Lintasarta - Starlink Mau Kerja Sama Gabungkan Jaringan Satelit dan Terestrial

Sedang Trending 19 jam yang lalu
Armand Hermawan, President & CEO Lintasarta (kanan)

Lintasarta, perusahaan teknologi bagian dari Grup Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), menjalin kerja sama dengan Starlink, jasa internet satelit orbit rendah Bumi (LEO) milik SpaceX. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Lintasarta memperkuat perannya sebagai Orkestrator Infrastruktur Industri Digital di Indonesia.

Pembahasan lanjutan kerjasama kedua perusahaan berjalan dalam pertemuan jejeran ketua Lintasarta dan Starlink pada Selasa malam, 25 Agustus 2026, di sela rangkaian aktivitas BATIC 2026 di Bali.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak mendiskusikan perkembangan kerja sama serta kesempatan pengembangan konektivitas berkapasitas tinggi, dengan konsentrasi pada gimana jaringan satelit dan prasarana terestrial bisa saling melengkapi untuk menghadirkan konektivitas nan lebih fleksibel, tangguh, dan mudah dikembangkan sesuai kebutuhan digital Indonesia nan terus tumbuh.

Armand Hermawan, President & CEO Lintasarta, di aktivitas CxO Forum Banking Update 2026 di Hotel Kempinski Jakarta, Rabu (13/5). Foto: Muhammad Fikrie/kumparan

President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, mengatakan, percepatan transformasi digital dan AI bakal mendorong kebutuhan konektivitas nan jauh lebih besar dan kompleks dibanding sebelumnya.

"Di era digital dan AI saat ini, konektivitas menjadi fondasi nan menghubungkan beragam aktivitas bisnis. Karena itu, dibutuhkan prasarana nan tidak hanya mempunyai jangkauan luas, tetapi juga handal dan bisa berkembang mengikuti kebutuhan," ujar Armand.

"Kolaborasi dengan Starlink membuka kesempatan bagi kami untuk menghadirkan konektivitas nan lebih adaptif terhadap kebutuhan Indonesia nan terus berkembang."

Starlink sendiri mengandalkan konstelasi satelit LEO untuk menghadirkan konektivitas internet berkecepatan tinggi dengan latensi rendah. Teknologi ini dapat melengkapi prasarana terestrial, terutama di wilayah dengan tantangan geografis alias keterbatasan prasarana jaringan.

Bagi Lintasarta, perpaduan kedua teknologi ini memberi pendekatan nan lebih elastis dalam membangun prasarana konektivitas: Memperluas jangkauan, meningkatkan keandalan jaringan, sekaligus memberi elastisitas lebih besar untuk menjawab beragam kebutuhan konektivitas digital di Indonesia.

Jejak sekelompok satelit Starlink SpaceX nan melewati Uruguay seperti nan terlihat dari pedesaan sekitar 185 km utara Montevideo dekat Capilla del Sauce, Departemen Florida, pada 7 Februari 2021. Foto: Mariana SUAREZ/AFP

Kerja sama Lintasarta dan Starlink sebenarnya bukan perihal baru. Kolaborasi ini telah dimulai sejak 2024 untuk mendukung kebutuhan konektivitas segmen enterprise di Indonesia, dan terus diperkuat seiring kedua pihak mengeksplorasi beragam kesempatan baru untuk mendukung kebutuhan konektivitas di beragam wilayah Indonesia.

"Lintasarta merupakan mitra krusial bagi kami dalam mendukung kebutuhan konektivitas di Indonesia. Dengan menggabungkan teknologi Starlink dan kapabilitas prasarana Lintasarta, kami memandang kesempatan untuk menghadirkan konektivitas nan lebih kuat, fleksibel, dan scalable bagi pelanggan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem digital Indonesia," ujar Jonathan Harrison, Global Supply Manager, Starlink.

Starlink terus memperluas kehadirannya di Indonesia untuk mendukung kebutuhan konektivitas di segmen residensial, enterprise, hingga wilayah terpencil. Teknologi LEO nan dimiliki Starlink dinilai melengkapi prasarana telekomunikasi terestrial serta memberikan elastisitas lebih besar dalam menghadirkan konektivitas di beragam kondisi geografis dan infrastruktur.

Lewat kerja sama strategis dengan Starlink ini, Lintasarta menegaskan kembali posisinya sebagai Orkestrator Infrastruktur Industri Digital nan menghubungkan connectivity, cloud, cybersecurity, collaboration-AI, dan beragam mitra ekosistem untuk membangun fondasi digital nan mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan