Laporan Rahasia: Diam-Diam AS Minta Pabrik-Pabrik Mobil Buat Senjata

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan diam-diam menggandeng produsen otomotif raksasa untuk memperkuat produksi senjata di tengah meningkatnya tekanan bentrok global. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya "mengisi kembali stok militer nan terus menipis".

Laporan pertama kali dibuat Wall Street Journal (WSJ). Pentagon disebut mendekati General Motors dan Ford guna menjajaki kemungkinan konversi pabrik sipil menjadi akomodasi produksi militer.

Diskusi nan melibatkan para pelaksana senior tersebut berfokus pada seberapa sigap lini produksi kendaraan komersial dapat dialihkan untuk memproduksi amunisi hingga perlengkapan tempur lainnya. Upaya ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan akibat bentrok di Ukraina serta perang AS melawan Iran.

Salah satu sumber nan mengetahui pembicaraan itu menyebut, langkah ini bermaksud menempatkan industri AS dalam "kondisi perang". Hal itu merujuk pada mobilisasi besar-besaran era Perang Dunia II saat pabrikan otomotif Detroit menghentikan produksi mobil dan beranjak membikin pesawat pembom hingga truk militer.

Saat ini, General Motors telah lebih dulu memasok kendaraan militer melalui unit GM Defense. Sementara Ford belum mempunyai perjanjian militer besar, namun ikut dilibatkan dalam penjajakan ini.

Selain dua raksasa otomotif tersebut, perusahaan seperti GE Aerospace dan Oshkosh Corporation juga dilaporkan turut serta. Pembicaraan apalagi disebut sudah dimulai apalagi sebelum bentrok AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari.


Tekanan Terhadap Stok Senjata AS

Tekanan terhadap stok senjata AS sebenarnya semakin terasa. Dalam empat pekan pertama perang Iran, AS disebut telah meluncurkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk.

Angka ini memicu kekhawatiran di internal Pentagon lantaran berpotensi menguras persediaan secara signifikan. Sebagai gambaran, sebelum operasi tersebut, Angkatan Laut AS diperkirakan mempunyai sekitar 4.000 hingga 4.500 rudal Tomahawk.

Analis mengatakan, mungkin ini menjadi argumen kenapa Presiden AS Donald Trump mengusulkan shopping militer jumbo sekitar US$1,5 triliun alias setara Rp25.500 triliun untuk tahun fiskal 2027. Angka ini melonjak dari nyaris US$1 triliun alias sekitar Rp17.000 triliun pada tahun ini.

Proposal tersebut mencakup lebih dari US$1,1 triliun (Rp18.700 triliun) untuk pendanaan pertahanan dasar. Ini pun ditambah alokasi unik guna mendukung operasi militer nan sedang berlangsung.

Sementara itu, mantan personil Kongres Marjorie Taylor Greene menyatakan biaya perang di Iran mencapai sekitar US$2 miliar per hari alias setara Rp34 triliun. Adapun situs pencari independen WarSpend memperkirakan total pengeluaran AS untuk bentrok tersebut telah mendekati US$48 miliar alias sekitar Rp816 triliun sejak perang dimulai.

(tfa/șef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News