Jakarta -
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia buka bunyi soal kebijakan ekspor mineral. Bahlil memastikan pemerintah tetap melarang ekspor mineral mentah, ialah bijih bauksit dan konsentrat tembaga.
"Untuk ke depan, saya pikir kan sudah ada beberapa komoditas nan kudu kita tetap pertahankan pelarangannya. Di antaranya bauksit, kemudian tembaga," kata Bahlil usai aktivitas peluncuran dan bedah kitab '10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia, di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Langkah tersebut diambil untuk memastikan sumber daya alam Indonesia dapat diolah terlebih dulu di dalam negeri. Hal ini menjadi bagian dari strategi pemerintah mendorong program hilirisasi dan transformasi ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam rangka untuk melakukan transformasi ekonomi, memang kita tidak ada langkah lain, kudu ada industri dalam negeri," ujarnya.
Bahlil mengatakan dengan adanya industri pengolahan di dalam negeri, pemerintah tidak hanya meningkatkan nilai tambah dari suatu komoditas, tetapi juga memberikan akibat lebih luas terhadap perekonomian. Mulai dari menciptakan lapangan pekerjaan hingga mendorong pertumbuhan ekonomi di sekitar area industri.
Sebagai informasi, selain mempertahankan patokan pelarangan ekspor untuk komoditas bauksit dan tembaga mentah, pemerintah sedang mendorong pelarangan ekspor timah mentah.
Sebelumnya, Bahlil pernah mengatakan bakal mengkaji penghentian ekspor komoditas tambang mentah lainnya termasuk timah. Menurutnya, ekspor bahan mentah kudu digantikan dengan produk hasil hilirisasi di dalam negeri guna memperkuat struktur ekonomi nasional.
"Tahun lampau kita melarang ekspor bauksit. Tahun ke depan, kita bakal mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).
Bahlil mencontohkan pelarangan ekspor bijih nikel pada tahun 2018-2019 nan telah berbuah manis dengan total ekspor nikel mencapai 10 kali lipatnya pada periode 2023-2024.
"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya US$ 3,3 miliar. Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai US$ 34 miliar. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian nan menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi nan merata, menciptakan lapangan pekerjaan," jelas Bahlil.
Dibandingkan melakukan ekspor peralatan mentah, Bahlil mendorong pelaku upaya untuk membangun akomodasi hilirisasi di dalam negeri. Tujuannya agar nilai tambah komoditas mineral bisa dinikmati masyarakat
"Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," sambung Bahlil.
(igo/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·