Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti adanya perbedaan jalur komunikasi antara kereta jarak jauh (KA) dan KRL dalam kejadian KA Argo Bromo Anggrek nan menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada April lalu. Hal itu dinilai menjadi salah satu aspek nan menyebabkan keterlambatan penanganan.
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, menjelaskan terdapat jarak komunikasi lantaran laporan kecelakaan dari KRL terlebih dulu diteruskan ke pengendali wilayah berbeda sebelum info sampai ke pengendali KA Argo Bromo Anggrek.
“Yang kedua, memang ketika diberikan komunikasi dari PK Timur itu ada jarak lantaran ada pertama dari Commuter Line nan melaporkan terjadi tabrakan itu ke stasiun, ke pengendali Selatan, Pak. Ini juga sementara nan Argo Bromo Anggrek ini kan ada di pengendali Timur, Pak. Iya, itu dua orang pengendali nan berbeda,” kata Soerjanto dalam rapat berbareng Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5).
Menurut dia, kondisi tersebut membikin proses komunikasi menjadi lebih panjang. Sebab, pengendali Selatan kudu lebih dulu menyampaikan info kepada Chief sebelum diteruskan ke PK Timur untuk menghubungi masinis.
“Tapi komunikasi nan terjadi di KRL di Timur itu dilakukan oleh PK Selatan. Nah, ini nan membikin jarak agak terlalu lama lantaran PK Selatan kudu menunjukkan kepada Chief, Chief menunjukkan kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya. Ini nan juga perlu ada perbaikan, Pak,” ujarnya.
KNKT pun meminta adanya pembenahan sistem komunikasi untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.
“Iya. Ini ada jarak waktu juga. Jadi di sini salah satu perihal untuk menanggulangi kecelakaan ini adalah sistem komunikasi juga kudu diperbaikin, Pak,” ucap Soerjanto.
Selain persoalan komunikasi, KNKT juga menyoroti gangguan pada sinyal bantu nan terdistraksi sinar dari lingkungan sekitar rel, seperti pasar dan perumahan. Kondisi itu disebut membikin masinis dan asisten masinis kesulitan memandang sinyal.
“Pertama, sinyal bantu tadi nan terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa memandang sinyal bantu dengan baik, itu juga jaraknya sekitar dari tabrakan itu dari dengan penampakan 200 meter di muka sinyal bantu itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut. Tapi lantaran ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa memandang dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi, Pak,” kata dia.
Soerjanto juga mengungkap adanya masalah pada sistem sinyal di Bekasi nan tidak bisa mendeteksi keberadaan rangkaian KRL di Bekasi Timur saat kejadian terjadi.
“Jadi salah satu penyebabnya adalah selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi nan tidak bisa mendeteksi adanya 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi nan unsafe condition di kondisi itu, Pak. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang nan ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. nan ketiga adalah masalah komunikasi, Pak,” tutur dia.
Adapun kecelakaan bermulai dari sebuah Taksi Green SM tertabrak KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur.
Akibat kecelakaan itu, KRL nan ditabrak KA Argo Bromo kudu berakhir di Stasiun Bekasi Timur. Akibatnya, 16 orang wanita meninggal dunia.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·