Krisis suasana memicu lonjakan nomor putus sekolah pada anak perempuan.(Dok. Antara)
KRISIS iklim tidak hanya berakibat pada kerusakan lingkungan dan stabilitas ekonomi, tetapi juga menakut-nakuti masa depan pendidikan anak perempuan. Fenomena kekeringan ekstrem memaksa anak wanita menghabiskan waktu lebih lama untuk mencari air, nan berujung pada keterlambatan sekolah hingga akibat putus sekolah (drop out).
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengungkapkan bahwa akibat sosial ini sering kali luput dari pembahasan kebijakan perubahan iklim. Selama ini, koordinasi antarlembaga seperti Bappenas, BMKG, dan Kementerian Sosial dinilai tetap terlalu konsentrasi pada aspek sektoral seperti kesiapan air dan pertanian.
"Semua bicara sektor. Bagaimana akibat El Nino terhadap air bersih, sumber air, agriculture. Tapi tidak ada nan memandang orangnya. The people is absent when we talk about climate change and the impact," ujar Dini dalam media gathering Plan Indonesia, Kamis (13/8/2026).
Data jangka panjang di Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat temuan ini. Terdapat hubungan kuat antara musim tandus panjang dengan penurunan partisipasi sekolah anak perempuan. Beban domestik untuk mengambil air sebelum berangkat sekolah membikin mereka sering terlambat, tertinggal pelajaran, hingga kehilangan motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Riset Girls in Crisis Research 2026 nan dilakukan di Aceh Tamiang, Agam, dan Tapanuli Utara menunjukkan kondisi serupa. Sebanyak 15,45 persen anak wanita berada dalam akibat putus sekolah setelah pendapatan rumah tangga mereka terdampak bencana. Selain itu, riset dunia For Our Futures (2023) mencatat 98 persen anak wanita cemas perubahan suasana bakal merusak akses pendidikan mereka.
Dini menambahkan, family dengan kondisi ekonomi marginal mempunyai kerentanan ganda. Ketika kandas panen terjadi akibat iklim, anak wanita berisiko tinggi menghadapi perkawinan anak sebagai jalan pintas ekonomi keluarga. "Kalau orang tuanya kandas panen, bisa langsung berujung drop out alias dinikahkan dini," tuturnya.
Menanggapi perihal ini, Chief Impact Officer Plan International, Pete Manfield, menekankan pentingnya respons musibah nan terintegrasi dan berpusat pada manusia, bukan sekadar program teknis seperti WASH alias kesehatan. Ia mendorong penguatan kapabilitas anak wanita agar terlibat langsung dalam pembelaan dan pengambilan kebijakan.
Dini menegaskan bahwa anak wanita kudu diberi ruang (give us space at the table) untuk menyampaikan kebutuhan mereka. Bagi golongan ini, krisis suasana bukan sekadar rumor lingkungan, melainkan aspek penentu apakah mereka bisa tetap berguru alias kehilangan kesempatan membangun masa depan. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·