Langkah Penting Lindungi Anak dari Debu Vulkanik, Masker Bukan Satu-satunya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Langkah Penting Lindungi Anak dari Debu Vulkanik, Masker Bukan Satu-satunya

Masker untuk anak. (Foto: Freepik)

DEBU vulkanik dapat menjadi ancaman bagi kesehatan, terutama bagi golongan rentan, seperti balita dan anak-anak. Partikel debu nan terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan, terlebih pada anak nan mempunyai kondisi kesehatan tertentu.

Selain balita, golongan nan perlu mendapat perhatian lebih meliputi lansia serta orang dengan penyakit penyerta, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), gangguan pernapasan kronis, dan penyakit kardiovaskular.

Dalam kondisi paparan debu vulkanik, ada sejumlah langkah paling krusial nan perlu dilakukan orangtua adalah mengurangi dan menghindarkan anak dari paparan sebanyak mungkin. Apa saja?

1. Jangan Hanya Mengandalkan Masker

Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) RS Siloam TB Simatupang, dr. Henie Widowati, SpP, dalam aktivitas Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa masker dapat menjadi salah satu perlindungan tambahan dari paparan partikel debu terhadap anak. Namun, penggunaan masker pada anak-anak mempunyai tantangan tersendiri.

Tidak semua masker mempunyai ukuran nan sesuai untuk wajah anak. Selain itu, masker dengan tingkat filtrasi tinggi dapat membikin bernapas terasa lebih berat sehingga anak mungkin merasa tidak nyaman alias apalagi menolak menggunakannya.

Untuk paparan partikel seperti debu vulkanik, masker dengan keahlian filtrasi tinggi seperti N95, KN95, alias KF94 dapat menjadi pilihan andaikan tersedia dalam ukuran nan sesuai dan anak bisa menggunakannya dengan nyaman.

Namun, bagi balita, perlindungan tidak semestinya hanya berjuntai pada masker. Menjauhkan anak dari sumber debu tetap menjadi langkah utama.

“Harus diperhatikan juga bahwa anak-anak termasuk golongan orang dengan golongan sensitif, rentan. Balita, lansia, orang-orang dengan komorbit seperti masalah pernapasan kronik, asma, PPOK, penyakit kardiovaskuler, jantung, itu memang diselamatkan dulu ya,” ujar dr. Henie.

“Jadi didingat bahwa nan utama hindari pajanan, jauhkan dulu. Memang jika pada anak-anak kita memang enggak mudah mendapatkan masker nan cocok. Apalagi daam kondisi debu gini, debu vulkanik begini kita sarankan nan filtrasinya 94% ke atas ya. Enggak semuanya ada ukuran untuk anak-anak dan itu lantaran filternya sangat rapat dia nan namanya N95 itu bakal memfiltrasi partikel sampai 90% ya itu bakal membikin napasnya kayak jadi lebih enggak lezat lebih terbatas,” lanjutnya.

“Apalagi anak-anak dia biasanya tidak mau memakai. Makanya nan dipikirkan jangan anak-anak pakai masker tapi jauhkan dari pajanan debunya,” jelas dr. Henie.

2. Bawa Anak ke Ruangan nan Aman

Ketika debu vulkanik mulai mencemari lingkungan, orangtua sebaiknya membawa anak masuk ke rumah dan menempatkannya di ruangan nan minim paparan udara luar. Ruangan tersebut sebaiknya tertutup dan berada jauh dari pintu keluar-masuk. Pintu dan jendela juga perlu diminimalkan penggunaannya agar debu dari luar tidak mudah masuk.

Orangtua dapat membikin satu ruangan sebagai area nan relatif bersih alias clean room bagi anak. Tujuannya adalah menjaga agar konsentrasi debu di dalam ruangan serendah mungkin.

“Saat anak-anak sudah di rumah tempatkan di area ruangan nan save room nan clear room. Nah itu tempatnya tertutup terus jauh dari pintu keluarnya. Juga enggak boleh sering-sering buka pintu,” ucap dr. Henie.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