Langit Penerbangan: Mengintip Pembuatan Pesawat di PT Dirgantara Indonesia

Sedang Trending 2 hari yang lalu
 Mengintip Pembuatan Pesawat di PT Dirgantara Indonesia Kegiatan liputan Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)

Awalnya, jantungku berdebar sangat kencang lantaran merasa gugup sekaligus bangga. Hari itu, saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk bekerja menjadi Reporter Cilik (Repcil) Media Indonesia. Kegiatan seru ini merupakan program kerjasama dahsyat antara PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Media Indonesia. Melalui petualangan ini, saya bekerja untuk mencari tahu seluk-beluk pembuatan pesawat dan mewawancarai langsung para pekerja dahsyat di sana. Yuk, kita lihat bersama-sama gimana langkah sebuah pesawat terbang diproduksi!

Tahukah kalian? Pesawat terbang rupanya mempunyai kegunaan nan sangat banyak. Pesawat tidak hanya digunakan untuk mengangkut penumpang umum saja. Lewat jalur langit, moda transportasi ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengangkut barang-barang logistik hingga menjadi pesawat medis untuk menolong orang sakit.

Di PT DI, kita bisa memandang beragam jenis pesawat secara lebih dekat. Uniknya, untuk berkeliling di area pabrik nan sangat luas ini, kami tidak perlu melangkah kaki. Pihak PT DI menyediakan bus Bandros unik bagi para pengunjung. Kami pun menaiki bus Bandros tersebut dengan ceria menuju destinasi pertama, ialah Gedung Mock-Up.

Sesampainya di sana, kami sudah disambut hangat oleh Pak Cepi nan mendampingi kami selama berada di dalam Gedung Mock-Up. Di tempat ini, Pak Cepi menjelaskan bahwa jenis pesawat itu ada banyak sekali. Salah satu mahakarya nan menjadi kebanggaan PT DI adalah pesawat N219. Pesawat ini sangat spesial lantaran dibuat murni oleh tangan imajinatif orang Indonesia sendiri tanpa bekerja-sama dengan negara manapun! Pesawat handal N219 ini didesain bisa menampung sekitar 19 orang penumpang.

Selain N219, ada juga pesawat legendaris CN235. Pesawat CN235 pertama kali terbang di angkasa pada tanggal 11 November 1983 dan dapat mengangkut sekitar 30 orang penumpang. Namun, prototipe pesawat CN235 nan ada di Gedung Mock-Up saat ini sudah tidak diterbangkan lagi lantaran aspek usia. Kata Pak Cepi, pesawat tersebut sekarang dijadikan pajangan serta area wisata edukasi anak agar bisa dinaiki. Aku pun tidak mau ketinggalan untuk ikut mencoba merasakan sensasi masuk ke dalam kabin pesawat CN235 tersebut. Rasanya seru sekali!

Setelah puas menjelajahi Gedung Mock-Up, kami menaiki bus Bandros lagi untuk beranjak letak menuju Hangar FAL (Final Assembly Line) alias hangar perakitan akhir. Di dalam gedung perakitan nan sangat besar ini, kami dibagi menjadi beberapa golongan mini untuk mewawancarai para pekerja.

Kelompokku berkesempatan untuk mewawancarai dua orang pekerja dahsyat sekaligus. Mereka adalah Bapak Muhammad Harish Ramdani dan Bapak Muhammad Zuhal Fahri Adam. Di PT DI, mereka berdua mengemban tugas krusial sebagai Quality Inspector. Pak Harish dan Pak Zuhal menjelaskan bahwa tugas sehari-hari seorang Quality Inspector adalah mengecek seluruh hasil produksi pesawat dengan sangat teliti agar kualitasnya sesuai dengan ketentuan dan kemauan pelanggan.

Kedua narasumber kami ini rupanya sudah bekerja di PT DI selama bertahun-tahun. Pak Harish sudah mengabdi selama 8 tahun, sedangkan Pak Zuhal sudah bekerja di sana selama 7 tahun. Wah, mereka berdua pastinya sudah sangat senior dan berilmu ya!

