Komodifikasi Harapan dalam Logika Ekonomi Politik di Media Sosial

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi media sosial. Foto: Freepik

Keterbatasan lapangan kerja umum di Indonesia disinyalir turut membentuk langkah banyak orang memandang media sosial saat ini. Kebutuhan mendesak mengenai lapangan pekerjaan di Indonesia beberapa kali menjadi anekdot di media sosial. Hal ini menjadi masuk logika lantaran masyarakat semakin terhimpit dengan kondisi ekonomi negeri.

Maka saat ini, platform digital tidak lagi dipakai sebatas hiburan, mencari info dan media percakapan. Bagi sebagian orang, media sosial mulai diperlakukan sebagai jalan untuk memperoleh penghasilan tambahan, membangun upaya kecil, menjual jasa, menjadi kreator, alias masuk ke bumi influencer.

BPS mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen, alias sebesar 7,28 juta orang (BPS, 2025). Data ini memberi konteks kenapa kesempatan menjadi kreator, affiliate marketer, alias pelaku upaya berbasis media sosial terasa menarik bagi banyak orang.

Persaingan upaya di media sosial nan semakin ketat kemudian menumbuhkan kejadian jasa baru, ialah produk modul online. Sebagian besar modul nan ditawarkan di media sosial tetap seputar langkah menjadi influencer, meningkatkan engagement, membangun brand, menyusun rate card, alias membikin konten menjadi FYP (trending).

Tren ini tidak muncul sebagai kejadian nan berdiri sendiri. Produk seperti ini datang ketika banyak orang mencari kesempatan kerja nan lebih fleksibel, murah untuk dimulai, dan dapat dijalankan dari perangkat pribadi. APJII mencatat jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta orang, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen (APJII, 2024).

Ilustrasi internet. Foto: NicoElNino/Shutterstock

DataReportal juga mencatat laporan digital 2025 untuk Indonesia nan menggambarkan besarnya ekosistem digital nasional (Kemp, 2025). Besarnya jumlah pengguna internet dan media sosial membikin modul tentang konten, engagement, dan monetisasi mempunyai pasar nan luas.

Dalam kajian pengetahuan komunikasi, kejadian ini berangkaian dengan konsep produksi pesan, teknik persuasi, relasi audiens, dan pembentukan kepercayaan. Modul tentang optimasi IG Reels, strategi TikTok, alias penggunaan Meta Business Suite pada dasarnya mengajarkan langkah menyusun pesan digital agar memperoleh perhatian audiens dan terbaca oleh sistem platform.

Handarkho dan Arifin (2025) menunjukkan bahwa social experience, content quality, dan endorser credibility berperan dalam strategi celebrity endorsement pada konteks social commerce di Indonesia. Temuan tersebut menjelaskan kenapa selama ini kualitas konten, pengalaman sosial, dan kredibilitas figur menjadi aset komunikasi nan mempunyai nilai ekonomi.

Namun, formula tersebut tidak selalu bekerja secara ideal dalam ekonomi media sosial saat ini. Dalam pembelian produk digital, seperti modul online, calon pembeli tidak selalu mengambil keputusan melalui pemeriksaan mendalam terhadap rekam jejak penjual.

Kajian perilaku konsumen digital menunjukkan bahwa keputusan pembelian online kerap dipengaruhi oleh kredibilitas sumber, testimoni, ulasan pengguna, daya tarik komunikator, serta persepsi skill dan kepercayaan terhadap pemberi pesan (Ismagilova et al., 2020; Weismueller et al., 2020; Fernandes et al., 2022). Karena itu, iklan modul nan menampilkan cerita personal, testimoni singkat, visual nan menarik, alias narasi perubahan hidup dapat terasa meyakinkan, meskipun bukti keberhasilannya tidak selalu lengkap.

Ilustrasi bekerja. Foto: Freepik

Elaboration likelihood model menjelaskan bahwa orang dapat memproses pesan melalui jalur sentral alias jalur periferal (Petty & Cacioppo, 1986).

Ketika calon pembeli tidak mempunyai waktu, literasi, alias daya untuk memeriksa klaim penjual modul, mereka dapat terpengaruh oleh isyarat periferal, seperti jumlah pengikut, langkah bercerita, testimoni, tampilan profesional, dan janji hasil cepat.

