Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus mendalami penyebab kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur. Salah satu aspek nan sekarang disorot adalah sistem persinyalan.
Humas KNKT, Arif, mengatakan tim investigasi telah diterjunkan sejak malam kejadian untuk mengumpulkan info di lapangan.
“Sejak malam kejadian hingga hari ini KNKT sudah menurunkan 5 investigator perkeretaapian. Ketua KNKT juga sejak kemarin aktif memantau perkembangan di lapangan. Untuk perkembangan investigasi, sampai sekarang belum ada info signifikan nan bisa kami sampaikan ke publik,” ujar Arif saat dihubungi, Kamis (30/4).
Terkait rumor gangguan sinyal nan ramai dibahas, KNKT memastikan perihal tersebut masuk dalam aspek nan sedang ditelusuri.
“Persinyalan juga salah satu aspek nan sedang didalami,” lanjut dia.
Diketahui, kecelakaan terjadi pada Senin (27/4) malam dan menewaskan 16 orang serta melukai puluhan penumpang. Peristiwa bermulai dari sebuah taksi nan mogok di perlintasan sebidang di area Ampera, Bekasi Timur, akibat gangguan listrik dan kemudian tertabrak KRL arah Jakarta.
Dampaknya, satu rangkaian KRL tujuan Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu proses pemindahan taksi tersebut.
Dalam kondisi tersebut, rangkaian KRL nan tertahan itu kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Masinis Argo Bromo Soroti Sinyal Eror
Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandi, sebelumnya mengaku terkejut atas kejadian tersebut. Ia apalagi menduga adanya gangguan pada sistem sinyal sebelum tabrakan terjadi.
“Sama, jika syok saya juga syok,” ucap Nofiandi sebagaimana dalam tayangan di YouTube Trainspotter ID sesaat setelah kejadian.
“Alhamdulillah, penumpang KA Bromo Anggrek relatif aman. Justru nan terdampak adalah penumpang KRL di bagian paling belakang,” sambungnya.
Ia menyebut, indikasi gangguan sinyal sempat terlihat sebelum kejadian.
“Sepertinya ada sinyal nan eror,” ujar Nofiandi.
Menurut dia, kondisi sinyal nan dilihatnya tidak sesuai dengan urutan normal.
“Tadi sudah ada info dari PK (pusat kendali), tapi saya belum sepenuhnya copy (menerima info tersebut), sudah keburu sinyalnya merah,” paparnya.
“Dibilang mendadak juga tidak. Seharusnya (sinyal) tidak bisa merah, lantaran dari Bekasi sinyalnya hijau (urutannya: hijau, kuning, merah). Secara koneksi, jika di sana hijau, di sini maksimal kuning, tidak bisa langsung merah,” lanjutnya.
Saat itu, kata dia, kereta nan dikemudikannya melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
“Kecepatan lumayan, sekitar 110 km/jam,” jelasnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·