Ketika konser “Samsara” Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 berakhir, sebagian besar penonton pulang membawa kesan tentang apa nan mereka lihat di atas panggung. Mereka memandang orkestra mahasiswa memainkan cerita tentang kehidupan, kehilangan, dan penerimaan.
Mereka memandang paduan bunyi dari Universitas Sanata Dharma, koreografi dari siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta, serta puluhan pemain musik nan sukses mengubah lagu-lagu dari The Beatles, Sherina, Isyana Sarasvati, hingga Tchaikovsky menjadi satu cerita nan utuh.
Namun ada perihal lain nan tertinggal setelah lampu auditorium dipadamkan pada Sabtu malam 31 Mei itu.
Konser itu dibangun oleh 119 mahasiswa panitia (di luar mahasiswa musisi dan kolaborator dari Universitas Sanata Dharma dan SMA 3 Yogya) dari puluhan disiplin pengetahuan nan berbeda.
Di kembali panggung itu ada mahasiswa Teknik Nuklir nan mengurus logistik, mahasiswa Farmasi nan mencari sponsor, mahasiswa Arkeologi nan menjadi wakil project manager, mahasiswa Kedokteran Gigi nan mengurus kepanitiaan, hingga mahasiswa Teknologi Informasi nan menangani kebutuhan visual dan publikasi.
Mereka membangun organisasi. Mereka mencari dana. Mereka menjual tiket. Mereka mengelola proyek berbobot ratusan juta rupiah.
Yang menarik, sebagian besar pekerjaan tersebut sebenarnya berada di luar proses imajinatif itu sendiri. Sebelum nada pertama dimainkan, mereka kudu memastikan konser itu bisa hidup terlebih dahulu.
Proposal kudu disusun. Sponsor kudu dicari. Anggaran kudu dihitung. Mitra kudu diyakinkan. Tiket kudu dijual. Semua pekerjaan nan dalam banyak organisasi ahli ditangani oleh divisi-divisi khusus, kudu mereka lakukan sendiri di sela kuliah, praktikum, ujian, dan tugas akademik.
Grand Concert GMCO tahun ini memerlukan biaya sekitar Rp200 juta untuk dapat terselenggara. Bagi sebagian organisasi mahasiswa, nomor itu cukup besar. Namun nan menarik bukanlah nilai anggarannya, melainkan langkah mereka mencapainya. Alih-alih menurunkan standar pagelaran lantaran keterbatasan dana, mereka justru sukses memperoleh support nan melampaui sasaran awal nan mereka susun.
Di satu sisi, kisah itu menunjukkan keahlian luar biasa nan dimiliki para mahasiswa tersebut. Di sisi lain, kisah nan sama juga memunculkan sebuah pertanyaan nan lebih besar.
Mengapa mahasiswa kudu bekerja sekeras itu hanya untuk memastikan sebuah konser mahasiswa dapat berlangsung? Pertanyaan itu membawa kita keluar dari auditorium dan masuk ke persoalan nan lebih luas.
Mahasiswa-mahasiswa GMCO sudah membuktikan bahwa mereka mempunyai keahlian nan tidak kecil. Mereka bisa mengelola proyek berbobot ratusan juta rupiah, memimpin tim lintas disiplin, mencari sponsor, membangun kerjasama antar-kampus, sekaligus menjaga kualitas artistik pagelaran nan mereka buat.
Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka cukup baik. Pertanyaannya adalah seberapa kuat sistem nan menopang mereka.
Perbedaan itu tampak jelas jika kita tengok dalam kehidupan mahasiswa di kampus negara maju.
Di University of California, Los Angeles (UCLA), student government mengelola anggaran tahunan setara ratusan miliar rupiah, bukan untuk aktivitas eksklusif, tetapi untuk memastikan kehidupan kampus melangkah normal.
"Normal" di sana artinya ruang latihan nan tidak perlu diperebutkan, staf nan memang digaji untuk mendukung aktivitas mahasiswa, jaringan alumni nan telah terbangun selama puluhan (ratusan) tahun, serta sumber pendanaan nan relatif stabil.
Mahasiswa di sana tentu juga bekerja keras. Tetapi keras mereka dipakai untuk membikin karya nan lebih baik.
Di GMCO, keras itu dipakai untuk perihal nan berbeda. Sebelum bisa memikirkan kualitas, mereka kudu memikirkan keberlangsungan. Sebelum bisa berlatih, mereka kudu memastikan konsernya bisa hidup.
Energi nan di tempat lain dipakai untuk naik, di sini dipakai untuk sekadar berdiri.
Perbedaan tersebut bukan semata soal semangat alias produktivitas mahasiswa. Ia juga berangkaian dengan kapabilitas lembaga nan menopang mereka.
Pada 2025, total biaya riset nan dikelola seluruh perguruan tinggi Indonesia diperkirakan sekitar Rp8 triliun per tahun. Sebagai perbandingan, University of Wisconsin–Madison sendiri menghabiskan sekitar Rp31 triliun untuk penelitian dalam satu tahun. Sementara Stanford University mempunyai biaya kekal nan nilainya mencapai sekitar Rp600 triliun.
Angka-angka tersebut tidak otomatis menghasilkan mahasiswa nan lebih berbakat. Namun angka-angka itu menentukan seberapa besar support nan tersedia ketika sebuah talenta mau tumbuh.
Yang mengusik dari kisah GMCO adalah realita bahwa mereka sudah melakukan nyaris semua nan bisa dilakukan. Mereka belajar. Mereka berorganisasi. Mereka mencari sponsor. Mereka mengelola proyek. Mereka membangun kerjasama lintas kampus, melibatkan paduan bunyi dari Universitas Sanata Dharma, koreografi dari SMAN 3 Yogyakarta. Mereka menciptakan pagelaran nan kompleks. Mereka apalagi sukses melampaui sasaran pendanaan nan mereka susun sendiri.
Sulit meminta lebih banyak lagi dari mereka.
Maka pertanyaan nan tersisa setelah konser selesai bukan lagi tentang keahlian mahasiswa-mahasiswa ini. Pertanyaannya adalah tentang semua pihak nan semestinya berdiri di belakang mereka, tapi belum sepenuhnya ada.
Tentang Indonesia nan pendapatan per kapitanya sekitar Rp81 juta per tahun; hanya sepertiga Malaysia dan sekitar satu per delapan belas Amerika Serikat nan telah mencapai Rp1,44 miliar per tahun.
Tentang bumi upaya nan tetap menganggap sponsorship aktivitas mahasiswa sebagai charity, bukan investasi.
Tentang jaringan alumni.
Yang membikin haru dari Grand Concert GMCO bukanlah realita bahwa mereka sukses membikin konser. nan membikin haru adalah kesadaran bahwa mereka sudah memberikan nyaris semua nan mereka miliki untuk mewujudkannya. Mereka sudah berlari ke sana-kemari sekuat-kuatnya, sejauh-jauhnya.
Dan ketika memandang itu, susah untuk tidak bertanya: jika anak-anak nan sudah sukses masuk ke UGM pun tetap kudu berlari sejauh ini, seberapa jauh jalan nan kudu ditempuh oleh mereka nan tumbuh di 4.000-an kampus lain di Indonesia, nan tidak punya nama besar untuk membuka pintu, tidak punya jaringan alumni untuk mengetuk sponsor, dan tidak punya panggung untuk membuktikan bahwa mereka pun layak?
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·