Jakarta, CNBC Indonesia - Partai Buruh nan sekarang berkuasa di Inggris dilaporkan tengah diguncang tindakan saling sikut dan plot politik internal nan masif untuk menggulingkan sang perdana menteri. Mengutip laporan Al Jazeera pada Senin (18/5/2026), Perdana Menteri (PM) Keir Starmer saat ini kudu menghadapi kudeta senyap nan bergerak lambat dari dalam partainya sendiri nan berpotensi menyeret Inggris ke dalam ketidakpastian kepemimpinan selama berminggu-minggu.
Gelombang dorongan mundurnya sang kepala pemerintahan kian menguat seiring dengan merosotnya kepercayaan dari para personil parlemen.
Pihak oposisi apalagi secara terang-terangan melayangkan sindiran tajam mengenai hilangnya taji sang perdana menteri dalam mengendalikan roda pemerintahan di London pada pekan lalu.
"PM telah menunjukkan bahwa dia berada di instansi tetapi tidak memegang kekuasaan," tegas pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch.
Pernyataan Badenoch tersebut sengaja menggemakan kembali ucapan mantan kanselir Norman Lamont kepada PM Konservatif John Major pada tahun 1993, nan merefleksikan sejarah panjang perebutan kekuasaan di panggung politik Inggris.
Berbeda dengan Konservatif nan dikenal sangat efisien dan sadis dalam menumbangkan pemimpin mereka sendiri-seperti nan dialami Margaret Thatcher pada 1990, Theresa May pada 2018, dan Boris Johnson pada 2022-Partai Buruh mempunyai sistem pertarungan internal nan jauh lebih rumit.
Sejarah mencatat belum pernah ada perdana menteri petahana dari Partai Buruh nan menghadapi tantangan kepemimpinan umum secara langsung lantaran patokan partai mengharuskan support minimal 20% personil parlemen untuk memicu pemilihan ulang. Pembentukan kubu-kubu dalam tubuh partai pun dinilai kerap memicu kegagalan kudeta lantaran tidak adanya figur nan berani menjadi penyelenggara utama.
Dalam kitab The End of the Party nan mengupas tuntas kejatuhan Tony Blair dan Gordon Brown, seorang pengamat politik senior memaparkan kajian mendalam mengenai kejuaraan berdarah di internal partai.
"Brown... terpecah antara hasratnya nan menggebu-gebu untuk menjatuhkan Blair dan ketakutannya bakal akibat jika dirinya terlihat memegang belati di tangannya," tulis kepala komentator politik surat berita The Observer Andrew Rawnsley.
Rawnsley juga menambahkan bahwa kegagalan beruntun dalam mendepak pemimpin nan tidak terkenal sering kali disebabkan oleh keraguan dari para menteri senior di saat-saat krusial.
"Satu penjelasan adalah ketidakmampuan absolut dari para pembunuh raja. Ketiga upaya kudeta terhadap Brown - pada musim gugur 2008, musim semi 2009, dan Januari 2010 - semuanya kacau. Para menteri utama tidak mengorganisasi diri dengan kekejaman nan menentukan lantaran campuran rasa takut, kekhawatiran bakal perpecahan nan berdarah, dan dugaan pesimistis bahwa kekalahan tidak dapat dihindari," tambah Rawnsley.
Kini, bayang-bayang kegagalan komunikasi politik itu kembali menghantui Partai Buruh setelah hasil pemilu lokal pada 7 Mei lampau berhujung sangat mengerikan dengan hilangnya 1.498 bangku majelis di Inggris. Hasil jelek tersebut memicu kepanikan massal di kabinet lantaran Starmer dinilai tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menang melawan Partai Reformasi pada pemilu mendatang.
Puncak dari turbulensi politik ini ditandai dengan tindakan mundur massal menteri strategis dari kabinet pemerintah sebagai corak protes terbuka pada 14 Mei.
"Sekarang sudah jelas bahwa Anda tidak bakal memimpin Partai Buruh menuju pemilihan umum berikutnya, dan bahwa para personil parlemen serta serikat pekerja Partai Buruh menginginkan perdebatan tentang apa nan terjadi selanjutnya menjadi pertarungan ide, san bukan pertarungan kepribadian alias faksionalisme picik," tulis mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting dalam surat pengunduran dirinya nan ditujukan langsung kepada Starmer.
Streeting juga telah mengonfirmasi bahwa dirinya siap berkompetisi dalam bursa pencalonan pemimpin baru, meskipun dirinya belum meluncurkan tantangan umum secara resmi.
Menariknya, sosok nan paling digadang-gadang bakal menjadi suksesor Starmer justru merupakan figur luar biasa nan dijuluki media sebagai King of the North, ialah Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham. Berdasarkan jajak pendapat YouGov terbaru, Burnham menjadi figur paling terkenal dengan tingkat kesukaan bersih mencapai +4, berbanding terbalik dengan Starmer nan terosok ke nomor -46.
Jalan Burnham untuk kembali ke parlemen Westminster terbuka lebar setelah personil parlemen Makerfield, Josh Simons menyatakan rela mundur demi memberikan kursinya kepada sang wali kota, nan memicu digelarnya pemilu sela pada 18 Juni mendatang.
Jika politisi terkenal itu sukses memenangkan bangku parlemen, para menteri meyakini proses transisi kekuasaan di Downing Street bakal melangkah sangat sigap tanpa halangan berarti.
"Jika Andy memenangkan Makerfield dia bakal digotong tinggi-tinggi ke ruang minum Westminster di atas pundak para personil parlemen Partai Buruh. Sama sekali tidak ada ruang di mana dia tidak memenangkan kepemimpinan sehingga ini kudu menjadi sebuah penobatan - lantaran perihal terakhir nan kita butuhkan adalah pertarungan keprimpinan nan merusak," kata seorang menteri kabinet Partai Buruh nan tidak mau disebutkan namanya.
Kendati demikian, selama proses pemilu sela berjalan, posisi pemerintahan Inggris dipastikan bakal terus terombang-ambing tanpa arah akibat hilangnya legitimasi sang pemimpin.
Kondisi kritis ini dinilai telah mengubah status politik sang perdana menteri menjadi sosok nan tidak lagi mempunyai pengaruh kuat di pemerintahan.
"Waktu dan langkah keluarnya sekarang berada di bawah kendali peristiwa, nan membuatnya menjadi perdana menteri bebek lumpuh (lame duck) nan ucapannya tentang kebijakan nyaris tidak bakal terdengar di tengah bisingnya spekulasi tentang gimana dan kapan dia bakal pergi," pungkas penyunting politik ITV News Robert Peston melalui tulisan di platform Substack miliknya.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·