Jakarta, CNBC Indonesia - Setiap musim kemarau, Alfredo Nicholas Saputra Kolin, penduduk Kampung Posa, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, selalu dihantui kegelisahan bakal kesiapan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bersama penduduk lainnya, dia selama ini berjuntai pada air hujan nan ditampung saat musim penghujan alias mengambil air dari Sungai Klasafet nan letaknya cukup jauh dari permukiman.
Namun, saat curah hujan menurun, persediaan air sigap habis, sementara air sungai kerap berwarna keruh dan tidak selalu layak digunakan. Dalam kondisi seperti itu, setiap tetes air menjadi sangat berharga. Warga kudu menghemat penggunaannya untuk memasak, mandi, mencuci, hingga kebutuhan minum.
Tapi sekarang keadaan itu berubah, air bersih nan dulu susah diperoleh sekarang mengalir lebih mudah ke permukiman warga. Perubahan tersebut tidak hanya menghadirkan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengurangi beban masyarakat nan selama bertahun-tahun kudu berjuntai pada hujan alias air sungai nan kualitasnya tidak menentu.
Di kembali perubahan itu, Alfredo berdiri sebagai salah satu local hero Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina. Ia menjadi sosok nan memastikan solusi tersebut terus melangkah dan memberikan faedah bagi masyarakat. Setiap hari, Alfredo memeriksa kondisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 3,3 kWp agar tetap beraksi optimal sehingga sistem Solar Water Treatment dapat menyediakan air bersih secara berkepanjangan bagi penduduk Kampung Posa.
"Kalau listrik dari PLTS berhenti, air bersih juga ikut berhenti. Karena itu saya kudu memastikan semuanya melangkah dengan baik," ujar Alfredo dikutip Jumat (7/8/2026).
Baginya, merawat PLTS bukan sekadar pekerjaan teknis. Tanggung jawab itu berfaedah menjaga agar ratusan penduduk tetap mempunyai akses terhadap kebutuhan dasar nan sebelumnya susah mereka dapatkan. Dengan memastikan sistem terus berfungsi, Alfredo turut menjaga keberlanjutan faedah program sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya nan mereka miliki.
Di Lombok Tengah, kisah serupa juga dialami Burhanudin. Dahulu, Kelompok Masyarakat Tani Hutan Bina Lestari di Desa Tumpak kesulitan mengembangkan upaya lantaran keterbatasan energi. Mesin produksi Virgin Coconut Oil (VCO) hanya dapat beraksi secara terbatas sehingga hasil rimba nan dikelola masyarakat belum bisa memberikan nilai ekonomi nan optimal.
Setelah hadirnya PLTS berkapasitas 6,6 kWp melalui Program Desa Energi Berdikari, keadaan mulai berubah. Burhanudin dipercaya menjadi pengelola sekaligus penjaga operasional pembangkit tersebut.
"Sekarang produksi bisa melangkah lebih lancar. Listrik dari PLTS membikin kami lebih percaya diri mengembangkan usaha," ujarnya.
Energi bersih sekarang menggerakkan mesin produksi VCO berkapasitas 5.500 watt, meningkatkan produktivitas kelompok, membuka kesempatan pendapatan baru bagi masyarakat, sekaligus mendorong pengelolaan rimba nan lebih lestari. Kehadiran daya terbarukan tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Namun, mengoperasikan pembangkit daya bersih bukanlah pekerjaan nan sederhana. Dibutuhkan keahlian teknis agar akomodasi dapat terus berfaedah dan memberikan faedah dalam jangka panjang.
Karena itu, PT Pertamina (Persero) tidak hanya membangun prasarana daya bersih, tetapi juga membangun kapabilitas manusia nan mengelolanya. Melalui Program Desa Energi Berdikari nan telah menjangkau 262 desa di seluruh Indonesia, Pertamina membina para local hero melalui edukasi, pelatihan, hingga sertifikasi kompetensi.
Hingga saat ini, sebanyak 128 local hero telah tersertifikasi. Pada 5-7 Agustus 2026, Pertamina kembali memfasilitasi sertifikasi bagi 21 local hero di Balkondes Wringin Putih, Borobudur, Magelang, nan juga merupakan salah satu Desa Energi Berdikari.
Selama pelatihan, peserta mempelajari izin ketenagalistrikan, metodologi sertifikasi kompetensi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan PLTS. Peserta nan dinyatakan kompeten bakal memperoleh Sertifikat Junior Operator PLTS nan diterbitkan oleh PPSDM KEBTKE Kementerian ESDM.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan bahwa keberlanjutan daya bersih berjuntai pada keahlian masyarakat untuk mengelolanya secara mandiri.
"Keberhasilan transisi daya tidak hanya ditentukan oleh hadirnya infrastruktur, tetapi juga oleh masyarakat nan bisa mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya. Karena itu, Pertamina terus memperkuat kapabilitas para local hero agar faedah Desa Energi Berdikari dapat terus menggerakkan kehidupan masyarakat dan perekonomian desa," ujar Baron.
Menurut Baron, para local hero merupakan mitra strategis Pertamina dalam memastikan daya bersih tidak berakhir sebagai proyek pembangunan, tetapi menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat desa.
Dampaknya sekarang mulai dirasakan di beragam daerah. Hingga saat ini Program Desa Energi Berdikari telah menciptakan nilai ekonomi Rp5,65 miliar per tahun, menghasilkan kapabilitas daya terbarukan sebesar 1.302.700 Wp dari pemanfaatan tenaga surya, mikrohidro, dan pembangkit hibrida surya-angin, serta memproduksi 959.302 meter kubik biogas dan metana. Program ini juga telah memberikan faedah kepada 283.841 jiwa, termasuk 62 penyandang disabilitas, melalui peningkatan akses energi, penguatan ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat.
Program Desa Energi Berdikari sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dalam memperkuat kemandirian daya nasional melalui pengembangan daya baru terbarukan sekaligus membangun Indonesia dari desa. Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), Tujuan 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Bagi Pertamina, kisah Alfredo, Burhanudin, dan ratusan local hero lainnya menunjukkan bahwa transisi daya bukan sekadar menghadirkan listrik. Transisi daya adalah tentang menghadirkan harapan, membuka kesempatan usaha, menyediakan air bersih, dan melahirkan masyarakat desa nan bisa mengelola masa depannya sendiri. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama, daya bersih tidak hanya bertahan, tetapi terus tumbuh menjadi fondasi kemandirian desa nan berkelanjutan.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·