Pak Harish dan Pak Zuhal berpesan bahwa jika kita mau menjadi teknisi pesawat alias bekerja di bumi penerbangan, kita kudu memahami dan mempelajari pengetahuan pesawat dengan baik. Hal itu lantaran proses pembuatan satu unit pesawat memerlukan tingkat ketelitian nan sangat tinggi serta kekompakan tim nan solid. Waktu pembuatannya pun lumayan lama, ialah berkisar antara 1 sampai 2 tahun untuk menyelesaikan satu pesawat. Di tahun 2025 lampau saja, PT DI sukses memproduksi 2 unit pesawat terbang.

Beliau berdua juga memberikan motivasi agar anak-anak Indonesia selalu tetap semangat belajar lantaran kami adalah generasi emas penerus bangsa selanjutnya. Pak Harish dan Pak Zuhal mengaku sangat bangga bisa bekerja di PT DI. Alasan mereka adalah lantaran PT DI merupakan satu-satunya pabrik pesawat terbesar di area Asia Tenggara. Sudah semestinya kita sebagai rakyat Indonesia juga ikut bangga mempunyai perusahaan dirgantara sekeren ini lantaran peran PT DI sangat krusial bagi kemajuan Indonesia.

Setelah selesai melakukan wawancara hangat di hangar, kami kembali menuju Auditorium B.J. Habibie. Agenda dilanjutkan dengan sesi konvensi pers berbareng Ibu Dhias Widhiyati selaku Direktur Keuangan dan SDM, serta Bapak Dena Hendriana selaku Direktur Produksi PT DI.

Di dalam sesi wawancara ini, banyak teman-teman Repcil nan bertanya kepada Ibu Dhias mengenai tugasnya memimpin perusahaan. Bu Dhias menjelaskan bahwa sebagai Direktur Keuangan dan SDM, beliau kudu bisa mengelola finansial perusahaan dengan baik. Selain masalah uang, beliau juga bertanggung jawab memastikan seluruh tenaga kerja dapat bekerja dengan merasa kondusif dan nyaman. Hebatnya, Bu Dhias rupanya sudah bekerja di PT DI selama 31 tahun, lho!

Beliau juga membocorkan info mengenai biaya pembuatan satu unit pesawat nan nilainya bisa mencapai ratusan miiliar rupiah. Untuk memproduksi satu unit pesawat CN235, biaya nan dibutuhkan adalah sekitar 40 juta USD (atau setara dengan Rp700 miliar lebih). Sementara itu, untuk membikin pesawat N219, biaya nan diperlukan adalah sekitar 9 juta USD. Wah, nomor nan sangat fantastis, ya!

Puas bertanya kepada Bu Dhias, teman-teman tukar mengusulkan pertanyaan kepada Bapak Dena Hendriana selaku Direktur Produksi. Pak Dena menjelaskan bahwa tugas utamanya adalah mengelola seluruh proses produksi pesawat di PT DI serta memastikan setiap pesawat nan dibuat mempunyai kualitas nan kondusif dan berbobot tinggi.

Pada kesempatan ini, salah seorang kawan Repcil bertanya apakah PT DI mempunyai rencana untuk membikin pesawat masa depan nan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan berkekuatan listrik. Pak Dena menjawab dengan antusias bahwa PT DI memang mempunyai rencana besar tersebut. Saat ini, PT DI apalagi sedang aktif bekerja sama dengan pihak BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) untuk mengembangkan proyek pesawat berukuran mini nan digerakkan oleh bahan bakar tenaga listrik. Wah, saya jadi tidak sabar memandang pesawat listrik itu mengudara!

Setelah seluruh sesi tanya jawab nan seru itu selesai, aktivitas hari itu ditutup dengan manis. Kami semua melakukan sesi foto berbareng dengan Pak Dena, Bu Dhias, para mentor, serta seluruh teman-teman Repcil Media Indonesia. Hari itu akhirnya selesai, dan saya pulang dengan membawa sejuta pengalaman baru nan sangat berharga.(X-6)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia