Krisis Minyak, Panik Politik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi kilang minyak. Foto: Todd Korol/REUTERS

Dunia kita sepertinya tak bakal pernah kehabisan langkah untuk "senam jantung". Kali ini, musik pengiringnya adalah dentuman meriam antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Jalur air nan dibilang sempit itu, tiba-tiba menjadi panggung teater nan paling mahal sedunia. Ia tidak hanya mengguncang area tersebut, tetapi juga mengirim gelombang kejut hingga ke ruang-ruang obrolan politik dalam dan luar negeri.

Namun nan anehnya bahwa ini bukan soal rudal nan terbang di sana, melainkan "rudal" opini nan meledak-ledak di sini, di tanah air. Di tengah panasnya Teluk Persia, muncul kejadian nan biasanya menjangkiti pemburu potongan nilai busana alias anak muda nan takut ketinggalan tren: Fear of Missing Out (FOMO).

Bedanya kali ini, nan terkena FOMO bukanlah anak senja penikmat kopi, melainkan tokoh politik kawakan—termasuk Jusuf Kalla—yang mendadak kegemaran meramal chaos nasional jika nilai BBM tidak segera "terbang" ke langit. Mereka tampak resah bukan lantaran kekurangan data, melainkan lantaran takut tertinggal momentum—momentum untuk bersuara, tampil, alias apalagi untuk menciptakan narasi krisis.

Prahara di Sumur-Sumur Keserakahan

Secara teknis, kekhawatiran terhadap Selat Hormuz memang bukan tanpa dasar. Jika Selat Hormuz "mampet", nilai minyak bumi memang bakal joget. Sekitar seperlima pasokan minyak bumi melewati jalur ini. Artinya, gangguan sekecil apa pun berpotensi memicu apa nan dalam ekonomi daya disebut sebagai supply shock, ialah gangguan tiba-tiba pada pasokan nan dapat mendorong nilai naik secara signifikan. Dalam sistem dunia nan saling terhubung, pengaruh domino seperti ini adalah sesuatu nan kudu diantisipasi.

Ilustrasi pengaruh domino. Foto: Shutterstock

Namun dalam kenyataannya, reaksi elite politik kita jauh lebih dramatis daripada nilai minyak itu sendiri. Mereka ini bisa dibilang persis seperti Daniel Plainview dalam movie There Will Be Blood (2007). Plainview adalah simbol dari keserakahan nan tak mengenal batas—seseorang nan memandang minyak bukan sekadar komoditas, melainkan juga sumber kekuasaan nan kudu dikuasai dengan segala cara. Dalam salah satu segmen ikonik, dia menyatakan, "I drink your milkshake", sebuah metafora tentang gimana dia menyedot sumber daya orang lain tanpa peduli dampaknya.

Politisi kita nan getol meminta BBM naik ini seolah-olah sedang memegang sedotan raksasa, siap menyedot daya beli rakyat dengan dalih "menyelamatkan APBN". Mereka meramal Indonesia bakal kiamat, padahal menteri kita sudah bilang stok bensin tetap awet hingga beberapa bulan ke depan.

Resiliensi Stok vs Fatamorgana Kebangkrutan

Menteri Purbaya sudah pasang badan. Ia mengatakan, "Stok aman, nilai jangan goyang." Ini merupakan pernyataan teknokratis nan sejuk di tengah cuaca politik nan gerah. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan juga didasarkan pada parameter nan dapat diukur, seperti persediaan strategis dan kapabilitas distribusi.

Dalam kajian daya modern, ketahanan suatu negara tidak hanya diukur dari nilai pasar global, tetapi juga dari kemampuannya menyerap guncangan jangka pendek. Cadangan penyangga berfaedah sebagai alas nan memungkinkan pemerintah untuk tidak bereaksi secara impulsif terhadap perubahan harga. Dengan kata lain, stabilitas tidak ditentukan oleh seberapa tinggi nilai minyak dunia, tetapi oleh seberapa siap suatu negara mengelola volatilitas tersebut.

Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Desakan untuk meningkatkan BBM di saat penyimpanan kita tetap penuh itu seumpama orang nan punya beras segudang, tapi teriak-teriak mau kelaparan hanya lantaran nilai gabah di pasar sebelah sedang naik. Jika pemerintah termakan tren FOMO politik ini, justru inflasi-lah nan bakal menghantam kita lebih dulu. Ekspektasi pasar nan panik jauh lebih rawan daripada kenaikan nilai minyak itu sendiri. Jadi, jika ada nan bilang, "Naikkan sekarang alias kita chaos", mungkin mereka hanya sedang butuh panggung agar tetap relevan di buletin utama.

Ketahanan daya bukan soal kepemilikan barangnya, melainkan soal seberapa kuat mental pemerintahnya untuk tidak panik saat nilai bumi sedang "tantrum" (Yergin, 2020).

Eli Sunday dan Khotbah "Kiamat" Bensin

Selain figur Plainview, movie There Will Be Blood juga menghadirkan karakter Eli Sunday, seorang pengkhotbah nan memanfaatkan rasa takut untuk memperoleh pengaruh. Eli tidak berbincang dengan data, tetapi dengan emosi. Ia membangun narasi tentang ancaman dan keselamatan, lampau menawarkan dirinya sebagai solusi.

Paralel dengan bumi politik kontemporer cukup jelas. Para tokoh politik nan doyan menakut-nakuti rakyat dengan narasi "negara bakal ambruk" ini adalah Eli Sunday jenis modern. Mereka membungkus kepentingan ekonomi nan kaku dengan khotbah moralitas, seolah-olah mereka adalah ahli selamat anggaran.

Ilustrasi Irit BBM. Foto: Shutterstock

Padahal, stabilitas nilai BBM itu adalah jangkar hidup orang banyak. Karena dalam kenyataannya, kenaikan nilai BBM bakal merambat ke beragam sektor, meningkatkan biaya hidup, dan pada akhirnya menekan golongan masyarakat nan paling rentan.

Menuntut kenaikan BBM saat rakyat lagi megap-megap itu bukan solusi ilmiah, itu hanya nafsu predator nan dibungkus dengan dasi. Seperti Plainview nan akhirnya menghancurkan Eli lantaran muak dengan kepalsuannya, rakyat pun sebenarnya sudah mulai antipati. Kita butuh pemimpin nan tenang seperti nakhoda, bukan penonton bioskop nan teriak "kebakaran", padahal hanya ada segmen masak di layar.

Jaga Kewarasan, bukan Jaga Gengsi

Krisis di selat Hormuz adalah realitas nan tidak bisa diabaikan. Namun, respons terhadap krisis tersebut kudu proporsional dan berbasis pada data, bukan pada ketakutan alias tekanan politik. Dunia mungkin sedang berada dalam fase nan tidak stabil, tetapi itu bukan argumen untuk menambah beban masyarakat melalui kebijakan nan prematur. Bukan pula menjadi argumen untuk membikin rakyat semakin sengsara dengan kenaikan nilai nan terburu-buru.

Keputusan Menteri Purbaya untuk menahan nilai adalah langkah nan waras di tengah bumi nan sedang "agak gila". Kita tidak butuh ambisi Daniel Plainview nan rakus alias khotbah Eli Sunday nan menakutkan. nan kita butuhkan adalah pemimpin nan tegak lurus pada data, bukan pada dorongan tokoh politik nan sedang menderita indikasi FOMO akut. nan dibutuhkan adalah kepemimpinan nan rasional, nan bisa menjaga keseimbangan antara kewaspadaan dan ketenangan.

Mari kita tonton saja dramanya, tapi jangan sampai kita kehilangan kewarasan hanya lantaran ada orang nan terlalu semangat mau meminum "milkshake" kita.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan