Likuiditas Bank Berlimpah Tak Selalu Kerek Kredit, Ini Penjelasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menemukan adanya persoalan pertumbuhan angsuran di Indonesia. Meskipun likuditas tengah melimpah di sektor perbankan, laju pertumbuhan angsuran tak bisa mengimbangi.

Direktur Riset bagian Keuangan, Ekonomi Digital, dan Ekonomi Syariah CORE Indonesia Etika Kryani mengatakan, tingginya likuiditas perbankan mulai merangkak naik sejak September 2025, saat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelontorkan penempatan saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah nan selama ini mengendap di BI senilai Rp 200 triliun ke Bank Himbara, plus Rp 100 triliun pada Maret 2026.

Deposito hingga info Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mengalami peningkatan drastis nan apalagi sudah tembus dua digit. DPK misalnya, dari Agustus 2025 nan hanya tumbuh di kisaran 8,51%, melejit menjadi 11,18%. Lalu, bersambung hingga Desember 2025 ke level 13,83%, dan Februari 2026 bertengger di level 13,18% dengan pertumbuhan simpanan 13%.

"Kondisi perbankan kita itu sebenarnya mengalami likuiditas nan cukup besar di mana ada surplus likuiditas sepanjang 2025, apalagi ketika Pak Purbaya itu menurunkan biaya dari BI ke Bank Himbara," kata Etika dalam aktivitas Quarterly Economic Review CORE Indonesia, Rabu (29/4/2026).

Saat likuiditas melimpah, pertumbuhan angsuran rupanya tak mengalami pertumbuhan nan seimbang. Pada September 2025, pertumbuhan angsuran secara tahunan hanya 7,70% dari bulan sebelumnya tumbuh 7,56%. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Januari 2026 ke level 9,96% dari Desember 9,63%. Namun kembali loyo pada Februari 2026 ke level 9,37% dan menjadi 9,49% pada Maret 2026.

"Ini grafiknya memperlihatkan likuiditas naik, tapi di satu sisi ketika likuiditas itu naik tidak diikuti pencairan ke sektor riil. Ini artinya pertumbuhan angsuran perbankan tidak mengikuti peningkatan likuiditas," kata Etika.

Indikasi tidak beriringannya antara pertumbuhan angsuran perbankan dengan makin naiknya likuiditas di perbankan kata dia juga tercermin dari malah makin merosotnya rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) perbankan. Pada Agustus 2025, levelnya tetap 86%, namun pada September 2025 menjadi 84,2%, lampau pada Desember 2025 sedikit naik menjadi 85,4% dan kembali merosot ke level 84,7% pada Februari 2026.

Lalu, undisbursed loan ataur angsuran menganggur tetap tak mengalami perubahan level nan signifikan, dari Agustus 2025 sebesar 22,5% menjadi 22,3% pada September 2025, dan justru tren naiknya ke November 2025 menjadi 23% sebelum akhirnya merosot ke level 21,9% pada Desember 2025 dan sedikit naik lagi menjadi 22,6% pada Februari 2026.

"Itu kita lihat dari sisi LDR turun, satu sisi lain undisbursed loan, nan menganggur, jadi ada permintaan tapi belum dicairkan justru meningkat, dan satu lagi ketika NPL dikatakan tetap kondusif 2,1% tapi ada kecenderungan naik," ucap Etika.

Etika mengatakan, angsuran UMKM juga tak mengalami pertumbuhan nan signifikan. Sejak September 2025, pertumbuhannya tetap di kisaran 0,2%, merosot dari bulan sebelumnya 1,3%. Lalu, terus merosot hingga negatif 0,3% pada Desember 2025, dan makin dalam menjadi minus 0,5% pada Februari 2026.

"Ketika biaya SAL tadi ditambah pemerintah, jika kita lihat justru pertumbuhan angsuran UMKM turun. Kalau kita lihay berasas POJK 19/2025 sebetulnya ada upaya pemulihan, alias memudahkan akses bagi mikro tapi kenyataannya itu tidak dilakukan oleh perbankan. NPL di UMKM juga mendekati 5%," paparnya.

Terlepas dari beragam info itu, sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengaku percaya diri, laju pertumbuhan angsuran alias pembiayaan tetap bisa mencapai kisaran 8-12% pada tahun ini.

Level pemisah atas itu lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan penyaluran angsuran pada tahun lampau nan sebesar 9,69% secara tahunan. Realisasi pada 2025 sebetulnya juga tetap lebih rendah dari periode 2024 nan bisa tumbuh 10,39%.

"Pertumbuhan angsuran 2026 bakal di kisaran 8-12% dipengaruhi sisi permintaan dan penawaran," kata Perry saat konvensi pers hasil rapat majelis gubernur BI, Rabu (22/4/2026).

Dengan rendahnya suku kembang kredit, Perry mengatakan, laju pertumbuhan angsuran per Maret 2026 juga sudah makin tinggi menjadi 9,49% dari bulan sebelumnya 9,37%.

Tingginya pertumbuhan angsuran ini menurutnya juga tak terlepas dari upaya bank untuk mengoptimalkan undisbursed loan nan sekarang tetap sebesar RP 2.527,46 triliun alias 22,59% dari plafon kredit.

"Dari sisi penawaran kapabilitas pembiayaan bank memadai DPK tetap tumbuh 13,55% pada Maret 2026," papar Perry.

(arj/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News