Surabaya, CNN Indonesia --
Jumlah korban keracunan diduga akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terus bertambah hingga mencapai 566 orang, per Rabu (2/9).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengungkapkan, jumlah tersebut merupakan campuran dari info pasien sebelumnya ditambah temuan kasus baru.
"531 ditambah 35. Kurang lebih 566 ya," kata Lakhsmie di Sidoarjo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lakhsmie mengatakan, kebanyakan korban memang merupakan santri dan santriwati Pesantren Manbaul Hikam. Namun ada pula siswa 19 lembaga pendidikan di sekitar Tanggulangin nan terdampak.
Mereka mengalami indikasi mual, muntah dan pusing usai mengonsumsi makanan dari SPPG Kalitengah Tanggulangin tersebut, pada Selasa (1/9).
"Sementara nampaknya mual, muntah, pusing itu aja nan paling banyak," ujarnya.
Dari total korban tersebut, sebanyak 88 orang tetap menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit nan telah disiagakan Pemkab Sidoarjo. Lakhsmie menyebut kondisi para pasien saat ini dalam keadaan stabil.
"Secara umum nan opname stabil. Tidak ada nan perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus, enggak ada. Dirawat inap biasa," katanya.
Ia menambahkan, korban nan baru dievakuasi turut disebar ke beberapa akomodasi kesehatan kapabilitas nan tersedia. Yakni RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.
"Rumah sakit umum dan ya kelak tergantung dari kapabilitas di rumah sakit umum. Kemungkinan tadi jika enggak salah di RS Delta Surya juga ada. Nanti kita lihat lagi, kita petakan lagi," ujarnya.
Sementara itu, sejumlah 470 korban nan kondisinya sudah membaik telah diperbolehkan pulang. Menurut Lakhsmie, keputusan pemulangan pasien mempertimbangkan kondisi klinis masing-masing.
"Ya tentunya jika misalnya memang dirasa perlu tetap ada keluhan ya kontrol. Kalau tidak, dengan obat nan sudah diberikan cukup, ya cukup selesai," katanya.
Terkait penanganan, Dinas Kesehatan Sidoarjo menyatakan telah mengaktifkan status krisis kesehatan sejak kasus ini pertama kali mencuat. Penanganan dibagi menjadi dua jalur, ialah lapangan dan rumah sakit.
"Langkah dari Dinkes nan pasti kita, lantaran ini kasusnya cukup massal, nan pertama kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, lantaran di sini perlu ada penanganan di lapangan, kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas. Kemudian untuk nan di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan dengan tenaga kesehatan nan cukup," ujar dia.
"Termasuk juga dari obat-obatan dan sarananya. Dan alhamdulillah tadi malam sudah teratasi, baik dari si pasiennya sudah kondisinya membaik, hanya tinggal sekarang 88 orang nan di beberapa rumah sakit, kurang lebih 9 rumah sakit nan kita siagakan untuk mengatasi kondisi seperti ini," tambahnya.
Di sisi lain, penyebab pasti keracunan massal ini tetap dalam proses investigasi. Dinas Kesehatan telah mengambil sampel muntahan pasien serta bahan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk diuji laboratorium.
Lakhsmie menjelaskan, hasil uji laboratorium tersebut memerlukan waktu sekitar satu minggu. Namun dia menegaskan nan lebih krusial adalah pertimbangan terhadap prosedur operasional standar (SOP) dapur SPPG penyediaan makanan.
"Ya biasanya sih kurang lebih satu minggu. Sebetulnya nan paling krusial adalah bukan hasilnya itu, nan paling krusial adalah sikap kita gimana mengenai jika misalnya memang ini terbukti dari persoalan produk olahannya alias bahannya, itu nan paling penting. SOP-nya dijalankan alias tidak. Kemudian kan ini dari makanan datang sampai dengan dikonsumsi itu kan ada pemisah waktunya, nah ini sudah betul alias tidak. Itu nan perlu kita investigasi dan tentunya bukan dari Dinkes saja. Dari beragam unsur termasuk dari BPOM kelak diturunkan," paparnya.
Sebelumnya Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan pihaknya langsung bergerak ke letak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) usai menerima laporan kejadian keracunan ini.
"Kami juga tadi sudah mendapatkan info langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berakhir operasional," kata Teguh, Rabu awal hari.
Ia merinci SPPG Kalitengah Tanggulangin ini memasok sekitar 2.800 porsi makanan per hari untuk sekolah dan pesantren, dengan sekitar 1.000 porsi di antaranya untuk santri Ponpes Manbaul Hikam.
"Untuk hari ini 2.800. Sekolah dan pesantren. Di pesantren itu ada sekitar 1.000-an, sisanya di luar pesantren, di sekolah," ucap dia.
Teguh menyebut sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk diuji laboratorium.
"Selanjutnya, hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan ya, untuk uji hasil lab," katanya.
Secara paralel, Teguh juga sudah memastikan dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin nan menyuplai MBG ke pesantren itu telah di-suspen sementara oleh BGN pusat pascakejadian.
"Sementara ini lantaran memang sementara disuspen, dari BGN sudah surat turun disuspen sementara," ujarnya.
Mengenai jangka waktu pengehentian sementara operasional SPPG Kalitengah Tanggulangin ini, Teguh mengatakan keputusan akhir menunggu hasil pertimbangan dan uji sampel laboratorium.
"Sampai hasil pertimbangan ya, pertimbangan dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat bakal menimbang apakah disuspennya suspen sementara alias suspen permanen," pungkasnya.
(frd/gil)
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·