Aksi perusakan rumah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Uye Waryo di Kampung Arcamanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Selasa (18/8/2026) malam, rupanya diawali persoalan antarwarga sehari sebelumnya.
KH Uye Waryo mengungkap rangkaian kejadian tersebut saat ditemui di kediamannya, Jumat (21/8). Menurutnya, persoalan awal terjadi pada 17 Agustus 2026 dan sebenarnya telah diselesaikan melalui musyawarah.
Senin, 17 Agustus 2026
Pada 17 Agustus, terjadi keributan pertandingan futsal antar RW di Desa Mekar Manik. Keributan itu melibatkan Roni dan teman-temannya dengan Asep dan teman-temannya.
KH Uye Waryo nan dituakan di desa diminta untuk menjadi mediator agar masalah ini diselesaikan secara damai. Mediasi dilakukan di rumah KH Uye, dihadiri abdi negara kepolisian serta pihak-pihak nan terlibat.
"Sebetulnya pada tanggal 17 Agustus itu sudah dinyatakan selesai dengan adanya mediasi dan musyawarah kekeluargaan di tingkat RW. Sudah bereslah selesai, lantaran dihadiri oleh abdi negara dari Polsek, dari kedua belah pihak, korban dan pelaku," kata Uye.
Namun, Asep tidak datang dalam musyawarah tersebut meski telah diundang.
Malam harinya, muncul kembali ketegangan setelah Asep menyatakan tidak menerima hasil kesepakatan lantaran tidak hadir. Asep saat mediasi tidak berada di desa itu.
Selasa Pagi, 18 Agustus 2026
Pada Selasa pagi, pengurus RT dan RW mendapat info Roni dkk berencana mencari Asep.
"Di antaranya pengin ketemu dengan pelaku nan lainnya. Termasuk panitia 17 Agustus di sini, Karang Taruna, merasa bingung lantaran kemarin sudah beres," ujar Uye.
Kondisi tersebut membikin Uye diminta membantu mencari solusi. Ia kemudian mengumpulkan pihak family Roni, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta pengurus lingkungan untuk kembali membicarakan penyelesaian persoalan.
Saat proses musyawarah berlangsung, sejumlah penduduk dari RW 6 disebut turun secara berdompol dan melakukan sweeping untuk mencari Asep. Mereka apalagi disebut mendatangi rumah orang tua Asep.
Uye kemudian meminta agar Asep dipanggil dan persoalan diselesaikan melalui jalur musyawarah. Asep tinggal di Ujung Berung, sekitar 40 menit naik motor dari Desa Mekar Manik.
Selasa Siang hingga Sore, 18 Agustus 2026
Perwakilan Roni menyampaikan syarat penyelesaian. Asep diminta mengakui perbuatannya dan meminta maaf.
Uye kemudian meminta orang tua dan om Asep mendatangi Asep nan berada di area Ujung Berung.
Hasilnya, Asep mengakui telah melakukan pemukulan terhadap Roni dan menyampaikan permintaan maaf melalui sambungan telepon.
"Permintaannya itu kan asal minta maaf, walaupun lewat HP, 'Akan saya terima, dimaafkan'," tutur Uye.
Setelah pengakuan dan permintaan maaf diterima, kedua pihak kembali bermusyawarah. Dalam proses tersebut, Roni melalui family meminta kompensasi sebesar Rp 3 juta.
"Saya juga nan ngasih solusi, 'Udah, kasih aja duit 3 juta daripada kita memperpanjang masalah. Biarlah kita mengalah, demi kerukunan'," kata Uye.
Kesepakatan kemudian dituangkan dalam surat pernyataan perdamaian. Surat tersebut ditandatangani dan disaksikan oleh Sekretaris Desa, Bhabinkamtibmas, RT, RW, tokoh masyarakat, serta pemuda setempat.
Selasa, 18 Agustus 2026, Sekitar Pukul 22.00 WIB
Beberapa jam setelah kesepakatan tenteram dibuat, suasana kembali memanas. Uye mengatakan saat itu dirinya berbareng sejumlah penduduk sedang berada di rumah sembari menyaksikan pertandingan Persib.
Dari luar rumah, terdengar bunyi sepeda motor nan digeber-geber. Uye kemudian keluar untuk menegur lantaran waktu sudah malam.
"Saya samperin, lantaran di depan rumah, saya sebagai tuan rumah. Semua orang belum pulang, tetap pada ngumpul. Saya ngomong, 'Udah, dah malam, bising, bukan waktunya, waktu istirahat'," ujar Uye.
Roni, nan merupakan salah satu dari rombongan pemotor itu kemudian turun dari motor dan mengikuti Uye hingga masuk ke rumah. Dua orang lainnya juga disebut sempat berupaya masuk, tetapi sukses dicegah penduduk dan aparat.
Roni melakukan perusakan terhadap sejumlah perabot di dalam rumah, mulai dari kaca pintu, meja, kursi, hingga peralatan makan.
"Saya lihatin aja, enggak diapa-apain. Karena saya tahu bahwa dia tuh lagi terpengaruh obat terlarang, jika saya bertindak juga salah," kata Uye.
Uye memilih meminta penduduk untuk tidak melakukan perlawanan. Sementara itu, Bhabinkamtibmas nan berada di letak kemudian meminta support personil Polsek.
"Datanglah personil dari Polsek, diamankan. Langsung dari sini," ujar Uye.
Tiga orang nan diduga terlibat dalam tindakan tersebut kemudian diamankan abdi negara kepolisian. Menurut Uye, kejadian perusakan nan terjadi sekitar pukul 22.00 WIB itu sudah berada di luar persoalan awal nan sebelumnya telah diselesaikan melalui musyawarah dan perdamaian.
32 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·