Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat membuka obrolan daring bertema 'Menciptakan Maestro Seni Ukir Kelas Dunia' nan digelar Forum Diskusi Denpasar 12 hari ini.
Dimoderatori Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI, Eva Kusuma Sundari, obrolan ini menghadirkan Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan serta para kurator seni Nano Warsono dan Suwarno Wisetrotomo sebagai narasumber. Hadir pula pengamat seni ukir, Arif Akhyat sebagai penanggap.
Dalam sambutannya, Lestari menegaskan seni ukir bukan sekadar karya seni alias komoditas pasar, tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa, warisan nilai dan pengetahuan leluhur nan perlu terus dilestarikan.
"Dalam konteks Jepara, saat ini sedang berupaya mengusulkan seni ukir Jepara sebagai warisan budaya bumi ke UNESCO. Dalam perihal itu, diperlukan transmisi pengetahuan mengukir nan terdokumentasi dengan baik dari maestro kepada generasi penerus," kata Lestari dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).
Lebih lanjut, Lestari mengungkapkan Indonesia kaya bakal seni dan para maestro dengan karya nan diakui dunia. Namun, menurutnya, tantangan saat ini adalah gimana warisan budaya ukir tersebut dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus secara berkelanjutan.
Untuk menjaga keberlanjutan seni ukir Jepara, Lestari menilai perlu adanya sentuhan modern dalam pengembangannya, tanpa menghilangkan makna dari seni nan terkandung di dalamnya.
Karena itu, dia mendorong semua pihak untuk bersama-sama memastikan warisan seni dan budaya dapat dipahami serta dilestarikan oleh generasi penerus di masa depan.
Ekosistem Seni nan Kuat Dibutuhkan untuk Lahirkan Maestro
Sementara itu, Suwarno beranggapan seorang maestro berada pada level hormat yoga, ialah seseorang nan membaktikan diri pada pilihan pekerjaannya, menjadi teladan, dan semestinya sudah selesai dengan dirinya.
Namun, untuk melahirkan seorang maestro, sejatinya dibutuhkan kombinasi tangan banyak pihak.
"Kita tidak bisa berambisi mempunyai banyak maestro seni di tanah air, tanpa membangun ekosistem seni nan baik di tanah air nan memerlukan keterlibatan semua pihak," kata Suwarno.
Di sisi lain, Restu mengungkapkan pemerintah hingga saat ini mendorong beragam kekayaan seni dan budaya di Tanah Air untuk mendapatkan pengakuan dunia.
Saat ini, pemerintah sedang melakukan beragam upaya melalui single alias joint nomination dan extension guna mencatatkan sejumlah seni dan budaya Nusantara ke UNESCO.
Menurut Restu, peran pemerintah dalam melahirkan maestro seni dan budaya mencakup dua perihal utama. Pertama, pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bagian seni dan budaya. Kedua, edukasi kepada masyarakat agar mempunyai pemahaman nan baik terhadap nilai seni dan budaya.
"Tanpa pemahaman masyarakat tentang seni dan budaya nan baik, tidak ada nan bisa mengapresiasi karya para maestro," papar Restu.
Restu menambahkan, pemerintah juga menerapkan sistem pendataan kebudayaan terpadu, dalam upaya membangun ekosistem terintegrasi bagi pengembangan seni budaya nan melibatkan maestro dari beragam latar belakang seni dan budaya.
Peran Penting Maestro sebagai Penggerak Ekosistem Seni
Pada kesempatan nan sama, Nano mengungkapkan maestro seni ukir sudah ada sejak masa lalu. Ia menilai peran para maestro krusial sebagai penggerak ekosistem seni.
"Bagaimana peran maestro bisa diafirmasi menjadi pendorong terbangunnya ekosistem seni nan unggul di masa kini," jelas Nano.
Nano menegaskan pembicaraan soal seni ukir saat ini bukan membahas soal seni semata, tetapi juga kebutuhan ekonomi nan realistis.
"Ekosistem nan sehat dan berkepanjangan kudu bisa diwujudkan dalam upaya pengembangan seni ukir di tanah air," ucap Nano.
Sementara itu, Arif menyampaikan pentingnya grand design dalam pengembangan seni budaya di Tanah Air agar beragam upaya nan dilakukan dapat tepat sasaran.
Arif mengakui upaya melahirkan maestro di bagian seni dan budaya, memerlukan support semua pihak agar proses tersebut dapat berkelanjutan.
"Dalam konteks lahirnya maestro, negara jangan hanya mau 'memanen', tetapi mengabaikan langkah 'memupuk' dan 'merawat'-nya," kata Arif.
Arif berambisi upaya untuk melestarikan seni dan budaya nan berkembang di masa lampau dapat berkepanjangan hingga masa kini.
Padepokan Diusulkan Jadi Ruang Pembinaan Maestro Ukir
Pada kesempatan tersebut, wartawan senior Saur Hutabarat mengungkapkan seorang maestro sudah melewati tiga dimensi, ialah dimensi teknis, seni, dan filosofis. Karena itu, menurutnya, maestro bukan hanya dilahirkan, tetapi juga bisa dibentuk melalui proses pembelajaran nan tepat.
"Bila seorang maestro ukir bisa dihasilkan di masa depan, lampau gimana kita bisa memperkirakan orang nan berpotensi menjadi maestro di masa depan?" ujar Saur.
Untuk melahirkan maestro ukir di masa depan, dia mengusulkan penerapan konsep padepokan, seperti nan digunakan dalam seni tari.
"Pada padepokan itu, seseorang dapat mendalami aspek teknis, seni, hingga bisa menjiwai aspek filosofis nan diajarkan para maestro ukir," pungkasnya. (prf/ega)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·