Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis ekonomi makin menjadi di Bolovia. Warga apalagi dilaporkan mulai berebut bahan pangan di pasar.
Di ibu kota La Paz misalnya, masyarakat mulai berebut pasokan daging ayam akibat kelangkaan pangan akut nan melanda kota tersebut. Warga juga berebut telur nan sudah nyaris mustahil ditemukan di pasar.
"Kami nyaris tidak punya apa-apa lagi, apalagi untuk menemukan sebutir telur pun tidak mungkin," kata seorang ibu, Sheyla Caya, berusia 43 tahun."Para tetangga pada akhirnya saling berantem hanya untuk memperebutkan seekor ayam," sesal Caya.
Mengutip AFP, Kamis (21/5/2026), krisis pangan dan bahan pokok terjadi setelah tindakan demonstrasi antipemerintah nan diiringi pemblokiran jalan-jalan utama berjalan selama berminggu-minggu. Protes melumpuhkan rantai pasok logistik ke dalam kota.
Protes awalnya didukung golongan masyarakat adat, guru, petani, hingga penambang. Ini dipicu oleh ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan Presiden berpatokan tengah-kanan, Rodrigo Paz, nan baru menjabat selama enam bulan.
Pendemo memblokir jalan sejak tiga minggu lampau untuk menuntut kenaikan upah, stabilitas pasokan BBM, dan langkah konkret mengatasi krisis ekonomi terburuk dalam 40 tahun terakhir. Aksi unjuk rasa terus meluas dan memicu kelangkaan parah BBM, bahan makanan, obat-obatan, lampau berujung pada lonjakan nilai barang-barang di pasar secara drastis.
Perlu diketahui, bentrok bentuk apalagi sempat pecah selama berjam-jam antara polisi antihuru-hara dan para demonstran nan nekat melemparkan batu serta dinamit kecil. Setidaknya sekitar 130 orang ditangkap menyusul adanya tindakan penjarahan salah satu lembaga pemerintah dan pembakaran satu unit mobil operasional kepolisian.
Meski situasi dilaporkan mulai sedikit kondusif menyusul adanya tindakan tenteram dari ratusan petani pribumi dan pekerja transportasi, Rabu, ketegangan dinilai belum sepenuhnya mereda. Presiden Paz sendiri mencoba mengambil pendekatan rekonsiliasi dengan berjanji bakal merombak kabinetnya agar lebih inklusif serta membentuk badan unik untuk menampung aspirasi para demonstran dalam kebijakan pemerintah.
Namun, tanda-tanda krisis belum berakhir. Terlihat dari info otoritas setempat nan mencatat adanya 44 titik blokade jalan di seluruh negeri, meningkat 12 titik dibanding awal pekan.
Sementara itu, seorang pensiunan berumur 75 tahun, Jaime Quiroga, mendapati sebagian besar gerai di pasar utama La Paz terpaksa tutup pada hari Selasa. Banyak pedagang tidak mempunyai stok peralatan dagangan lantaran truk-truk logistik nan membawa pasokan pangan tertahan total di jalan luar kota.
"Para pedagang tidak punya apa-apa untuk dijual lantaran truk-truk diblokir di jalan," ketus Jaime Quiroga masih ke laman nan sama.
Guna mengatasi kelangkaan ini, pemerintah pusat sebenarnya telah meluncurkan operasi jembatan udara untuk menerbangkan pasokan daging dan sayuran dari wilayah pertanian Santa Cruz dan Cochabamba. Kendati demikian, pasokan darat nan tersendat membikin nilai komoditas pangan di tingkat pedagang satuan tetap meroket hingga lebih dari dua kali lipat dari nilai normal.
Seorang pedagang sayur dari suku asli, Graciela Zuleta, mengaku terpaksa meningkatkan nilai jual tomatnya menjadi US$ 1,10 (Rp 19.470) per kilogram dari nan sebelumnya hanya US$ 0,40 (Rp 7.080) demi menutup biaya operasionalnya nan membengkak. Namun, kebijakan meningkatkan nilai tersebut justru membikin omzet penjualannya menurun drastis lantaran daya beli masyarakat nan melemah.
"Pada tingkat nilai seperti itu, banyak pengguna nan akhirnya pergi tanpa membeli apa pun," ucap Graciela Zuleta.
Antrean BBM Mengular
Kondisi serupa juga menjalar pada sektor daya di mana antrean kendaraan di pom bensin pusat kota dilaporkan mengular hingga beberapa ratus meter akibat kelangkaan bahan bakar. Krisis ini diperparah oleh kebijakan awal Presiden Paz nan menghapus subsidi BBM demi menyelamatkan persediaan devisa dolar negara, nan justru memicu lonjakan nilai dan peredaran BBM berbobot rendah nan terkontaminasi.
Seorang pengemudi minibus berumur 34 tahun, Fabio Gutierrez, mengaku kudu merogoh kocek hingga lebih dari US$ 1.000 alias (Rp 17,7) juta hanya untuk memperbaiki kerusakan mesin kendaraannya akibat mengonsumsi BBM berbobot jelek tersebut. Saat kudu kembali mengantre selama lebih dari lima jam pada hari Selasa untuk mengisi tangki kendaraannya, Gutierrez mengaku sangat resah kejadian jelek nan merugikan finansialnya itu bakal terulang kembali.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·