Pemerintah mendorong pemanfaatan batu bara tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga diolah menjadi produk turunan berbobot tambah, salah satunya metanol.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, mengatakan pemerintah mendukung langkah tersebut, nan salah satunya telah dimulai anak upaya PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Ia mencontohkan China nan telah mengembangkan pemanfaatan batu bara, dengan sekitar 30 persen dari total pemanfaatan batu bara di negara itu diarahkan untuk menghasilkan produk turunan.
“Sangat kita support, lantaran memang jika kita berbincang misalnya seperti China, dari sekian banyak ribuan...sekian miliar mereka memanfaatkan batu bara, itu kurang lebih 30 persen mereka manfaatkan untuk kepada produk,” kata Todotua di Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).
Menurutnya, pemanfaatan batu bara di Indonesia saat ini tetap didominasi untuk kebutuhan energi. Karena itu, pemerintah mendorong proses gasifikasi agar batu bara dapat diolah menjadi produk turunan.
“Dia kan jika apa dari batu bara menjadi synthetic gas, kemudian synthetic metanol, dan kemudian kelak ujungnya bakal DME (dimethyl ether),” jelas Todotua.
Ia menambahkan, metanol juga dibutuhkan untuk mendukung program bahan bakar nabati (biofuel), termasuk penerapan B50.
Namun, produksi metanol dalam negeri saat ini baru berasal dari satu pabrik di Kalimantan Timur dengan kapabilitas sekitar 660 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan nasional tetap kekurangan pasokan hingga nyaris 2 juta ton.
Kebutuhan tersebut diperkirakan bakal semakin meningkat seiring penerapan B50, dengan proyeksi kebutuhan metanol mencapai sekitar 2,5 juta hingga 3 juta ton, sehingga diperlukan tambahan pasokan dari dalam negeri.
Selama ini, metanol diproduksi menggunakan gas sebagai bahan baku, namun kesiapan pasokan gas domestik tetap terbatas. Salah satu sumber gas nan dapat menopang kebutuhan tersebut berada di Blok Masela. Karena itu, pemerintah memandang gasifikasi batu bara sebagai salah satu pengganti untuk memenuhi kebutuhan metanol nasional.
“Gasifikasi daripada coal ini memang juga sangat kita butuhkan. Jadi kerangka nan dilakukan sekarang oleh Bumi dalam perihal ini masuk kepada itu, kita sangat support ya kan dan kita harapkan itu bisa segera terealisasi," ujarnya.
Proyek Batu Bara Jadi DME Masih Dikaji
Di sisi lain, Todotua mengatakan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) nan sebelumnya digagas pemerintah tetap dalam tahap penjajakan.
Ia menyebut belum ada info terbaru mengenai penanammodal nan telah memastikan diri masuk ke proyek tersebut, mengingat pembangunan industri DME memerlukan kalkulasi nan lebih kompleks lantaran kudu mempertimbangkan industri penyerap produknya.
Selain persoalan keekonomian proyek, teknologi juga menjadi salah satu aspek nan tetap jadi perhatian. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebelumnya tengah menjajaki penyediaan teknologi untuk pengembangan DME dan tetap mencari mitra teknologi guna menyukseskan agenda gasifikasi batu bara tersebut.
Todotua menyebut China dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia lantaran negara itu sudah lebih maju dalam mengembangkan industri DME.
“Masih ada beberapa (penjajakan), tetapi DME ini banyak player di China nan sudah advanced masuk ke sana. Ini tetap penjajakan,” pungkasnya
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·