Letusan Gunung Berapi Bisa Mendinginkan Bumi, Begini Prosesnya

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Letusan Gunung Berapi Bisa Mendinginkan Bumi, Begini Prosesnya Ilustrasi(magnifik)

LETUSAN gunung berapi tidak hanya menghasilkan lava dan abu. Erupsi besar juga dapat melepaskan sulfur dioksida (SO₂) dalam jumlah besar ke atmosfer. 

Gas tersebut dapat memengaruhi suasana Bumi dengan memicu terbentuknya aerosol sulfat nan bisa mengurangi jumlah sinar Matahari nan mencapai permukaan.

Dilansir dari NASA, ketika erupsi eksplosif membawa SO₂ hingga ke stratosfer, gas tersebut bereaksi dengan air dan membentuk partikel aerosol sulfat berukuran sangat kecil. 

Partikel berwarna terang ini dapat memperkuat di atmosfer selama beberapa tahun, berjuntai pada besarnya letusan dan ketinggian material nan mencapai stratosfer.

SO₂ Tidak Langsung Mendinginkan Bumi

Efek pendinginan sebenarnya bukan berasal dari gas SO₂ secara langsung. Setelah berada di atmosfer, SO₂ mengalami reaksi kimia dan berubah menjadi aerosol sulfat.

Berdasarkan info nan dikutip dari NASA, aerosol sulfat dapat menghalangi sebagian radiasi Matahari nan masuk dengan langkah memantulkan alias menyebarkannya kembali ke angkasa. 

Akibatnya, daya Matahari nan mencapai permukaan Bumi berkurang sehingga suhu atmosfer dan permukaan dapat mengalami penurunan untuk sementara.

Namun, pengaruh tersebut tidak berjalan permanen. Aerosol vulkanik perlahan tersingkir dari stratosfer melalui proses kimia dan sirkulasi atmosfer.

Karena itu, pendinginan akibat letusan besar umumnya hanya berjalan selama beberapa tahun.

Pinatubo Jadi Contoh Nyata

Salah satu contoh paling jelas terjadi pada erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Letusan besar tersebut menyuntikkan sekitar 15 juta ton SO₂ ke stratosfer. 

Gas itu kemudian bereaksi dengan air dan membentuk lapisan aerosol nan menyebar ke seluruh dunia.

Dikutip dari NASA Earth Observatory, aerosol hasil erupsi Pinatubo menyebar secara dunia dalam waktu sekitar dua tahun. 

Keberadaan partikel tersebut menyebabkan penurunan suhu rata-rata dunia sekitar 0,6 derajat Celsius selama periode setelah letusan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa satu erupsi besar dapat memberikan akibat jauh melampaui wilayah di sekitar gunung berapi. 

Material nan mencapai stratosfer dapat memengaruhi keseimbangan daya Bumi dan pola atmosfer dalam skala global.

Tidak Semua Erupsi Bisa Mendinginkan Bumi

Meski demikian, tidak semua letusan gunung berapi menghasilkan pengaruh pendinginan global. Besarnya emisi SO₂ dan keahlian letusan membawa gas hingga stratosfer menjadi aspek penting.

Berdasarkan laporan dari U.S. Geological Survey (USGS), akibat suasana terbesar berasal dari perubahan SO₂ menjadi masam sulfat nan kemudian membentuk aerosol sulfat. 

Partikel ini meningkatkan pantulan radiasi Matahari kembali ke angkasa dan mendinginkan troposfer.

USGS mencatat, beberapa erupsi besar pada abad terakhir menyebabkan suhu rata-rata permukaan Bumi turun hingga sekitar separuh derajat selama satu hingga tiga tahun. 

Erupsi Pinatubo apalagi menyebabkan pendinginan permukaan nan lebih besar pada puncak dampaknya.

Meski dapat memberikan pengaruh dingin sementara, kejadian ini tidak berfaedah erupsi gunung berapi bisa mengatasi pemanasan global. 

Pendinginan akibat aerosol vulkanik hanya berkarakter sementara, sedangkan peningkatan gas rumah kaca terus memberikan pengaruh jangka panjang terhadap sistem suasana Bumi.

Sumber: NASA, NASA Earth Observatory, U.S. Geological Survey (USGS)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia