Korut Adopsi Kebijakan Baru: Otomatis Luncurkan Nuklir Jika Kim Jong Un Dibunuh

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

 Otomatis Luncurkan Nuklir Jika Kim Jong Un Dibunuh

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

JAKARTA - Korea Utara dilaporkan telah merevisi kebijakan nuklirnya untuk memerintahkan serangan nuklir otomatis jika Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un dibunuh alias dilumpuhkan dalam serangan pihak asing. Perubahan ini diajukan menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap kepemimpinan Iran pada awal perang di akhir Februari 2026.

Menurut laporan The Telegraph, revisi konstitusi tersebut diadopsi selama sesi pertama Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara ke-15 nan diadakan di Pyongyang pada 22 Maret. Rincian perubahan tersebut dibagikan kepada pejabat senior Korea Selatan pada Kamis (7/5/2026) oleh Badan Intelijen Nasional (NIS).

Mekanisme Pembalasan Otomatis

Berdasarkan undang-undang nan direvisi, Kim Jong Un tetap memegang kendali penuh atas persenjataan nuklir negara tersebut. Namun, ketentuan baru sekarang secara resmi mendefinisikan gimana pembalasan bakal dilakukan jika kepemimpinan menjadi sasaran utama.

“Jika sistem komando dan kendali atas pasukan nuklir negara terancam oleh serangan pasukan musuh... serangan nuklir bakal diluncurkan secara otomatis dan segera,” demikian bunyi Pasal 3 nan diperbarui dari undang-undang kebijakan nuklir Korea Utara.

Hal ini terjadi beberapa bulan setelah para pemimpin Iran terkemuka, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei dan beberapa penasihat senior, tewas dalam operasi militer AS-Israel.

Peringatan dari Kasus Iran

Profesor Andrei Lankov dari Universitas Kookmin menilai kebijakan tersebut mungkin sudah ada sebelumnya, tetapi sekarang diberi berat norma nan lebih besar melalui konstitusi. “Iran adalah peringatan bagi mereka. Korea Utara memandang efisiensi luar biasa dari serangan pemenggalan kepala AS-Israel nan melenyapkan kepemimpinan Iran, dan mereka sekarang pasti ketakutan,” ungkapnya.

Tidak seperti Iran, Korea Utara tetap menjadi salah satu negara paling terisolasi, nan membikin operasi intelijen serupa menjadi sangat sulit. Laporan menunjukkan intelijen Israel melacak pemimpin Iran melalui kamera lampau lintas nan diretas, namun strategi ini susah direplikasi di Pyongyang lantaran sistem CCTV nan terbatas dan jaringan internet nan sangat tertutup.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com