Ilustrasi(magnific)
PERTUMBUHAN kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), cloud computing, serta percepatan transformasi digital mulai mengubah kebutuhan prasarana pusat info alias info center di tingkat global, termasuk Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi AI, teknologi liquid cooling dinilai semakin krusial untuk menjaga stabilitas dan efisiensi operasional info center generasi baru.
Berbeda dengan sistem komputasi konvensional, beban kerja AI (AI workloads) memanfaatkan graphics processing unit (GPU) dan high-performance computing nan menghasilkan kepadatan komputasi jauh lebih tinggi dalam satu rak server (rack density). Kondisi tersebut meningkatkan panas nan dihasilkan sehingga memerlukan sistem pendinginan nan lebih presisi.
Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen mengatakan perkembangan AI telah membawa info center memasuki fase baru dengan kebutuhan daya dan sistem pendinginan nan lebih kompleks.
“AI membikin info center memasuki babak baru. Infrastruktur nan dulu cukup diukur dari kapabilitas ruang dan konektivitas, sekarang kudu siap menghadapi kebutuhan daya nan lebih tinggi, panas nan lebih intens, dan tuntutan uptime nan semakin kritikal,” ucap Ellen dikutip dari siaran pers nan diterima, Jumat (22/5).
Menurut dia, perkembangan AI juga mengubah pendekatan dalam kreasi maupun operasional info center, termasuk pemilihan teknologi pendinginan.
“Pertumbuhan IT load nan diproyeksikan meningkat signifikan hingga 2031 menunjukkan bahwa kesiapan info center AI-ready menjadi semakin mendesak,” katanya.
Schneider Electric mencatat kebutuhan kapabilitas info center dunia diproyeksikan meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Sementara di Indonesia, pertumbuhan ekonomi digital dan tingginya penggunaan jasa digital diperkirakan bakal mendorong lonjakan kebutuhan prasarana info center nasional.
Kondisi tersebut tercermin dari proyeksi peningkatan IT load Indonesia nan diperkirakan naik dari sekitar 1.717 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 4.145 MW pada 2031. Angka itu menunjukkan pertumbuhan tahunan campuran (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 19,27%.
Peningkatan kebutuhan komputasi tersebut menghadirkan tantangan baru bagi operator info center, terutama mengenai konsumsi daya, pengelolaan panas, reliabilitas sistem, hingga efisiensi energi.
Dalam forum tersebut, Schneider Electric menjelaskan sistem pendinginan info center sekarang mulai berkembang dari pendekatan konvensional berbasis air cooling menuju hybrid cooling nan menggabungkan air cooling dan liquid cooling.
Teknologi liquid cooling dinilai mempunyai keahlian mengelola panas secara lebih efektif pada lingkungan komputasi berdensitas tinggi sekaligus membantu meningkatkan efisiensi daya serta skalabilitas operasional.
System & Architecture Engineer Schneider Electric Indonesia Rifa Hasanah mengatakan kreasi prasarana info center AI-ready memerlukan integrasi menyeluruh mulai dari sistem daya, pendinginan, arsitektur rak, hingga perangkat lunak pemantauan.
“Pendekatan tersebut bermaksud memastikan stabilitas performa komputasi sekaligus meminimalkan akibat operasional seperti thermal throttling, peningkatan konsumsi energi, hingga potensi gangguan layanan,” ujarnya.
Selain tantangan teknis, pengembangan info center berbasis AI juga semakin berangkaian dengan aspek keberlanjutan dan efisiensi energi. Secara global, Schneider Electric menargetkan membantu pengguna menghemat alias mengalihkan konsumsi daya hingga 1.500 terawatt-hour (TWh) serta menghindari emisi karbon kumulatif sebesar 1,5 miliar ton pada periode 2018–2030.
Ellya menilai transformasi AI bakal terus mengubah lanskap prasarana digital dalam beberapa tahun ke depan, termasuk mendorong mengambil teknologi pendinginan nan lebih adaptif.
“Melalui portofolio end-to-end nan mencakup power, cooling, racks, dan software management, kami mau membantu operator info center membangun prasarana nan lebih efisien, andal, dan bisa mengikuti pertumbuhan kebutuhan AI secara berkelanjutan,” imbuhnya. (Fal)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·