Liputan6.com, Jakarta - Di antara deretan gedung pasar di area Sukamakmur, Bogor, Jawa Barat, berdiri sebuah toko berwarna dominan biru muda dengan papan besar bertuliskan “ICEU’S STORE”. Dari depan, toko itu terlihat mencolok dibanding gerai lain di sekitarnya.
Sandal, pakaian, hingga beragam aksesori dipajang terbuka menghadap jalan. Tepat di sisi kanan atas, papan jasa Agen BRILink terpampang besar dengan tulisan “Transfer & Tarik Tunai”, komplit dengan deretan logo jasa perbankan dan pembayaran digital.
Di bagian depan toko dua lantai itu, sebuah meja mini jasa BRILink ditempatkan dekat pintu masuk. Aktivitas jual beli dan transaksi melangkah berdampingan. Warga nan datang untuk tarik tunai alias transfer tampak sekalian melihat-lihat peralatan dagangan nan memenuhi sisi depan toko.
Toko itu milik pasangan Niseu Susila (30) dan Suryani (35). Niseu menceritakan, sebelum menjadi pemasok BRILink, dia dan suaminya mencoba beragam upaya waralaba sederhana.
Setelah itu, mereka mencoba upaya sandal dan sepatu berbasis kemitraan. Dari sana, upaya mereka mulai berkembang mengikuti kebutuhan penduduk sekitar.
Pada 2022, pasangan ini mulai berasosiasi menjadi pemasok BRILink. Hanya sekitar seminggu setelah pengajuan, mereka diterima menjadi pemasok BRILink.
Keputusan membuka jasa itu muncul lantaran memandang kebutuhan penduduk sekitar nan kesulitan mengakses jasa perbankan. Modal awal menjadi pemasok BRILink hanya Rp 20 juta.
“Kami buka BRILink lantaran kebutuhan penduduk sekitar. Karena bank jauh banget dari sini,” kata Niseu saat berbincang dengan Liputan6.com, Sabtu (2/5/2026).
Perjalanan upaya BRILink mereka tidak langsung ramai. Di awal membuka layanan, transaksi harian hanya sekitar lima orang. Perlahan jumlah pengguna meningkat. Setahun kemudian, transaksi mulai ramai hingga sekarang mencapai sekitar 100 transaksi per hari.
Transaksi Rp 5 Miliar
Tiga tahun setelah upaya BRILink berjalan, Niseu dan suami memutuskan membuka dua bagian tambahan di letak lain. Cabang BRILink lain dijalankan dengan konsep berbeda. Salah satu bagian konsentrasi menjual kerudung, sementara bagian lainnya menyediakan kosmetik dan aksesori sederhana seperti jepit rambut.
Kini, dari tiga bagian nan dimiliki, perputaran duit transaksi BRILink mencapai sekitar Rp 5 miliar per bulan. Sementara untuk bagian utamanya saja, perputaran duit mencapai sekitar Rp 2 miliar per bulan.
Jenis transaksi nan paling sering dilakukan penduduk adalah transfer, tarik tunai, dan pembayaran kebutuhan harian seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Untuk jasa tarik tunai, total transaksi per hari apalagi bisa mencapai Rp 100 juta.
Dari setiap transaksi, Niseu memperoleh biaya manajemen nan bervariasi tergantung nominal transaksi. Untuk transfer Rp 1 juta misalnya, biaya manajemen sekitar Rp 5 ribu. Sementara lebih dari Rp 1 juta sekitar Rp 10 ribu.
Menurut Niseu, upaya BRILink sangat membantu kondisi finansial family mereka. Pendapatan dari upaya itu juga ikut mendukung pengembangan upaya lain nan mereka jalankan.
“Alhamdulillah mempengaruhi,” katanya singkat.
Bangun Rumah dan Ibadah Umrah
Dari hasil upaya tersebut, Niseu mengaku sekarang sedang membangun rumah dan sudah bisa berangkat umrah berbareng keluarga.
“Alhamdulillah lagi bangun rumah. Sudah umrah juga,” ujarnya.
Selain pemasukan meningkat, pasangan ini juga mendapat penghargaan berkah upaya BRILink. Pada awal menjadi agen, mereka meraih juara dua kategori transaksi terbanyak untuk pemasok pemula. Setelah itu, mereka kembali memperoleh penghargaan di kategori kelas juragan.
Keduanya juga sukses membuka lapangan pekerjaan baru. Awalnya hanya mempunyai satu karyawan, sekarang total ada lima pekerja nan membantu operasional di tiga bagian mereka.
Untuk menjaga pengguna tetap datang, mereka mengandalkan pendekatan personal. Sebagian besar pengguna berasal dari lingkungan sekitar nan sudah saling mengenal.
Belakangan, mereka mulai mencoba penemuan promosi. Melalui media sosial seperti IG dan TikTok. Meski penjualan online belum maksimal, langkah itu perlahan mulai dijalankan untuk memperluas pasar.
Selain itu, mereka juga membikin program kartu member unik pengguna transaksi BRILink. Setiap pengguna nan datang bakal mendapat satu stempel per hari. Jika stempel terkumpul penuh, pengguna bakal mendapatkan hadiah.
“Awalnya bingkisan kipas angin, setrika. Sekarang ada minyak goreng juga,” kata Suryani sembari tersenyum.
Ke depan, Niseu dan Suryani tetap mau memperbesar upaya dan menambah empat bagian baru. Saat ini, satu letak baru apalagi mulai dipersiapkan di atas lahan milik sendiri di pinggir jalan utama.
“Harapannya bisa lebih besar lagi,” kata Suryani.
Permudah Akses Keuangan Warga
Bagi Dede Irawan (38), keberadaan jasa BRILink di Iceu's Store memudahkan pekerjaan dan kebutuhan usahanya. Sejak 2017, Dede rutin bertransaksi di Iceu’s Store.
Menurutnya, transaksi di Iceu's Store lebih mudah dan praktis dibanding kudu pergi jauh ke bank alias ATM.
“Kalau butuh duit tinggal telepon. Kadang saya transfer dulu, kelak uangnya diambil alias dianterin,” kata Dede.
Sebagian besar transaksi nan dia lakukan berupa tarik tunai dan setor tunai. Untuk kebutuhan lain seperti pembayaran listrik alias transaksi digital, dia memilih menggunakan mobile banking sendiri.
Sebelum ada jasa BRILink di wilayah Sukamakmur, Dede kudu pergi ke Jonggol untuk melakukan setor tunai alias transaksi perbankan lainnya. Perjalanan dari rumahnya menuju Jonggol menyantap waktu sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor. Artinya, perjalanan pulang pergi bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam, belum termasuk antrean di ATM.
“Sudah jauh, antre juga,” katanya sembari tertawa.
Karena itu, kehadiran Iceu’s Store dianggap sangat membantu penduduk sekitar, termasuk dirinya. Selain dekat dari rumah, proses transaksi juga lebih sederhana lantaran sudah saling mengenal.
Hubungan nan sudah terjalin lama membikin transaksi menjadi lebih fleksibel. Dalam kondisi tertentu, Dede apalagi bisa meminta duit tunai lebih dulu sebelum melakukan transfer ketika terkendala sinyal internet.
“Kadang saya bilang, ‘Pak Yani (Suryani) kirimin duit dulu ke rumah, kelak saya transfer jika udah dapat sinyal bagus’,” kata dia.
Menurut Dede, aspek kepercayaan menjadi perihal utama nan membuatnya nyaman bertransaksi di sana. “Udah saling percaya. Dia tahu rumah saya, saya juga tahu keluarganya,” ucapnya.
Dalam satu transaksi, nominal nan diambil Dede bisa mencapai puluhan juta rupiah. Terakhir, dia menarik tunai sekitar Rp 34,6 juta untuk kebutuhan pembayaran usaha.
Dia mengaku bergerak di bagian jual beli hewan dan bibit, sehingga cukup sering memerlukan duit tunai dalam jumlah besar lantaran sebagian transaksi tetap dilakukan secara langsung.
“Kalau pembayaran gede, orang kampung kadang nggak mau transfer, maunya cash,” katanya.
BRILink Jadi “Kantor Kecil” BRI
Bagi BRI Unit Jonggol, keberadaan pemasok BRILink bukan sekadar perpanjangan jasa perbankan, tetapi juga menjadi penghubung utama transaksi finansial masyarakat hingga ke wilayah pelosok desa.
Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi (35) mengatakan, jumlah pemasok BRILink di wilayah Jonggol terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, tercatat ada sekitar 141 pemasok BRILink nan tersebar di wilayah kerja BRI Unit Jonggol.
Menurut Oki, peran pemasok BRILink cukup besar dalam meningkatkan akses jasa finansial masyarakat, terutama di wilayah nan jauh dari instansi bank.
“BRILink itu seumpama instansi kecilnya BRI,” kata Oki.
Keberadaan pemasok BRILink dinilai membantu masyarakat tetap bisa bertransaksi meski jam operasional instansi bank sudah tutup. Selain itu, jasa tersebut juga menjangkau desa-desa nan sebelumnya cukup susah mengakses jasa perbankan secara langsung.
Wilayah kerja BRI Unit Jonggol sendiri mencakup 24 desa di dua kecamatan. Sebagian wilayah apalagi berada di wilayah nan cukup jauh dari pusat jasa perbankan.
“Perannya sangat berpengaruh lantaran sampai ke desa-desa,” ujarnya.
Meski jumlah pemasok terus bertambah, tetap ada beberapa wilayah nan menjadi prioritas pengembangan pemasok BRILink. Salah satunya area Sukamakmur.
Untuk menjadi pemasok BRILink, syarat nan dibutuhkan sebenarnya tidak terlalu rumit. Salah satu ketentuannya adalah jarak antaragen sekitar 500 meter hingga satu kilometer agar penyebaran jasa tetap merata.
Selain itu, calon pemasok juga diwajibkan mempunyai rekening BRI. Setelah pengajuan dilakukan, proses verifikasi dan persetujuan bakal ditangani oleh tim unik nan membidangi jasa BRILink.
“Tergantung mapping juga. Ada bagian unik nan menangani BRILink,” kata Oki.
Di wilayah Jonggol, transaksi nan paling sering dilakukan masyarakat melalui pemasok BRILink tetap didominasi tarik tunai, transfer, dan pembayaran tagihan seperti token listrik.
Layanan pengajuan pinjaman juga sempat menjadi transaksi nan cukup tinggi dilakukan melalui pemasok BRILink. Namun jasa tersebut dihentikan sejak tahun lalu.
Di tengah perkembangan aplikasi pembayaran digital dan mobile banking, pemasok BRILink tetap mempunyai tempat tersendiri di masyarakat Jonggol. Faktor kedekatan sosial dan rasa percaya menjadi argumen utama penduduk tetap memilih bertransaksi melalui agen.
“Orang sini itu rata-rata tetap saling kenal dan percaya,” ujarnya.
Menurut dia, hubungan antara pemasok dan penduduk di Jonggol tidak sekadar hubungan pengguna dan penyedia jasa. Banyak penduduk nan sudah saling mengenal secara individual apalagi mempunyai hubungan family alias kedekatan lingkungan.
Karena itu, transaksi sering kali melangkah lebih fleksibel. Dalam kondisi tertentu, penduduk apalagi bisa meminta support transaksi lebih dulu kepada pemasok sebelum menyelesaikan transfer.
Selain mengandalkan kedekatan sosial, keberadaan mantri BRI di lapangan juga dinilai membantu memperkuat jasa kepada masyarakat. Para mantri aktif mendatangi desa-desa untuk membantu kebutuhan transaksi, pengaduan, hingga pengajuan jasa perbankan.
“Mantri sekarang kayak ojek online. Mereka dekat sama masyarakat,” kata Oki.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·