Di titik ini, pembelian modul tidak selalu didorong oleh pertimbangan logis atas kualitas materi. Pembelian dapat terjadi lantaran iklan memberi kesan bahwa penjual memahami kekhawatiran audiens. Jika meminjam kacamata ekonomi politik komunikasi, persoalan utamanya mungkin terletak pada struktur relasi kuasa platform.

Srnicek (2017) menjelaskan bahwa platform bekerja sebagai model upaya nan bertumpu pada pemanfaatan info organik dari pengguna. Instagram, TikTok, X, dan platform sejenis tidak dapat dipahami hanya sebagai saluran komunikasi.

Platform tersebut menjadi prasarana nan mengatur arah atensi audiens. Algoritma mencoba menentukan konten nan muncul dan perilaku pengguna nan dianggap punya nilai jual. Tingginya engagement pada iklan modul lahir dari kebutuhan untuk memahami patokan nan terus berubah, padahal patokan itu dikendalikan oleh pemilik platform.

Ilustrasi media sosial. Foto: Shutterstock

Fuchs (2021) memandang media sosial melalui relasi kepemilikan, kekuasaan, dan kelas. Dalam konteks ini, pembuat dan UMKM membikin produk komunikasi nyaris setiap hari. Aktivitas mereka berputar pada pembuatan video, membalas komentar, melakukan siaran langsung, membaca insight, mengikuti tren audio, dan mengatur content plan.

Aktivitas tersebut menghasilkan data, trafik, dan perhatian nan berbobot bagi platform. Nilai ini terlihat dari model upaya platform yang sangat berjuntai pada iklan. Meta, pemilik Facebook, Instagram, dan WA melaporkan pendapatan tahun penuh 2025 sebesar 200,97 miliar dolar AS, dengan iklan sebagai sumber pendapatan utama.

Meta juga mencatat family daily active people mencapai 3,58 miliar pada Desember 2025, sementara ad impressions di seluruh Family of Apps naik 12 persen sepanjang 2025 (Meta, 2026).

Dalam konteks Indonesia, laporan e-Conomy SEA 2025 menyebut ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mendekati GMV 100 miliar dolar AS pada 2025, didorong antara lain oleh video commerce, media digital, jasa finansial digital, dan mengambil AI (Google, Temasek, & Bain, 2025).

Konsep komodifikasi aspirasi digital dapat dipakai untuk membaca kejadian ini. Perlu diketahui bahwa nan dijual dalam modul tidak sebatas pengetahuan teknis tentang konten, tetapi aspirasi untuk menjadi terlihat, dipercaya, naik kelas, dan memperoleh pendapatan dari media sosial.

Ilustrasi influencer. Foto: Shutterstock

Grand View Research memperkirakan pasar influencer marketing platform di Indonesia dapat mencapai 2,249,8 juta dolar AS pada 2030, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan 29,6 persen dari 2025 sampai 2030 (Grand View Research, 2024). Data ini tidak membuktikan secara langsung nilai penjualan modul online, tetapi menunjukkan bahwa influencer marketing bergerak menjadi industri nan semakin terukur.

Isu ini krusial bagi pengetahuan komunikasi lantaran menunjukkan bahwa audiens telah berubah menjadi pengikut, pemberi engagement, pembeli, pemberi testimoni, dan sumber data. Kita menjadi sadar bahwa keberhasilan komunikasi digital tidak sepenuhnya ditentukan oleh produktivitas individu.

Keberhasilan itu dipengaruhi oleh kepemilikan platform, kreasi algoritma, pengelolaan info audiens, dan kejuaraan untuk memperoleh perhatian. Modul digital nan berseliweran di media sosial memang dapat membantu pelaku upaya untuk berkembang.

Namun, kewaspadaan dan literasi digital tetap perlu diperkuat agar pelaku upaya tidak terjebak pada capaian statistik semu. Mengejar FYP, jumlah like, dan peningkatan followers tidak boleh menggantikan kualitas produk, konsistensi pelayanan, edukasi audiens, dan kepercayaan jangka panjang.

Dalam ekonomi platform media sosial, terkadang menjadi terlihat memang penting. Namun, terlihat tanpa nilai nan jelas hanya membikin pelaku upaya sibuk mengikuti algoritma tanpa membangun fondasi upaya nan kuat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan