Ketua Dewan Komisioner LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), Anggito Abimanyu, menjelaskan penetrasi asuransi di Indonesia tetap menjadi salah satu nan terendah di ASEAN. Saat ini penetrasi asuransi Indonesia baru ada pada kisaran 1,3 persen terhadap PDB.
Angka tersebut tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, Thailand apalagi Filipina.
"Penetrasi asuransi tetap di bawah 2 persen terhadap PDB, tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, nan pada umumnya telah menyelenggarakan program penjaminan polis terlebih dahulu," kata Anggito dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta Pusat pada Kamis (10/9).
Berdasarkan pemaparannya nan didasarkan pada Word Bank dan Allianz Global Insurance Report, Singapura memang tetap menjadi negara dengan penetrasi asuransi tertinggi di ASEAN pada 2025 dengan nomor 7,60 persen terhadap PDB.
Posisi tersebut disusun, oleh Thailand dengan tingkat penetrasi 5,10 persen dari PDB, Malaysia dengan 3,70 persen terhadap PDB. Barulah di atas posisi Indonesia secara langsung terdapat Filipina dengan penetrasi asuransi 1,30 persen terhadap PDB.
Di samping itu, tingkat literasi dan inklusivitas masyarakat Indonesia terhadap produk asuransi di Indonesia menurut Anggito tetap cukup rendah. Bahkan, posisinya tetap di bawah tingkat literasi dan inklusi sektor perbankan.
"Literasi itu 42,8 persen dan untuk inklusi 29,55 persen saja. Sangat rendah inklusi masyarakat Indonesia terhadap alias menggunakan produk asuransi,” ujarnya.
Untuk itu, dia menjelaskan nantinya Program Penjaminan Polis (PPP) menjadi salah satu langkah untuk mengatasi perihal tersebut.
"Untuk itu program penjaminan polis ini merupakan salah satu instrumen untuk memulihkan kepercayaan alias kepercayaan publik dan ini merupakan pekerjaan utama bagi kita semua," ujarnya.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·