Kondisi Warteg di Jakarta Sudah Berubah Total, Pedagang 'Nangis Darah'

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang warteg sekarang menghadapi kondisi dilematis, di mana jumlah pembeli makin berkurang hingga nilai bahan makanan semakin naik. Beberapa pedagang warteg di Senen, Jakarta Pusat mengungkapkan kondisi ini lebih parah dibandingkan tahun lalu.

Amirah contohnya, Dia mengaku sedih lantaran warteg sekarang tak lagi sejaya dahulu, di mana dulu menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk mencari makanan nan terjangkau.

"Sudah beda lah pokoknya, dulu jual daging sapi, sayam, cumi-cumi dan udang tetap banyak peminatnya, sekarang sudah enggak, lantaran orang-orang sudah kurangi beli lauk nan agak mahal, rasanya jika begini mau nangis saja, penghasilan enggak dapat seberapa, tapi modalnya besar," kata Amirah saat ditemui CNBC Indonesia, Sabtu (30/5/2026).

Dahulu, penghasilan nan Dia dapat bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta perhari. Kini, Ia kesulitan untuk mendapat Rp1 juta.

"Dulu waktu tetap ramai, mungkin bisa dapat Rp5 juta, sekarang mau dapat Rp500.000 saja separuh mati," terangnya.

Apalagi dengan kenaikan nilai bahan makanan, Ia mengaku makin sedih lantaran modal nan kudu disiapkan makin besar.

Pedagang Warung Tegal (Warteg) memajang masakannya ditengah nilai plastik mengalami kenaikan di Jakarta, Selasa (5/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Pedagang Warung Tegal (Warteg) memajang masakannya ditengah nilai plastik mengalami kenaikan di Jakarta, Selasa (5/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

"Sekarang contoh minyak goreng, saya pakai nan Sunco saja, 1 liternya bisa Rp42.000, belum cabe rawit nan sekarang bisa Rp70.000, modalnya sudah berapa tuh, tapi penghasilan makin seret, sedih sih saya lama-lama," ujarnya.

Begitu juga Surono, pedagang warteg lainnya mengungkapkan omzet sudah turun 35%. Bahkan kini, lauk seperti daging sapi sudah jarang Dia jual, lantaran peminatnya sudah berkurang.

"Kalau dibilang normal, sudah enggak sih, turun, ada kali 35% turunnya, sedih sih jika diingat-ingat, jauh banget kondisinya sama dulu," kata Surono.

Dia berambisi pemerintah bisa turun tangan, terutama untuk menstabilkan harga-harga pangan seperti minyak goreng dan cabai.

"Ya mau berambisi bagaimana, harga-harga bahan makanan tetap tinggi, minyak goreng contohnya, nan merek biasa-biasa saja sudah Rp20.000-an. Plastik apalagi ini, nan cerah dulu Rp10.000 tetap dapat, sekarang ya kudu keluarin Rp16.000," ujarnya.

(chd/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News