Kepala Sekretariat KSP, Prof. Dr. Achmad Tjachja mengunjungi putra Sayuti Melik di STPL Bekasi.(Istimewa)
KANTOR Staf Kepresidenan (KSP) mengunjungi Heru Baskoro, 84, putra tokoh perjuangan Sayuti Melik dan S.K. Trimurti, di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Bekasi, Jawa Barat, pada Jumat (14/8). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari program Presiden Prabowo Subianto, untuk memastikan bahwa pemerintah melaksanakan penanganan terhadap lanjut usia rentan melangkah secara terpadu dan berkelanjutan. Heru Baskoro berbareng istrinya, Treyzia Noviani, 65, saat ini mendapatkan jasa di STPL setelah sebelumnya menghadapi persoalan ekonomi, kesehatan, dan tempat tinggal.
Amanah Kepala KSP, Jenderal (purn) Prof Dudung Abdurachman nan diwakilkan kepada Kepala Sekretariat KSP Prof Achmad Tjachja dan Plt Deputi III Yan Hiksas, menerangkan kehadiran pemerintah tidak boleh berakhir pada penyelesaian persoalan administratif, tetapi kudu memastikan masyarakat rentan memperoleh perlindungan dan pelayanan secara berkelanjutan.
“Negara kudu datang dan memastikan masyarakat, khususnya golongan lansia nan rentan, mendapatkan perlindungan, pelayanan dasar, kesehatan, dan pendampingan nan layak,” tutur Achmad menyampaikan amanah Dudung Abdurachman.
Menurut Achmad, penanganan terhadap Heru Baskoro dilakukan secara terpadu dengan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar, manajemen kependudukan, agunan kesehatan, hingga persoalan arsip perjalanan dapat diselesaikan.
“Penanganan ini kita sorong agar melangkah cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Bukan hanya menyelesaikan satu persoalan, tetapi memastikan setelah itu pelayanan terhadap beliau tetap berjalan,” jelasnya.
Dalam kunjungan tersebut, KSP turut menyerahkan sejumlah arsip nan sebelumnya telah diproses melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Dokumen tersebut meliputi KTP dan Kartu Keluarga, surat keterangan aktivasi BPJS Kesehatan, serta pengembalian paspor Republik Indonesia milik Heru Baskoro.
Selain itu, dilakukan juga pemberian tali kasih dari Kepala KSP, Dudung Abdurachman kepada Heru Baskoro dan para lansia penunggu STPL.
Menurut Achmad, perhatian terhadap Heru Baskoro mempunyai makna lebih luas lantaran nan berkepentingan merupakan putra Sayuti Melik, tokoh nan mempunyai peran krusial dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Ini bukan hanya persoalan individu. Ada nilai sejarah dan kemanusiaan nan kudu kita jaga. Negara perlu memberikan penghormatan kepada family para pejuang sekaligus memastikan mereka mendapatkan kehidupan nan layak,” terangnya.
Achmad memaparkan, Sayuti Melik dikenal sebagai tokoh nan mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Heru dan istrinya sebelumnya tinggal di Kanada sejak 2003. Keduanya kembali ke Indonesia pada 2024 untuk keperluan pengobatan. Dalam perjalanan berikutnya, pasangan lansia tersebut menghadapi persoalan ekonomi hingga tidak lagi mempunyai tempat tinggal tetap.
Sejak 13 Juli 2026, Heru dan istrinya mendapatkan penanganan dari Kementerian Sosial sebagai penerima faedah di STPL. Layanan nan diberikan mencakup tempat tinggal, makanan, pelayanan kesehatan dasar, rehabilitasi sosial, pendampingan aktivitas sehari-hari, serta asesmen berkala. Kasus tersebut juga menunjukkan pentingnya penguatan sistem perlindungan sosial bagi lansia di tengah perubahan demografi Indonesia.
“Indonesia sudah memasuki era ageing population. Karena itu, kebijakan terhadap lansia tidak bisa hanya berkarakter responsif ketika terjadi persoalan. Kita kudu membangun sistem nan memastikan lansia tetap terlindungi, sehat, aktif, produktif, inklusif, dan bermartabat,” ucapnya.
Achmad juga menyoroti pentingnya optimasi akomodasi rehabilitasi lansia nan telah disediakan pemerintah. Fasilitas seperti STPL kudu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat nan membutuhkan.
“Kita perlu memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Jangan sampai akomodasi sudah tersedia, tetapi lansia nan memerlukan justru terkendala untuk mengaksesnya,” tandasnya.
Achmad menyebut, negara perlu memastikan tidak ada lansia nan terlantar lantaran persoalan administrasi, keterbatasan ekonomi maupun keterbatasan akses pelayanan.
Kunjungan KSP ke STPL nan disaksikan oleh kepala STPL, Budi Satriyo nan juga memberikan support bagi para lansia berupa selimut hingga bantun makanan. Acara ini sekaligus menjadi momentum menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kehadiran pemerintah diharapkan menjadi simbol bahwa penghormatan terhadap para pejuang kemerdekaan juga kudu diwujudkan melalui perhatian terhadap family dan generasi lanjut usia.
“Semangat kemerdekaan kudu kita terjemahkan dalam corak kehadiran negara nan nyata. Mereka nan telah berjasa bagi bangsa dan masyarakat nan memerlukan perlindungan kudu mendapatkan perhatian nan layak,” ujar Achmad.
KSP menegaskan, penanganan Heru Baskoro merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memperkuat perlindungan sosial dan memastikan golongan lansia rentan memperoleh jasa nan layak, berkelanjutan, dan bermartabat. (AN/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·