai tidak bisa bicara. Waktu dipakaikan toga, saya terharu. Ini bukan hanya ijazah, tapi angan nan akhirnya dijawab. Umur 72 tahun rupanya tetap bisa dipakai Tuhan,” ungkapnya.
Keberhasilan Suhaida juga didukung keluarga, gereja, dan lingkungan kampus nan terus memberikan motivasi selama proses perkuliahan. Menurutnya, support tersebut menjadi sumber kekuatan untuk terus memperkuat dan menyelesaikan studi hingga tuntas.
Melalui kisahnya, Suhaida mau menginspirasi generasi muda agar tidak menunda pendidikan serta mendorong siapa pun nan merasa terlambat untuk mengejar cita-cita.
“Buat anak muda, jangan tunda kuliah. Gereja perlu orang nan belajar dengan benar. Buat nan seusia saya, tidak ada kata terlambat jika Tuhan nan panggil. Kalau saya bisa lulus umur 72 tahun, kalian juga pasti bisa mulai sekarang. Tua itu umur, semangat jangan ikut tua,” pesannya.
Kisah Suhaida menjadi bukti bahwa pendidikan merupakan perjalanan seumur hidup. Wisuda nan diraihnya pada usia 72 tahun bukan hanya pencapaian akademik, tetapi juga simbol bahwa kemauan belajar, mengembangkan diri, dan mengabdi kepada sesama tidak pernah dibatasi oleh usia.
Dari Batam hingga Jakarta, perjalanan Suhaida menghadirkan pesan kuat bahwa usia hanyalah angka. Selama tetap ada tekad dan kesempatan, setiap orang tetap dapat bertumbuh, berkarya, dan memberi inspirasi bagi banyak orang. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·