Lika-liku Para Pencari Kerja: Ngaku Sering Di-ghosting hingga Tak Cocok Gajinya

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Sejumlah pencari kerja antre masuk saat Mega Career Expo di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Mendapatkan kerja sesuai nan diinginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai cerita mulai dari di-ghosting saat proses rekrutmen berjalan sampai tetap adanya gaji di bawah standar bayaran daerah.

Fathur (23) nan merupakan lulusan Teknik Informatika salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jakarta Timur tahun 2026 mengaku sudah mengirim lebih dari 100 lamaran melalui portal pencarian kerja daring. Dari situ, dia kerap mengalami masalah nan sama ialah kerap tak diberi berita saat proses rekrutmen tetap berlangsung.

Alih-alih ghosting terjadi saat proses awal rekrutmen alias aplikasi, Fathur justru merasakannya ketika proses rekrutmen menunjukan dia lolos ke tahapan berikutnya.

“Misalnya, gue udah masuk ke tahap interview di HR, eh ujung-ujungnya malah di-ghosting. Terus ada juga nan nolak mentah-mentah, padahal jika dilihat, kebutuhan perusahaan sama skill gue tuh sebenernya relevan. Tapi ya gitu, tiba-tiba ditolak aja. nan paling sering ya itu tadi, di-ghosting pas udah masuk tahap interview, nggak ada berita lagi setelahnya,” kata Fathur kepada kumparan, Selasa (4/9).

Selain ghosting, Fathur juga kerap bingung dengan kriteria perusahaan nan kerap memasang syarat pengalaman 1 sampai 2 tahun kerja untuk para lulusan baru. Hal itu menurutnya tak masuk logika dan menjadi karena job mismatch nan dia rasakan.

“Terus ada juga posisi buat entry level, tapi syarat pengalamannya minimal 2 tahun. Kan nggak nyambung ya. Pengalaman setinggi langit tapi posisinya buat entry level, menurut gue sih agak kocak ya,” ujar Fathur.

Persoalan tak hanya sampai situ, Fathur juga membagikan pengalaman bahwa job mismatch juga terkadang terjadi berangkaian dengan tidak sesuainya penghasilan dengan standar bayaran daerahnya. Di tambah, jarak antara rumah dengan instansi cukup jauh sehingga ada kalkulasi bahwa penghasilan nan diberikan tak cukup untuk menutup kebutuhan transportasinya.

Dari pengalamannya tersebut, Fathur tak jarang menolak pekerjaan dari proses rekrutmen nan sudah menerimanya.

Pencari kerja antre saat mencari info lowongan pekerjaan pada aktivitas Job Fair Kendal 2026 di Kendal Sport Center, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

“Alasannya, sebenarnya jobdesc-nya sudah sesuai banget sama background gue. Tapi masalahnya ada di jarak instansi nan jauh banget. Terus apa nan dikasih (gaji) tuh nggak sesuai, nggak bisa nutupin biaya operasional gue jika kudu ke kantor. Fee-nya malah tergolong mini buat gue,” kata Fathur.

Terkait keselarasan kecakapan dan kriteria perusahaan, Fathur memandang ebenarnya pendidikan nan dia emban dari perguruan tinggi sudah cukup. Namun terkadang industri mempunyai kriteria nan cukup tinggi, sehingga ada ketidakselarasan keahlian organik sesuai pendidikan di kampus dengan industri.

Untuk itu, dia tak jarang juga tetap mengikuti kursus alias kelas-kelas peningkatan kecakapan secara mandiri.

“Tapi jika buat terjun ke industri, menurut gue belum cukup banget. Industri ini kan berkembangnya cepet banget, sedangkan apa nan dipelajari di kampus kadang belum sepenuhnya ngikutin tools, workflow, alias standar nan digunakan perusahaan sekarang. Jadi job seeker itu emang tetap kudu belajar mandiri, ikut pelatihan-pelatihan,” ceritanya.

Tak jauh beda, Salsa (23) nan merupakan lulusan Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) juga punya pengalaman serupa. Mulai dari ghosting saat proses rekrutmen sampai tawaran penghasilan nan tak sesuai.

Memang, Salsa bukan pertama kali bekerja lantaran sebelumnya sudah mempunyai pengalaman kerja di beberapa perusahaan. Namun, ketika mencari pekerjaan lain alias beranjak pekerjaan, dia kerap di-ghosting oleh rekrutmen.

Hal itu membuatnya kerap kali jengkel dengan proses rekrutmen. Apalagi untuk proses rekrutmen nan mencantumkan pengerjaan tugas dalam prosesnya, Salsa melihatnya sebagai salah satu corak pencurian ide.

“Kadang kesel ya jika misalkan nggak ada follow up lagi gitu. Karena kayak merasa buahpikiran kita tuh dicuri aja. Kan seenggaknya jika misalkan kita udah ngerjain tugas, ada interview dulu lah, alias seenggaknya dikonfirmasi hasilnya kayak gimana. Nah, ini tuh kadang kita udah ngerjain, udah ngumpulin, tapi kayak nggak ada follow up. Itu nan bikin kesel sih,” cerita Salsa.

Sama seperti job mismatch nan dialami Fathur sebelumnya, Salsa juga bukan tak pernah menolak pekerjaan nan menerimanya. Hal itu terjadi lantaran tawaran penghasilan nan tak sesuai bahwa berada di bawah standar daerahnya.

