
Kota Tua Jadi Lokasi Syuting Film Lisa BLACKPINK, Cek Destinasinya. (Foto: Mei Sada Sirait/Okezone)
JAKARTA – Kawasan Wisata Kota Tua, Jakarta Barat, disebut-sebut menjadi letak syuting movie Lisa BLACKPINK. Kota Tua pun sempat ditutup pada Rabu (28/1/2026) sejak pukul 15.00 WIB.
Pantauan di letak pada Kamis (29/1/2026) menunjukkan Kawasan Wisata Kota Tua telah kembali beraksi normal. Pengunjung mulai memadati area ini sejak pukul 08.30 WIB. Lalu lintas di Jalan Kunir nan semula ditutup sementara sekarang juga telah dibuka kembali. Kendaraan sudah dapat melintas di jalan utama menuju area wisata tersebut.
Kota Tua Jakarta merupakan salah satu ikon wisata Ibu Kota. Dahulu, area ini dikenal dengan nama Sunda Kelapa hingga Raden Fatahillah menyerang dan mengganti namanya menjadi Jayakarta. Kemudian, Belanda menginvasi Jayakarta dan mengganti namanya menjadi Batavia pada 4 Maret 1621. Usai Indonesia merdeka, julukan Batavia pun berganti menjadi Jakarta.
Kedatangan bangsa Belanda berkedudukan krusial dalam sejarah terbentuknya Kota Tua. Karena itu, tidak mengherankan jika nuansa unik kolonial Belanda sangat kental di area ini, terutama dari bangunan-bangunan peninggalan dengan arsitektur bergaya Eropa.
Kini, Kota Tua menjadi pusat sejarah dan kebudayaan. Sebagai destinasi wisata, area ini kerap ramai dikunjungi wisatawan. Mereka datang dengan beragam tujuan, seperti mengunjungi museum, berekreasi kuliner, menikmati gedung tua, hingga berpotret ria.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menjadikan Kota Tua sebagai area rendah emisi dan bebas kendaraan bermotor. Hanya transportasi umum seperti TransJakarta nan diperbolehkan berakhir di sekitar area tersebut.
Kebijakan ini menjadi berita baik bagi pengunjung. Selain lebih ramah lingkungan, wisata ke Kota Tua pun terasa lebih nyaman lantaran udara relatif lebih bersih.
Jika berencana mengunjungi Kawasan Kota Tua Jakarta, berikut beberapa lokasi wisata menarik nan bisa didatangi:
1. Museum Fatahillah
Berkunjung ke Kota Tua Jakarta belum komplit tanpa singgah ke Museum Fatahillah. Bangunan ini mempunyai arsitektur nan mirip dengan Istana Dam di Amsterdam.
Museum ini mempunyai nama resmi Museum Sejarah Jakarta. Namun, lantaran berada di Jalan Fatahillah, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Museum Fatahillah. Di dalamnya tersimpan sekitar 23.200 koleksi barang bersejarah, baik original maupun replika, peninggalan Kerajaan Pajajaran dan Tarumanegara.
Di taman belakang museum terdapat belasan prasasti nisan milik orang Belanda. Sementara di dalam museum, visitor dapat memandang ruang pengadilan dan penjara bawah tanah, serta beragam perabot antik seperti keramik dan gerabah.
Di lantai satu, terdapat jendela besar nan langsung menghadap ke alun-alun. Pada masa kolonial, jendela ini digunakan untuk menyaksikan eksekusi balasan meninggal nan dilakukan di tengah alun-alun.
Selain menambah wawasan, visitor juga bisa menyewa sepeda untuk berkeliling area museum. Jika beruntung, visitor dapat memandang burung dara beterbangan di sekitar lapangan.
2. Toko Merah
Toko Merah terletak di jalan samping Sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kali Besar Barat Nomor 107. Bangunan ini mudah dikenali lantaran warna merah mencolok nan mendominasi fasadnya.
Beberapa sumber menyebut Toko Merah sebagai gedung tertua di Kota Tua Jakarta. Pembangunannya dimulai pada 1730. Dulunya, gedung ini menjadi kediaman kalangan elite Belanda sekaligus akademi pelayaran.
Toko Merah juga menjadi saksi sejarah kelam Jakarta, ialah pembantaian etnis Tionghoa alias Geger Pacinan pada 1740. Peristiwa ini membikin gedung tersebut kerap dikaitkan dengan kisah mistis.
Kini, Toko Merah telah dipugar dan dimanfaatkan sebagai ruang pameran serta konferensi. Bagian luarnya sering dijadikan spot foto favorit lantaran warna dan arsitekturnya nan megah bernuansa lawas.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·