Komunitas Yahudi Progresif di New York Protes Israel, Dukung Palestina

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Komunitas Yahudi Progresif di New York Protes Israel, Dukung Palestina Polisi menangkap seorang demonstran Yahudi ultra-Ortodoks nan mendukung Palestina di dekat aktivitas Met Gala di Museum Seni Metropolitan pada 6 Mei 2024 di New York( Charly TRIBALLEAU / AFP)

KETEGANGAN terjadi antara komunitas Yahudi progresif di Amerika Serikat dan Israel. Kehadiran Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, berbareng sejumlah politisi sayap kanan dalam Parade Hari Israel tahunan di Kota New York, Amerika Serikat. Saat Smotrich berasosiasi dalam iring-iringan di Fifth Avenue, dia disambut dengan teriakan "memalukan" dan "penjahat perang" nan menggema dari barisan demonstran nan menentang kehadirannya. Mereka menentang genosida terhadap Palestina di Gaza.

Penolakan dari Kalangan Progresif

Parade Hari Israel di Fifth Avenue secara historis merupakan simbol kebanggaan, namun belakangan ini terus menuai kritik. Sebagian kalangan Yahudi Amerika memilih menjaga jarak dari kebijakan pemerintah Israel nan dianggap semakin ekstrem. Tahun ini, kehadiran tokoh-tokoh kunci sayap kanan dianggap sebagai provokasi bagi mereka nan menuntut keadilan bagi Palestina.

Wali Kota New York, Zohran Mamdani, secara definitif menepati janji kampanyenya dengan tidak menghadiri parade tersebut. Langkah ini mendapat apresiasi luas dari organisasi seperti Israelis for Peace dan Jews for Racial & Economic Justice (JFREJ).

Pernyataan Bersama JFREJ:
"Parade nan menampilkan politisi pendukung genosida bukanlah seremoni identitas Yahudi. Kami berterima kasih Wali Kota New York memilih untuk tidak hadir."

Respons Bezalel Smotrich

Meski menghadapi gelombang penolakan, Smotrich tetap teguh pada posisinya. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Israel dan diaspora dunia berkarakter eksistensial. "Negara Israel adalah rumah bagi seluruh bangsa Yahudi. Keamanan orang Yahudi di seluruh bumi berjuntai pada kekuatan Negara Israel," ujarnya sebagaimana dikutip dari Al Jazeera (14/3/2026).

Namun, narasi ini justru memicu frustrasi di kalangan aktivis Jewish Voice for Peace di AS dan Na’amod di Inggris. Mereka menilai politisi Israel sering kali "menyandera" identitas Yahudi untuk membenarkan pendudukan di Tepi Barat dan tindakan militer di Gaza nan bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.

Profil Diaspora Israel di New York

Kota New York merupakan rumah bagi diaspora Israel terbesar di luar negeri, dengan populasi mencapai lebih dari 200.000 jiwa. Komunitas ini mempunyai karakter unik nan membedakannya dari Yahudi Amerika pada umumnya:

  • Identitas Budaya: Penggunaan bahasa Ibrani nan dominan dan budaya kuliner Levant (seperti falafel dengan amba dan zhug).
  • Sentra Ekonomi: Dominasi di Diamond District (Jalan 47) Manhattan, industri startup teknologi, dan sektor restoran.
  • Konsentrasi Wilayah: Tersebar di Little Israel (Midtown), Great Neck di Long Island, serta Flatbush dan Midwood di Brooklyn.

Migrasi penduduk Israel dan organisasi Yahudi ke New York terjadi dalam beberapa gelombang besar, mulai dari pasca-pendirian negara pada 1948, pasca-Perang Enam Hari 1967, hingga arus ahli muda di era modern. Belakangan setelah serangan militer Israel ke Palestina dan genosida di Gaza, sejumlah organisasi Yahudi nan pro-Palestina menyuarakan penolakan atas perang dan kekejaman Israel. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia