Dongeng anak kali ini menceritakan Kiko si kelinci nan belajar tentang kejujuran, kerendahan hati, dan keberanian meminta maaf setelah melakukan kesalahan pada temannya.
Dongeng ini tak hanya menarik untuk diceritakan, tapi juga menanamkan nilai-nilai krusial bagi si kecil, Moms. Seperti apa kisahnya? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini, ya!
Dongeng Kiko Si Kelinci nan Jujur
Di sebuah desa mini nan dikelilingi sawah hijau, hiduplah seekor kelinci berjulukan Kiko. Kiko dikenal lincah dan pintar, tetapi dia punya satu kebiasaan buruk: susah mengakui kesalahan.
Suatu pagi, Kiko bermain bola berbareng teman-temannya, ialah Mimi si tupai dan Bobo si kura-kura. Mereka bermain riang di laman dekat rumah Pak Beruang.
“Oper bolanya, Kiko!” teriak Mimi.
Kiko menendang bola sekuat tenaga. Namun bola itu melenceng dan mengenai pot kembang kesayangan Pak Beruang hingga pecah berkeping-keping.
Prang!
Semua terdiam.
“Aduh… potnya pecah,” bisik Bobo pelan.
Kiko panik. Ia takut dimarahi. Ketika Pak Beruang keluar rumah dan bertanya siapa nan memecahkan pot bunganya, Kiko cepat-cepat menunjuk Bobo.
“Sepertinya tadi Bobo nan tidak sengaja menabraknya,” kata Kiko.
Bobo terkejut. “Bukan aku…”
Namun lantaran Bobo sangat pendiam, dia tidak bisa memihak diri dengan baik. Pak Beruang pun meminta Bobo membantu membersihkan pecahan pot itu.
Sepanjang hari, hati Kiko terasa tidak tenang. Ia memandang Bobo duduk sendirian dengan wajah sedih.
“Aku tidak menyangka Anda bakal menyalahkanku,” kata Bobo lirih.
Mendengar itu, telinga Kiko terasa panas. Ia sadar telah melakukan tidak jujur dan melukai emosi temannya.
Malam harinya, Ibu Kelinci memandang Kiko murung.
“Ada apa, Kiko?” tanyanya lembut.
Kiko akhirnya menceritakan semuanya. Ibu Kelinci tersenyum bijak lampau berkata, “Setiap orang bisa melakukan salah. Tetapi orang nan baik adalah orang nan berani jujur dan mau meminta maaf.”
Keesokan paginya, Kiko memberanikan diri mendatangi rumah Pak Beruang dan Bobo.
“Pak Beruang… sebenarnya saya nan memecahkan pot itu,” ucap Kiko dengan kepala tertunduk. “Aku juga minta maaf sudah menyalahkan Bobo.”
Bobo menatap Kiko beberapa saat. Lalu dia tersenyum kecil.
“Terima kasih lantaran sudah jujur,” katanya.
Pak Beruang pun tidak marah. Ia justru mengusap kepala Kiko.
“Mengakui kesalahan memang tidak mudah,” ujar Pak Beruang. “Tapi kejujuran dan kerendahan hati membuatmu menjadi lebih berani.”
Untuk mengganti pot nan pecah, Kiko membantu Pak Beruang merawat kebun selama seminggu. Anehnya, Kiko merasa jauh lebih lega dan senang daripada saat mencoba menyembunyikan kesalahannya.
Sejak hari itu, Kiko belajar bahwa berbicara jujur, rendah hati, dan mau meminta maaf adalah tanda hati nan kuat, bukan tanda kelemahan.
39 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·