Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan pesan kunci dalam aktivitas Peluncuran Program STEM Nasional di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah pada Kamis (3/9/2026).(Antara)
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa upaya peningkatan kompetensi pembimbing dalam program pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) kudu melangkah beriringan dengan pemerataan alokasi pembimbing di seluruh Indonesia. Hal ini diperlukan guna memastikan setiap anak mempunyai akses setara terhadap pendidikan berkualitas.
"Guru adalah panglima literasi dan penemuan di lapangan. Tidak cukup hanya meningkatkan kompetensinya, kita juga kudu memastikan pengedaran nan merata agar setiap anak Indonesia mempunyai akses nan setara," ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (4/9).
Sebelumnya, Dirjen GTK Kemendikdasmen Nunuk Suryani menyatakan komitmen penguatan STEM melalui program prioritas nan menargetkan 3.272 pembimbing untuk pengimbasan oleh penyedia daerah. Program ini mengedepankan prinsip Pembelajaran Mendalam serta konsep 5M (Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful).
Namun, Lestari nan berkawan disapa Rerie, menyoroti ketimpangan pengedaran pembimbing nan tetap terjadi. Berdasarkan Rencana Strategis Ditjen GTK 2025–2029, Indonesia tetap kekurangan 722.784 pembimbing dari total kebutuhan nasional sebanyak 3.249.356 orang.
Ironisnya, terdapat kelebihan sekitar 172.796 pembimbing di wilayah tertentu, dengan konsentrasi mencapai 44% alias 1,5 juta pembimbing berada di Pulau Jawa. Kondisi ini menunjukkan pengedaran tenaga pendidik nan belum merata secara nasional.
Rerie mengapresiasi langkah pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru ASN. Kebijakan ini memungkinkan pembimbing PNS maupun PPPK ditempatkan di sekolah swasta nan membutuhkan, namun dia menekankan perlunya konsistensi dalam implementasinya.
Menurut Anggota Komisi X DPR RI ini, kompetensi STEM dan redistribusi pembimbing adalah dua perihal nan tidak bisa dipisahkan. Guru kompeten nan tidak tersebar merata tidak bakal bisa mengangkat mutu pendidikan nasional secara menyeluruh.
Ia mendorong sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat untuk memastikan kedua agenda ini melangkah beriringan. "Peningkatan kompetensi dan pemerataan pembimbing kudu menjadi prioritas berbareng untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 nan inklusif," pungkasnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·