Untuk itu, dia memang menerapkan langkah filterisasi berdikari terhadap pekerjaan-pekerjaan nan menerimanya, utamanya mengenai jarak sampai besaran gaji.

“Karena jika untuk jarak itu sebenernya nggak terlalu gue filter selama tetap bisa pakai kendaraan sendiri, itu tetap gue terima. Cuma kadang jika gajinya di bawah UMR, alias misalkan separuh penghasilan kita lenyap hanya buat biaya perjalanan, itu nan bikin mikir. Kita kerja kan pasti capek, apalagi jika kerjanya full time dan kudu ke instansi tiap hari. Kalau kita keluarin duit akomodasi dan rupanya lenyap separuh gaji, itu kayak ngerasa ‘buat apa kita kerja?’ gitu,” kata Salsa.

Selain Fathur dan Salsa, Putri (bukan nama sebenarnya) (24) nan merupakan lulusan Akuntansi Universitas Padjajaran 2025 juga menceritakan pengalaman serupa. Kali ini memang bukan pengalaman Putri bekerja dan justru menjadi momennya untuk beranjak pekerjaan.

Dalam tiga bulan belakangan, dari ratusan lamaran nan dia kirim, ghosting dalam proses rekrutmen memang kerap terjadi. Ia bercerita perihal itu membuatnya menjadi bingung. Bahkan, dia pernah sukses melewati tahapan akhir rekrutmen namun kejelasan info penerimaan tak kunjung diterima.

“Tapi nan bikin gue kesel, gue udah ngelewatin tahap psikotes, interview HR, interview user, apalagi sampai interview BOD (Direksi), tapi HR-nya tetep nggak kasih berita apakah gue lolos alias nggak. Padahal itu sudah tahap akhir banget, lho. Gue sempet follow up beberapa perusahaan nan gue minat banget, tapi tetep nggak ada jawaban. Itu nan bikin bingung lantaran nggak ada feedback sama sekali,” ujarnya.

Padahal, selama ini dia sudah menyesuaikan lamaran nan dikirim dengan kriteria nan ditetapkan perusahaan. Maka dari itu, ghosting saat proses rekrutmen menurutnya adalah suatu perihal nan aneh.

Kendala Rekrutmen dari Sisi Pelaku Usaha

Pencari kerja mencari info lowongan pekerjaan pada aktivitas Job Fair Kendal 2026 di Kendal Sport Center, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Selain bunyi dari para pencari kerja, job mismatch juga menjadi perihal nan turut dirasakan para pelaku usaha. Wakil ketua umum Kadin Indonesia bagian Ketenagakerjaan, Subchan Gatot, menjelaskan salah satu sebabnya berangkaian dengan adanya jarak antara kompetensi para pencari kerja dengan kebutuhan industri.

“Tantangan utamanya adalah kesenjangan antara kompetensi pelamar dan kebutuhan pekerjaan. Kandidat cukup banyak, tetapi nan siap bekerja dan sesuai kebutuhan industri tetap terbatas,” kata Subchan.

Subchan menjelaskan saat ini perusahaan biasanya tak hanya mencari keahlian teknis dan digital dari para pelamar. Menurutnya, perusahaan juga mematok standar keahlian pemecahan masalah, komunikasi, kerja sama, disiplin, serta kemauan belajar dan beradaptasi. Hal inilah nan menurutnya tetap susah ditemukan oleh perusahaan.

Gaji nan kadang menjadi salah satu penyebab job mismatch lantaran para pelamar menginginkan penghasilan nan sesuai alias apalagi lebih tinggi. Ia menjelaskan perusahaan biasanya menyesuaikan penghasilan dengan kecakapan para pelamar. Selain itu, bayaran minimum suatu wilayah juga dipastikan menjadi perihal nan diperhatikan oleh perusahaan.

Meski demikian, dia tak pungkiri memang tetap ada jarak antara penghasilan nan ditawarkan perusahaan dengan permintaan pelamar utamanya pada posisi-posisi pemula.

“Secara umum, perusahaan menyesuaikan penghasilan dengan keahlian usaha, produktivitas, pengalaman, dan ketentuan bayaran minimum. Namun, memang tetap ada perbedaan antara ekspektasi kandidat dan keahlian perusahaan, terutama pada posisi pemula,” ujarnya.

Untuk mengatasi job mismatch, Subchan menilai perusahaan memang perlu menyederhanakan proses seleksi dan lebih menilai potensi, bukan hanya pengalaman. Selain itu, dia juga memandang persyaratan bagi lulusan baru semestinya tidak berlebihan, namun para pelamar kudu tetap bisa menunjukan kompetensi tambahan melalui portofolio alias sertifikasi nan dimiliki.

Di samping itu, lantaran tetap ada jarak antara pendidikan dan relevansinya ke bumi industri, dia juga memandang perlu ada penyelarasan kurikulum. Hal ini agar pendidikan ke depan lebih sesuai dengan industri nan ada.

“Kurikulum dan training perlu lebih dekat dengan kebutuhan industri. Kolaborasi melalui magang berkualitas, pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, dan training ulang kudu diperkuat. Pemerintah juga perlu menyediakan info pasar kerja nan lebih jeli agar pendidikan, pencari kerja, dan perusahaan dapat saling terhubung,” tutur Subchan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan