Klub Lari di Bali Soal Dugaan Diskriminasi ke WNI: Kami Minta Maaf, Sistem Eror

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Ilustrasi lari. Foto: Tobias SCHWARZ / AFP

Komunitas Entourage akhirnya buka bunyi setelah menuai sorotan mengenai dugaan diskriminasi terhadap penduduk Indonesia dalam sejumlah aktivitas lari nan mereka selenggarakan di Bali.

Melalui pernyataan resminya, Entourage menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun nan merasa tersinggung alias dirugikan.

"Kami mau menyampaikan permintaan maaf nan sebesar-besarnya kepada semua pihak nan merasa tersinggung alias terluka. Kami tidak pernah bermaksud bersikap tidak hormat ataupun melakukan diskriminasi terhadap siapa pun," kata Komunitas Entourage dalam pernyataan resminya, Jumat (24/7).

Entourage menjelaskan bahwa organisasi tersebut awalnya dibentuk sebagai wadah bagi para digital nomad di Bali agar dapat saling terhubung dan mengikuti beragam aktivitas berbareng selama berada di Pulau Dewata.

Menurut mereka, status sebagai digital nomad tidak ditentukan oleh kewarganegaraan.

"Komunitas kami beranggotakan orang-orang dari beragam negara, termasuk Indonesia," ucapnya.

Mereka mengakui bahwa beberapa aktivitas memang terbuka dan cuma-cuma untuk umum, sementara aktivitas lainnya mempunyai persyaratan peserta nan disesuaikan dengan tujuan acara. Sebagai contoh, ada aktivitas nan diperuntukkan unik bagi digital nomad, sementara aktivitas lain seperti jalan santuy wanita dan lokakarya hanya ditujukan bagi peserta perempuan.

Entourage juga menyebut bahwa seluruh aktivitas lari mereka selama ini terbuka untuk semua orang tanpa memerlukan pendaftaran. Hanya saja, aktivitas *Silent Disco Run* nan digelar pekan lampau menerapkan sistem tiket lantaran keterbatasan jumlah. Mereka mengeklaim peserta asal Indonesia menjadi golongan terbesar dalam aktivitas tersebut.

"Dalam aktivitas tersebut, peserta asal Indonesia merupakan golongan terbesar, dengan nyaris 25 persen dari total tiket nan terjual," katanya.

Kesalahan Sistem

Meski demikian, Entourage mengakui telah melakukan kesalahan dalam sistem persetujuan otomatis untuk grup WA dan sejumlah aktivitas non-lari.

"Saat berupaya menciptakan ruang bagi para digital nomad untuk saling bertemu, sistem tersebut justru menimbulkan bias sehingga sebagian, meski tidak semua, pengguna nomor telepon Indonesia (+62) ditolak secara keliru," jelasnya.

Entourage menegaskan tujuan mereka sejak awal adalah membangun organisasi nan inklusif dan memberikan kontribusi positif bagi Bali, termasuk melalui kerja sama rutin dengan pelaku upaya lokal dan aktivitas amal.

Sebagai corak tanggung jawab atas kejadian tersebut, Entourage mengumumkan penghentian sementara seluruh aktivitas dan aktivitas komunitas.

"Kami memutuskan menghentikan sementara seluruh aktivitas dan aktivitas komunitas. Kami bertanggung jawab penuh atas apa nan telah terjadi dan berkomitmen melakukan perubahan nyata agar perihal serupa tidak terulang di masa mendatang," ujarnya.

instagram embed

Sebelumnya, event lari di Bali nan melarang WNI untuk ikut berperan-serta tengah disorot publik. Event tersebut digelar oleh Entourage Bali nan digawangi dua orang WNA asal Belanda.

Dalam keterangan Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, termuat bahwa WNA itu teridentifikasi berinisial JAS (35), pemegang Izin Tinggal Terbatas (ITAS) untuk bekerja, dan berinisial HQV (37), pemegang ITAS Investor.

Dua WNA tersebut saat ini sudah tidak berada di Bali. Keduanya telah ke luar negeri pada Kamis (23/7) malam.

"Kedua WNA tersebut diketahui telah meninggalkan wilayah Indonesia pada Rabu, 23 Juli 2026 malam menggunakan maskapai KLM tujuan Singapura melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai," kata Hendarsam, Jumat (24/7).

Karena dua WNA tersebut sudah pergi ke luar negeri, maka penindakan nan dilakukan oleh Imigrasi ialah penangkalan untuk masuk ke Indonesia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan