Ilustrasi(magnifik)
POLUSI udara tidak hanya menjadi ancaman bagi anak-anak dan orang dengan penyakit pernapasan. Lansia juga termasuk golongan nan rentan terhadap akibat jelek udara tercemar, terutama lantaran kegunaan paru-paru dan sistem pertahanan tubuh mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
American Lung Association menjelaskan bahwa kegunaan paru secara alami mulai menurun setelah usia sekitar 35 tahun. Elastisitas jaringan paru berkurang, saluran udara menyempit, dan otot nan membantu proses pernapasan melemah. Kondisi tersebut dapat membikin lansia lebih mudah terdampak ketika terpapar polutan.
Mengapa Lansia Lebih Rentan?
Menurut American Lung Association, proses penuaan membikin kegunaan paru menurun dan sistem kekebalan tubuh tidak lagi bekerja seoptimal sebelumnya dalam melindungi tubuh dari polutan nan terhirup.
Lansia juga lebih berisiko mengalami penyakit pernapasan seperti pneumonia serta lebih mungkin mempunyai penyakit kronis nan dapat memburuk akibat paparan udara tidak sehat.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) nan menyebut polusi udara berakibat secara tidak proporsional terhadap golongan lansia.
Paparan partikulat dapat menyebabkan penurunan kegunaan paru, jangkitan saluran pernapasan, serta memperburuk kondisi seperti asma.
Dalam jangka panjang, paparan polusi juga berangkaian dengan penyakit jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan kanker.
Bukan Hanya Mengganggu Pernapasan
Dampak polusi udara pada lansia tidak terbatas pada sistem pernapasan. Partikel polutan nan masuk ke tubuh juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.
Harvard Health mencatat bahwa lansia termasuk golongan nan lebih rentan terhadap akibat polusi udara, berbareng anak-anak, ibu hamil, serta orang nan mempunyai penyakit jantung alias paru.
Paparan jangka panjang terhadap polusi udara juga dikaitkan dengan peningkatan akibat penyakit kronis.
WHO menyebut paparan partikulat lembut dalam jangka panjang dapat meningkatkan akibat penyakit tidak menular, termasuk stroke, penyakit jantung, PPOK, dan kanker.
Waspadai Sesak dan Batuk
Pada lansia, keluhan seperti sesak napas terkadang dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Padahal, American Lung Association mengingatkan bahwa kesulitan bernapas alias sesak nan muncul tiba-tiba tidak boleh diabaikan lantaran bisa menjadi tanda penyakit paru.
Karena itu, lansia maupun family perlu memperhatikan perubahan seperti batuk nan menetap, sesak napas, napas berbunyi, alias penurunan keahlian beraktivitas.
Jika keluhan muncul alias semakin berat, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Cara Mengurangi Risiko
Salah satu langkah nan dapat dilakukan adalah memantau indeks kualitas udara (AQI) sebelum beraktivitas di luar ruangan. Ketika kualitas udara buruk, lansia sebaiknya mengurangi aktivitas di luar dan menghindari sumber polusi seperti asap kendaraan, asap rokok, serta asap pembakaran.
WHO juga menekankan bahwa polusi udara dapat berasal dari lingkungan luar maupun dalam ruangan. Asap rokok, pembakaran bahan bakar rumah tangga, kelembapan, dan jamur juga termasuk sumber polusi dalam ruangan nan perlu diperhatikan.
Dengan bertambahnya usia, menjaga kualitas udara nan dihirup menjadi semakin penting. Lansia bukan golongan nan kebal terhadap polusi, justru perubahan kegunaan paru dan meningkatnya akibat penyakit kronis membikin mereka perlu mendapat perlindungan lebih dari paparan udara tercemar.
Sumber: WHO, Harvard Health, American Lung Association
English (US) ·
Indonesian (ID) ·