Jakarta -
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengenang keputusan pemerintah melarang ekspor bijih nikel pada awal Januari 2020. Menurutnya, kebijakan tersebut sempat menuai cibiran hingga digugat ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Hal itu disampaikan Luhut saat menghadiri peluncuran dan bedah kitab berjudul 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di The Ballroom at Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
Luhut mengatakan, Bahlil Lahadalia nan saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) turut berkedudukan dalam lahirnya kebijakan larangan ekspor bijih nikel tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tetap ingat masa-masa awal larangan ekspor biji nikel, kami dicibir, kami ditekan dari beragam arah, kami digugat sampai ke WTO dan banyak nan bilang Indonesia tidak bakal sanggup. Ada nan menertawakan, namun sekarang saya kira Pak Bahlil tegap berdiri mengatakan kami bisa. Sebagian nan dulu mau menertawakan itu justru sekarang antre minta berjumpa dengan Pak Bahlil, mau ikut investasi," ujar Luhut.
Luhut menilai kebijakan larangan ekspor bijih nikel menjadi titik awal percepatan hilirisasi di Indonesia. Menurutnya, kebijakan tersebut sekarang telah membuahkan hasil nan signifikan.
Ia mengatakan nilai ekspor produk turunan nikel meningkat tajam. Kondisi itu juga mendorong pertumbuhan ekonomi di area industri seperti Morowali dan Halmahera Tengah.
"Morowali dan Halmahera Tengah nan dulu nyaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional, sekarang tumbuh dua digit nan menjadi bagian dari rantai pasok industri dunia," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Luhut juga mengapresiasi keterbukaan Bahlil nan mengakui tetap banyak pekerjaan rumah dalam penyelenggaraan hilirisasi, sebagaimana dituliskan dalam bukunya.
Menurut Luhut, Bahlil secara terbuka mengakui sejumlah persoalan nan tetap kudu dibenahi, mulai dari pembagian hasil untuk wilayah nan dinilai belum setara hingga tetap banyaknya pengusaha lokal nan menjadi penonton di daerahnya sendiri.
"Kemudian ada persoalan lingkungan, ada persoalan pekerja nan merenggut nyawa dan ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka. Mengkritik orang lain itu gampang. Mengkritik pekerjaan sendiri di kitab nan di cerita atas nama sendiri, itu nan jarang terjadi. Untuk itu Pak Bahlil, saya angkat topi pada Anda," ujar Luhut.
(hrp/fdl)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·