Krisis Minyak Dunia di Depan Mata, Ini Bukti-Bukti Barunya

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak bumi melonjak pada perdagangan Selasa (15/9/2026) setelah gangguan terhadap ekspor Arab Saudi dan pembatalan sejumlah pengiriman minyak mentah ke Eropa. Kenaikan nilai juga dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan dunia setelah serangkaian serangan menyasar prasarana daya di sejumlah negara produsen minyak.

Melansir Reuters, Rabu (16/9/2026), nilai minyak Brent ditutup naik US$3,07 alias 2,9% menjadi US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melonjak US$4,44 alias 4,38% menjadi US$105,83 per barel.

Kedua perjanjian minyak tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.

Kenaikan WTI nan lebih besar dibandingkan Brent terjadi setelah sumber industri pelayaran mengatakan pemuatan minyak mentah di terminal Yanbu, Arab Saudi, dihentikan. Riyadh juga dilaporkan membatalkan sejumlah kargo minyak mentah untuk pengguna di Eropa nan dijadwalkan dikirim pada akhir September.

Gangguan tersebut menjadi perhatian pasar lantaran Yanbu merupakan salah satu jalur krusial bagi ekspor minyak Arab Saudi, terutama setelah bentrok AS-Israel dengan Iran mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan daya global. Gangguan di area tersebut membikin Arab Saudi semakin mengandalkan East-West Pipeline, pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer nan mengalirkan minyak dari wilayah timur negara itu menuju Yanbu di pesisir Laut Merah.

Namun, jalur ekspor Saudi sekarang menghadapi tekanan tambahan setelah serangan golongan Houthi nan berkawan dengan Iran terhadap prasarana minyak Saudi pada Jumat.

Gangguan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai berapa lama ekspor Arab Saudi dapat kembali normal.

"Para pedagang telah membeli perjanjian berjangka WTI dengan dugaan bahwa gangguan pada ekspor Arab Saudi bakal berjalan lebih lama dari perkiraan," kata Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong kilang-kilang Eropa beranjak menggunakan minyak mentah dari Amerika Serikat.

Ekonom senior bagian suasana dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi juga dapat memengaruhi ekspektasi penanammodal mengenai tingkat keparahan dan lama konflik.

"Serangan baru oleh golongan Houthi nan menargetkan Arab Saudi mungkin memengaruhi ekspektasi penanammodal pasar minyak mengenai tingkat keparahan dan lama konflik," ujarnya.

Pasokan Libya Ikut Terganggu

Tekanan terhadap pasokan minyak dunia juga datang dari Libya. National Oil Corporation (NOC) menyatakan operasi di tiga ladang minyak dihentikan setelah personil Petroleum Facilities Guard menutup katup pada pipa ekspor Hamada-Zawiya.

NOC memperingatkan dapat memberlakukan force majeure jika penutupan tersebut berlanjut. Kondisi itu berpotensi mengganggu produksi dari ladang minyak lainnya.

Sementara itu, kondisi di Arab Saudi juga menjadi perhatian lantaran gangguan pada East-West Pipeline dapat membatasi keahlian Riyadh mengalirkan minyak menuju terminal ekspor di Laut Merah.

Goldman Sachs memperkirakan waktu perbaikan pipa tersebut dapat berkisar dari beberapa hari hingga delapan minggu. Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan aliran minyak melalui pipa vital tersebut semestinya dapat kembali dalam beberapa hari.

Perbedaan perkiraan tersebut membikin pasar tetap menghadapi ketidakpastian mengenai lama gangguan pasokan Arab Saudi.

Di saat nan sama, serangan Rusia dan Ukraina terhadap akomodasi daya masing-masing turut menambah tekanan terhadap pasokan bahan bakar.

Rangkaian gangguan tersebut membikin pasar minyak menghadapi akibat pasokan nan semakin besar, terutama ketika bentrok di Timur Tengah tetap menakut-nakuti jalur perdagangan daya utama.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News