Jakarta - Kelompok Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menggelar lokakarya berjudul 'Peran Perempuan Dalam Pembentukan Karakter Bangsa di Era Digital' di Ballroom Hotel Santika, Kota Medan. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat peran wanita dalam menghadapi dinamika transformasi digital nan kian kompleks.
Ketua Kelompok DPD di MPR, Dedi Iskandar Batubara dalam sambutannya sebelum membuka aktivitas menegaskan bahwa era digital telah membawa perubahan esensial dalam kehidupan masyarakat.
"Transformasi digital telah mengubah langkah kita berinteraksi, mengakses informasi, hingga membentuk opini. Media sosial sekarang menjadi ruang publik baru nan sangat menentukan arah nilai, budaya, dan karakter bangsa," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Minggu (12/4/2026).
Ia menekankan bahwa wanita mempunyai posisi nan sangat strategis dalam konteks tersebut. Sebagai madrasatul ula, pendidik pertama dalam keluarga, wanita berkedudukan krusial dalam membentuk fondasi karakter generasi.
Di era digital, peran itu semakin luas lantaran wanita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga tokoh sosial nan aktif dalam edukasi, advokasi, dan partisipasi demokrasi.
"Perempuan hari ini adalah penentu arah narasi publik. Perannya tidak lagi terbatas di ruang domestik, tetapi juga datang kuat di ruang digital," tambahnya.
Namun demikian, Senator asal Sumatera Utara ini juga menyoroti beragam tantangan nyata nan dihadapi wanita di ruang digital. Ia mengungkapkan bahwa wanita tetap rentan terhadap kekerasan digital seperti body shaming, misogini, serta standar dobel nan kerap muncul di media sosial.
"Algoritma digital seringkali mendorong sensasi dan viralitas, nan tidak jarang mengorbankan kebenaran dan etika. Ini menjadi tantangan serius dalam pembentukan karakter bangsa," tegasnya.
Di sisi lain, dia mengapresiasi meningkatnya kesadaran dan daya kritis perempuan, khususnya generasi muda, dalam menyikapi arus informasi. Kini, wanita semakin aktif sebagai produsen konten sekaligus penggerak opini publik, serta memanfaatkan media sosial sebagai sumber pengetahuan bagi family dan masyarakat.
Dedi juga menyoroti adanya tekanan sosial nan dihadapi wanita dalam mengekspresikan diri di era digital lantaran terdapat tarik-menarik antara keaslian identitas dengan ekspektasi sosial nan normatif. Hal ini, menurutnya, turut memengaruhi pembentukan karakter, baik pada perseorangan maupun generasi nan meneladani.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa wanita mempunyai peran kunci dalam family sebagai kurator informasi, memilah, memahami, dan mentransmisikan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, wanita menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem info nan sehat dan berkarakter.
Dalam konteks demokrasi, partisipasi wanita di ruang digital dinilai bisa memperkaya diskursus publik. Namun, tetap terdapat tantangan berupa perundungan, diskriminasi, dan delegitimasi terhadap bunyi perempuan, sehingga diperlukan penguatan kapasitas, perlindungan, serta solidaritas kolektif.
Sebagai langkah ke depan, Dedi menggarisbawahi pentingnya agenda strategis berupa penguatan literasi digital berbasis nilai dan etika, pembuatan ruang digital nan aman, inklusif, dan berkeadilan gender, serta optimasi peran wanita sebagai pemasok pembentukan karakter bangsa.
"Pembentukan karakter bangsa di era digital sangat ditentukan oleh kualitas peran perempuan. Perempuan adalah pilar utama dalam membangun ekosistem digital nan sehat dan berkarakter," pungkasnya.
Melalui lokakarya ini, diharapkan tercipta ruang konsolidasi gagasan, penguatan kapasitas, serta afirmasi peran perempuan, sehingga bisa menjadi kekuatan utama dalam menjaga arah moral dan karakter bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi.
Sebagai informasi, lokakarya nan dibagi dalam dua sesi obrolan ini diikuti oleh Pengurus Wilayah (PW) Angkatan Putri Al-Washliyah Provinsi Sumatera dan menghadirkan narasumber dari unsur ketua dan personil DPD di MPR, ialah Habib Ali Alwi, Elviana, dan Maya Rumantir. Selain itu, turut datang para master dan mahir dari akademisi dan pegiat pendidikan, ialah Asnil Aidah Ritonga, Zubaidah Khan, dan Meyniar Albina. (prf/ega)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·